
Beberapa saat kemudian pelayan restoran membawa pesanan kami.
“Minumlah dulu Lena, kau tampak sedikit pucat.Ini juga aku pesan pastry kesukaanmu. Berapa minggu sekali checkup? Kau tidak boleh melewatkannya,” kata Han cemas.
Segera kuminum susu hangat yang tadi kuminta.Lumayan hangat di kerongkongan dan perutku.
“Han makan sedikit pastri ini, mau ya?” kupotong sedikit pastry dan kusuapkan ke mulutnya.
“Lena kau kan tahu aku tidak suka pastry,” tolak Han.
“Baiklah kalau gitu,aku pergi dulu.Terima kasih ya traktirannya.Dibayarin lagi belanjaannya,” kataku lalu berdiri dari tempat dudukku.
“Ya ampun Lena,kau ini pakai ngambek segala.Iya ini aku makan.”
Han mengambil Pastry yang tadi aku potong dan memakannya. Entah kenapa perasaanku sangat gembira melihat ekspresi Han yang sangat lucu saat memakan pastry itu.Ia segera mengambil air mineral di depannya dan meminumnya.Han memang selalu tersedak kalau makan makanan seperti itu.
“Lena, apa kita bisa pacaran lagi? Kita mulai dari awal ya,” pinta Han.Tiba tiba aku ingin tertawa mendengar perkataannya.
“Apa apaan kau ini, mau ngajak aku selingkuh? Aku jadi istrimu saja ditindas sama mami, jadi selingkuhanmu bisa bisa dibawakan clurit,” aku tertawa tergelak melihat ekspresi serius mantan suamiku itu.
“Lena aku serius,tinggallah di rumah yang aku belikan untukmu.Kamu sekarang tinggal di mana?Besok akan kujemput dan membawa barang barangmu ke rumah kita,” mohonnya.
“Han,apa kau sudah tidak waras? Kau sudah menandatangani surat pisah kita,kita tidak boleh sering ketemu apa lagi tinggal serumah.Saat ini aku belum punya tempat tinggal tetap, aku baru ke luar dari rumah sakit.Tapi kau tidak perlu memikirkan itu,toh kita ini bukan siapa siapa lagi.Aku bisa mengurus diriku sendiri,” kataku.
“Nona, Tuan Ray menunggu di parkiran,” tiba tiba Dani datang dari arah belakangku.
“Aku harus pergi Han,terima kasih traktirannya.” Aku segera beranjak dan mengambil belanjaanku.
“Lena, paling tidak berikan aku nomor ponselmu.Kenapa ponselmu selalu mati?”
“Aku tidak membawa ponsel, aku tidak tahu ke mana hilangnya ponselku.Kalau kau ada perlu denganku, cari saja pengacaraku.Dia akan menghubungkannya denganku,” kataku.
“Lena...”
“Lena, aku hanya mencintaimu kau harus tahu itu.”
Segera kubalikkan badanku tanpa menggubris kata katanya.Dani mengikuti di belakangku.
Sampai di tempat parkir tampak Ray sedang berdiri menyandarkan punggungnya di dekat pintu mobilnya yang terbuka.
“Maaf Kak Ray,apa sudah dari tadi?” tanyaku.
“Baru saja, aku baru selesai rapat.Sekarang aku mau bolos kerja untuk berkencan denganmu.” Ray mendorongku masuk ke dalam mobil dan menyuruh Dani menjalankan mobilnya.
“Kau mau membawaku ke mana?” tanyaku.
“Nanti kau akan tahu,hei kau membeli banyak buah” katanya.
“Hanya untuk mengusir rasa mual.Aku juga membeli beberapa kotak susu,” jawabku.
“Kenapa tidak membelikanku juga.Punyaku juga habis sepertinya.”
“Minum ini juga gak pa pa kan, lebih banyak nutrisinya,” jawabku.Ray tertawa mendengar jawabanku.
“Nanti bagaimana kalau perutku jadi buncit minum susu ibu hamil?” aku ikut tertawa membayangkan perut Ray yang kotak kotak jadi buncit.
Dani membelokkan mobilnya ke jalanan yang agak sempit dengan pohon pohon cemara di kanan kirinya.Aku tertegun saat tiba di depan pintu gerbang yang sangat tinggi dan ada bangunan tempat security di sampingnya.Gerbang itu terbuka dan tertutup secara otomatis.
“Mansionnya sudah jadi?” tanyaku.
“Hmm, persis seperti gambarmu.Kamu senang kan, ayo masuk.”
Ray membawaku masuk ke area mansionnya. Bagian depan tampak taman bunga yang sangat indah, bunga bunga yang sangat kusukai. Bunga krisan yang sangat kusukai tumbuh bermekaran berbagai warna,membuatku sangat iri dengan pemiliknya.