
Kuhampiri dua orang yang sedang sibuk di dapur dan mengepel lantai di apartemen yang akan kutunggali.
"Bu apa perlu kubantu? aku lagi nganggur," kataku.Ibu Ida tersenyum.
"Sudah selesai Non.Kulkasnya sudah saya isi dengan sayur buah dan kebutuhan lainnya. Nanti kalau sudah selesai makan dimasukkan kulkas saja,tinggal dihangatkan di microwave. Besok saya akan datang lagi, untuk masak," katanya.
"Apa Pak Karim, Bu Ida dan Mbak Murni selalu datang dan pulang?" tanyaku lagi.
"Kami sebenarnya yang mengurusi rumah lama Tuan Raymond.Sejak keluarga Smith pergi ke London,rumah itu terbengkalai. Tuan Ray datang dan mempekerjakan kami untuk mengurus dan merawatnya." kata pak Karim.
"Tapi kenapa Tuan Ray tidak tinggal di sana sekarang? Apa Pak Karim tahu alasannya?" tanyaku.
"Saya tidak tahu, tapi saya pernah melihat Tuan menangis di dalam salah satu kamar di rumah itu saat pertama kali datang untuk tinggal lagi di sini.Sejak itu Tuan Ray tinggal di Hotel dan akhirnya membeli apartemen ini."
"Nona kami harus pergi, tempat ini sudah bisa ditinggali.Kami permisi dulu Nona," kata Mbak Murni.
"Baiklah, terimakasih ya," kataku.Ketiga orang itu pergi.Ray apa yang kau coba sembunyikan dariku.Segera kupindahkan pakaianku dari apartemen yang ditempati Raymond.
Tiba tiba saja aku merasakan sedikit pusing, mungkin beberapa hari ini terlalu banyak yang kupikirkan.Kubuka tirai jendela kamar dan kubaringkan kepalaku di atas kasur yang sangat empuk.Nyaman sekali, di sudut ruangan ada sebuah pot yang diisi dengan bunga sedap malam.Bunga yang dulu sering mama Ray letakkan di kamarku.Mama Amelia, dia sangat sayang dan memanjakan diriku. Ia histeris dan memukuli Raymond saat tahu aku kehilangan keperawananku karenanya.Ia lebih terpukul lagi saat tahu aku dan Ray saling mencintai. Ya aku tahu aku memang kurang pantas untuk anak mereka. Yang kudengar dulu Ray memang dijodohkan dengan anak dari teman papanya Raymond. Aku ingin sekali pergi ke panti, akan kucari tahu asal usulku.Akte kelahiranku jelas menyebutkan nama ayah dan ibuku.Kalau keduanya sudah tidak ada paling tidak aku tahu di mana mereka dimakamkan.
"Maghda,ada apa? Kenapa menangis?" kudengar suara Raymond di dekat telingaku. Kubuka kelopak mataku,jari jarinya yang putih dan panjang terulur menyeka air mataku.
"Bisa kubawa pulang.Kenapa kau menangis?" tanyanya lagi.
"Apa aku boleh pinjam mobilmu?" tanyaku.
"Kau mau ke mana? Akan kuantar," jawab Ray.
"Aku ingin ke panti asuhan, aku ingin tahu di mana mereka menemukanku.Aku ingin mencari orang tuaku."
"Aku sudah melakukannya untukmu,masih ada sedikit informasi.Kalau sudah clear akan kukatakan semuanya padamu," jawab Raymond.
"Aku tidak mau merepotkanmu,aku ingin mencari informasi sendiri.Setelah itu aku akan menemui Han.Aku tidak tahu akan seperti apa.Tapi semua harus kuhadapi sendiri dan kuselesaikan," kataku.Ray mendesah berat.Ia duduk di samping kepalaku.
"Melindungimu adalah tugasku,sebelum aku kembali ke sini, Mama berkali kali berpesan untuk mencarimu.Papa juga berpesan untuk membawamu kembali ke rumah.Aku tidak mau kau disakiti siapapun, mengerti?"
"Aku sudah banyak berhutang pada orang tuamu Kak, Sedari kecil aku menumpang hidup di keluargamu.Tidak sepantasnya sekarang aku merepotkanmu." Kutegakkan tubuhku.Rasa pusing kembali menyerangku.
"Aahh,kepalaku." Ray reflek menoleh ke arahku.
"Maghda,apa kau sakit? Apa yang sakit,apa kau merasa pusing? Ayo tidurlah,akan kubuatkan susu hangat," Ray segera berlari ke dapur dan segera kembali dengan susu hangat di tangannya.Dengan telaten ia menyuapkan sendok demi sendok ke mulutku.