LOVE YOU

LOVE YOU
Part72


Cristo membelokkan mobilnya ke jalan kecil menuju mansion Raymond.


“Ayo turun,” kata Raymond saat sampai di depan pintu utama.


“Ray, aku...”


“Ayo kita temui mereka Maghda,” paksa Raymond.


“Maghda kita sapa Tuan dan Nyonya Smith sebentar.Bagaimana pun mereka sudah membesarkan dan melindungimu saat kau masih kecil,” kata Cristo.


“Baiklah,” kataku akhirnya.


Benar yang Cristo katakan, ini hanya balas budi.Kulangkahkan kakiku di belakang kedua pria yang saling bersahabat sejak kecil itu hanya untuk menutupi kegugupanku.


Ray membawa kami ke ruang keluarga yang tampak agak berantakan karena banyak barang barang.


“Ma,Pa aku bawa Maghda pulang,” kata Raymond yang sontak membuat Nyonya Smith dan Caroline yang sedang sibuk menoleh ke arah kami.Tuan Smith yang sudah melihat kami dari tadi berdiri dan tersenyum.Cristo menjabat tangannya dan sekedar berbasa basi.


Sampai akhirnya pria blesteran Jawa Inggris itu berjalan ke arahku.Aku hanya tersenyum dan mengangguk hormat.


“Tuan, semoga Anda selalu sehat,” kataku.


“Maghda,kau cantik sekali.Lama tidak bertemu,kau baik baik saja kan Sayang?” tiba tiba pria itu memelukku.


“Seperti yang Anda lihat, saya baik Tuan,” jawabku.


“Panggil aku Papa seperti sebelumnya, aku berharap kau mengerti keadaan kami waktu itu.Maafkan kami ya,” katanya lembut.


“Ya, saya tidak memikirkannya lagi,” jawabku.


“Maghda,Mama kangen.” Tiba tiba Nyonya Smith memelukku.Aku hanya berdiri mematung sementara ibu angkatku itu menangis sambil memelukku.


“Maafkan Mama ya, dulu sebelum kami pergi Mama tidak sanggup menemui dan berbicara padamu.Mama pasti nangis setiap ingin berbicara denganmu. Maafkan kami Maghda.Kami harus menerima hukuman karena kesalahan Ray.Mama...”


“Ma, sudah.Jangan dibahas lagi,Maghda tidak tahu apa apa,” kata Raymond seraya menggamit lengan ibunya.


“Baiklah,ayo bantu mama membereskan barang barang ini.”


Mama Raymond meraih tanganku dan membawaku kepada tumpukan barang yang ada di ruang keluarga.


“Carol, ini bawa pulang untukmu.Ini juga oleh oleh buat Mamimu.” Mama Raymond menyerahkan lima buah paperbag kepada Caroline.


“Thank you so much Mama cantik,” kata Caroline lalu mencium pipi wanita paruh baya itu.


“Sampaikan salamku buat calon ibu mertua Carol,” kata Raymond.


“Ray?” tanya Nyonya Smith.Raymond hanya tersenyum.


“Maghda,jangan memanggilku Nyonya, Nyonya terus.Mama Kinan, dari kecil kau memanggil seperti itu kenapa sekarang berubah jadi Nyonya?”


Mama Raymond menakupkan tangannya di pipiku.


“Ya Ma,” jawabku.Wanita itu tersenyum riang.


“Yang ini biar nanti dibawa sama Caroline ke kamar tamu, ini untuk acara pernikahan.Nanti biar diurus sama dia,” jawab mama Raymond.


“Ya sudah,” kataku lalu meletakkan kembali barang barang yang kupegang.


“Kau boleh ambil satu mana yang kau sukai.Bagaimana kalau gelang safir ini? Sangat cantik di tanganmu.”


Mama Raymond menyodorkan sebuah kotak yang berisi gelang safir yang sangat indah.


“Tidak Ma, ini untuk acara pernikahanku. Ini milik wanita yang akan kunikahi,” Raymond mengambil kotak itu dari tanganku.


“Raymond!” teriak mama Kinan.


“Ma sudahlah,” kataku.


Cristo dan Papa Raymond yang sedang membicarakan sesuatu di sofa sontak menoleh ke arah kami.


Keduanya berdiri dan menghampiri kami.Aku tidak tahu apa yang mereka lihat di wajahku.


Raymond kenapa dia berkata seperti itu,aku sungguh merasa sakit.


“Ada apa Ma?” tanya Alvaro Smith ayah Raymond.


“Bukan apa apa Pa.Kak Cris ayo pulang, obatku tertinggal dan aku mulai merasakan mual.Ma maaf lain waktu Maghda akan berkunjung lagi,” kataku seraya meraih tangan wanita itu.


Matanya berkaca kaca, kuusahakan tersenyum untuk menghapus kekhawatirannya.


“Berapa usia kandunganmu?” tanyanya.


Aku tersentak kaget karena mama Kinan tahu aku sedang mengandung.


“Hampir tiga bulan Ma,aku menginginkan anak ini.Aku akan berusaha membesarkannya dengan kasih sayang seorang ayah dan ibu,” jawabku.


Tiba tiba saja wanita itu menangis dan memelukku.


“Ini semua karena kesalahanku, Maghda Mama akan...”


“Tidak Ma ini sudah ditakdirkan.Maghda pergi dulu,Papa Varo juga jaga kesehatan.Kak Cris, ayo.”


Kuraih tangan Cristo dan meninggalkan mansion itu dengan perasaan tidak karuan.