
Januardi menyudahi makan malamnya begitu pun diriku.
“Pi, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan tentang masa kecilku,” kataku.Januardi mengerutkan keningnya.
“Tanyakanlah Lena, selama aku mengetahuinya akan aku katakan,” jawabnya.
“Tentang aku dan Ray Pi, apakah waktu kecil kami dinikahkan?” tanyaku.
Januardi tampak terkejut mendengar pertanyaanku.Antara ragu untuk mengiyakan atau tidak.
“Pi, aku hanya ingin tahu tentang kebenaran itu karena aku tidak bisa mengingatnya.Ray mengatakan kalau saat berumur tujuh tahun dia menikahiku di depan keluarga dan penghulu,” kataku.
“Iya Lena,Ray memang melakukannya. Dan aku adalah salah satu saksi di situ. Maafkan aku yang tidak mampu mencegah Rouhan menikahimu,” jawab Januardi.
Tiba tiba dadaku rasanya bergemuruh, dalam hati aku mengatai diriku sendiri. Wanita macam apa aku, menikah dengan dua orang sekaligus.Berarti yang dikatakan Raymond benar.Kehidupan macam apa yang sebenarnya kujalani.
“Lena..Lena...” Papi menggenggam tanganku.
“Tidak apa Pi, semua sudah terjadi mau bagaimana lagi,” kataku.
“Papi sangat bersalah padamu, aku sangat malu meminta maaf padamu Lena.”
“Sudah Pi, tidak apa.Lena hanya ingin tahu, jadi ke depan Lena bisa memikirkan harus bagaimana,” kataku.
“Maafkan Papi Lena.”
“Tidak perlu minta maaf terus Pi,” kataku.
Kami saling diam untuk beberapa lama, tubuhku gemetar saat dari arah pintu masuk samping kulihat Raymond sedang merangkul pundak Caroline dan duduk di meja tak jauh dari mejaku.Raymond juga tampak terkejut melihatku.
“Ya sudah Pi, sampai di sini saja.Lena hanya ingin menanyakan ini.Terima kasih Papi mau datang dan makan bersamaku.”
Papi tersenyum lalu berdiri dari duduknya.
“Baiklah Lena, jagalah dirimu dan cucuku ya.Kalau masih ada yang mengganjal, hubungi Papi.Kita bisa janjian bertemu lagi,” katanya.
Segera kupanggil pelayan restoran dan kuminta bonnya.
“Sudah dibayar oleh Tuan yang di sana itu Nyonya,” katanya
“Oh,ya sudah.Tolong sampaikan terimakasih padanya,” kataku lalu ke luar dari restoran itu.
Sampai di parkiran aku bertemu dengan Ronal asisten pribadi Raymond.
“Biar saya antar Nona,ini perintah Tuan Rayond,” katanya.
“Aku bawa mobil, tidak perlu mengantarku,” tolakku.
“Biarkan mobilnya di sini,nanti Dani yang membawanya.”
“Terimakasih tapi tidak usah, aku masih ada urusan ke beberapa tempat.Aku tidak mau merepotkan anda,” jawabku lalu masuk ke dalam mobil Bima.Segera kulajukan mobil itu tanpa menunggu Ronal selesai bicara.Aku bergegas kembali ke apartemen Raymond untuk mengambil barang barangku.Ada dua koper besar yang harus segera kubawa pergi.Besok lusa rumah yang kusewa sudah bisa ditempati.Aku berencana menginap di hotel saja selama dua hari ke depan.
“Ini kartu pass Anda Nyonya,” kata resepsionis hotel ramah.
“Terimakasih,” kataku seraya menuju ke arah Lift.
Ini adalah tempat ternyamanku saat ini, aku ingin beristirahat tanpa berfikir terlalu banyak.Ingin kumanjakan diriku tanpa mendapat gangguan dari siapa pun.Segera kuambil ponselku, ada tigapuluh panggilan tak terjawab dari Raymond.Segera kumatikan ponsel dan berendam di bak mandi dengan air hangat.
Kupegangi perutku yang masih rata, tanpa terasa air mataku mengalir dengan deras.
“Aku bahagia dengan kehadiranmu, Sayang.Kau adalah alasanku untuk melanjutkan hidup,” gumamku.
Tanpa terasa sudah lama aku berendam, segera kubilas tubuhku di bawah Shower dan kukenakan kimono handuk. Kukeringkan rambutku sejenak dan kulakukan ritual shalat isya.
Tiba tiba bel pintu hotel berbunyi,siapa batinku.Aku tidak memesan layanan kamar atau apa pun.
Segera kulihat layar monitor mecil di samping pintu.
Tiba tiba tubuhku gemetar, karena yang ada di depan pintu kamar hotel adalah Raymond.Bel kembali berbunyi dan membuatku semakin gugup.Ray memencet bel berkali kali dan aku hanya bisa mematung di balik pintu.