LOVE YOU

LOVE YOU
Part81


Kakek menghampiri kami.Kucium tangan tuanya yang terlihat masih kokoh.


“Maafkan Maghda yang selalu merepotkan Kakek.Maukah Kakek tinggal bersamaku setelah aku menikah nanti?” tanyaku.


Kakek tersenyum dan mengusap rambutku.


“Bagaimana dengan rumah kita? Puluhan orang akan kehilangan pekerjaan kalau Kakek tinggal bersamamu Maghda.Kau yang harus sering datang ke rumah.Mansion kalian tidak jauh dari rumah,kurasa anak nakal itu sudah memperhitungkan jarak rumah kita dengan Mansionnya.Kalau lewat jalan kecil hanya beberapa menit sampai,” kata Kakek,Ray yang mendengarnya segera menghampiri kami.


“Nanti kutunjukkan jalan tikus, naik motor lebih cepat sampai.Bisa lewat jalan yang lebarnya hanya dua meter,” katanya.


“Tuan, makanan sudah siap.Silahkan ajak para tamu makan,” kata Mona yang tiba tiba muncul.


“Baiklah,suruh siapkan kamar tamu atas dan bawah.Cukup kan tujuh delapan kamar,” kata Raymond.Mona mengangguk lalu pergi.


“Ayo,” katanya seraya meraih tanganku.


“Mau ke mana?” tanyaku.


“Bersembunyi,biar mereka makan dengan tenang.Ayo kita makan di balkon berdua saja.Mama terlalu berisik kalau ketemu sama Caroline dan ibunya.Aku ingin menikmati waktuku bersamamu.”


Ray terus menarik tanganku dan membawaku ke balkon yang sudah terdapat sebuah meja makan dua tempat duduk.Tersusun rapi alat makan dengan sebuah lilin merah menyala di tengahnya.


Ray menarik kursi untukku dan aku pun duduk dengan anggun di situ.


“Maghda,aku tidak percaya Kakek mengacaukan rencanaku.Sebenarnya aku berencana membuatmu putus harapan dan memberimu kejutan dengan menculik dan membawamu untuk menikah denganku,” kata Ray seraya mengambilkan roti isi kesukaanku.


“Itu tidak akan terjadi,aku tidak akan putus harapan karena kau menikahi orang lain. Sebenarnya aku berencana untuk mengurus Visa dan tinggal di luar negri selama beberapa tahun. Mungkin sepuluh tahun,” kataku.


“Kau tidak akan ke mana mana,Sayang tidak akan.Aku selalu menempatkan orang untuk mengawasimu.Apa kau pikir aku akan melepasmu?”


Ray bangkit dari duduknya lalu memelukku dari belakang.


“Aku tidak akan melepasmu, mengerti?” Ray mencium lembut pipiku.


“Mengerti,” jawabku seraya mengelus rambutnya.


“Bener kan Pa,anak ini memang perlu dipukul bokongnya.Kakek menunggu kalian dari tadi, eh malah mojok di sini,” kata mama Kinan.


“Ayo ke bawah,Kakek ingin membicarakan sesuatu dengan kita,” kata papa Alvaro seraya menepuk bahu Raymond.


“Biar Mama makan sama Maghda di sini.Pa, tolong panggilkan Caroline dan ibunya ke sini,” kata mama Kinan.


Ray tampak sangat dongkol, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa selain mengikuti papanya pergi.


Beberapa saat kemudian Caroline datang bersama ibunya.Seorang pelayan membawakan dua kursi lagi untuk mereka.


“Maghda, maaf aku tidak bisa mengatakan semuanya karena Ray melarangku.Aku bertengkar hebat dengan suamiku beberapa waktu lalu dan Ray yang nenyelesaikan masalah diantara kami hingga suamiku tidak salah faham lagi.Dan dia memintaku untuk membantunya dan membuatmu berfikir kalau dia akan menikah denganku.Untunglah Mami kecil datang dan langsung menyadari kalau Ray sedang mengerjaimu,” kata Caroline.


“Kalian cukup berhasil,” kataku.


“Setelah kau pergi dengan Cris waktu itu, Mama langsung minta Papa buat introgasi Ray.Tapi ndak ngaku, akhirnya Caroline yang Mama interogasi.Kakek sangat marah saat telpon Papa dan mengatakan akan membatalkan perjanjian dan menikahkan dirimu dengan orang lain. Mama panik Sayang,akhirnya kami ini orang tua yang harus turun tangan,” kata Mama Kinan seraya memeluk pundakku.


“Ray hanya marah dan cemburu pada Rouhan Ma.Aku sudah katakan kalau aku dan Rouhan sudah selesai tapi dia masih saja marah tidak jelas.Setiap kali dia mengingat Rouhan,Ray pasti melampiaskan emosinya,melakukan yang aneh aneh.Aku tahu dia selalu mengirim orang untuk mengikutiku.”


“Sudahlah Sayang, setelah kalian menikah kau akan tinggal bersama Mama.Kau akan lebih sering di rumah, kalau pun mau ke mana mana Mama akan temani.Ray tidak akan curigaan lagi,” kata mama Kinan menenangkanku.


“Oh ya, Tante maaf saya belum memberi salam dari tadi,” kataku.


Maminya Caroline tersenyum, wanita paruh baya itu dari tadi hanya mendengarkan kami bicara tanpa menyela.


“Nggak pa pa ko Sayang, panggil aku Mami Ruly.Kinan ini adik Mami yang paling dekat tapi dulu jarang ketemu karena Papinya Carol pindah pindah tugas ke luar negri.Saat SMA Carol sudah tidak mau ngikuti kami lagi.Jadi dia tinggal bersama kakaknya di JK dan dia kuliah Mode di Milan.”


Mami Ruly meneguk minumannya.


“Makanya saya tidak familiar dengan Carol,” kataku.


Mama Kinan memeluk bahuku untuk kesekian kalinya.Ada perasaan kurang enak saat mataku melihat ke arah pintu.Rupanya Raymond sudah berada di situ,punggungnya menyandar di tembok dengan kedua tangan dilipat di dadanya.