
Pagi itu kakek mengharuskan kami untuk makan bersama di meja makan.Kakek tampak sangat pendiam tidak seperti biasanya.Sesekali ia melihat ke arah luka lukaku yang sudah diperban Raymond semalam.
Kami sarapan tanpa ada yang bersuara.
“Mang Jaja, tolong suruh bereskan mejanya,” kata Kakek.
Cristo tampak diam dan hanya menundukkan wajahnya.
“Ray, apa rencanamu?” suara Kakek terdengar lantang karena begitu heningnya.
“Aku akan membawa Maghda pulang ke Mansion dan menyerahkannya kepada Mama.Aku tidak akan mengganggunya sampai hari pernikahan kami,aku janji Kek,” jawab Raymond.
Kakek masih tampak diam tapi tatapan matanya mengarah tajam kepada Cristo.
“Cris apa rencanamu?” tanya kakek.Cristo tampak gelagapan mendengar pertanyaan kakek yang tiba tiba.
“Kalau yang Kakek maksud urusanku dengan Meri, aku masih belum memutuskan Kek.Aku masih memikirkannya,” jawab Cristo.
“Cris,aku tidak melarangmu untuk berhubungan dengan wanita mana pun.Aku hanya berharap kau bisa menimbang wanita mana yang bisa merangkul keluargamu.Kakek hanya punya kau dan Maghda. Jangan membawa wanita psikopat ke rumahku, kalau belum apa apa sudah berani dengan sengaja mencelakai Maghda karena kecemburuan yang tidak jelas,bisa jadi suatu saat dia akan mencelakai Kakek karena keinginannya tidak terpenuhi.Kalau kau masih memaksa pun kakek tidak akan mencegahmu.Tapi Cris, jangan pernah membawa wanita itu ke rumahku.”
Kakek meminum air putih di mejanya.
“Kakek,jangan banyak pikiran ya. Maghda tidak kenapa napa koq,nih Kakek lihat kan? Tadi habis subuh dokter Ana sudah periksa,kandungan Maghda juga tidak ada masalah.Tadi juga dokter Abiyasa juga sudah periksa Kakek kan.” Kugenggam tangan kakek.Pria tua itu tersenyum lembut.
“Kakek tidak apa apa Maghda, asal kau baik baik saja.Tadi dokter Aby juga jelaskan padamu kan,” jawab Kakek.
“Apa kau tadi bertemu dengan dokter sialan itu Maghda?” marah Raymond.
“Aku hanya menanyakan keadaan Kakek boleh kan?”
“Huh,kenapa tidak membangunkanku?”
“Tidurmu pulas sekali, aku tidak tega membangunkanmu. Lagipula kau akan membuat keributan kalau bertemu dia,” jawabku.
Aku membekap mulut Raymond karena semua yang ada di ruang makan itu tertawa geli.
“Itu adalah penderitaan seorang suami,tapi itu adalah hal terindah yang bisa kita kenang kalau anak anak kita sudah besar,” kata kakek.
“Tentu Kek,aku akan bolos kerja kalau Maghda minta dipijitin terus,” kata Raymond.
“Nggak koq, tenang saja.Aku tidak akan menyiksamu,” jawabku.
“Baiklah Maghda, segeralah bersiap. Aku akan ikut pulang bersama kalian. Ray, apa kita akan pulang dengan helikoptermu?” tanya kakek.
“Tidak Kek, Maghda ingin menikmati perjalanan jadi kita akan naik mobil. Tapi kalau Kakek tidak nyaman,pilot akan membawa Kakek dengan helikopter,” jawab Raymond.
“Tidak perlu,aku akan cukup baik dan senang menikmati perjalan dengan kalian,” jawab Kakek.
“Kek, kenapa Kakek buru buru pulang? Cris minta maaf Kek, masih banyak hal yang ingin Cris bicarakan. Maghda, tidak bisakah kau tinggal sehari lagi?”mohon Cristo.
“Tidak Cris,dia sehari di sini saja sudah seperti ini.Tidak bisakah kau mengawasi orang orang di sekitarmu? Kenapa kau ini payah sekali memilih pasangan,” kata Raymond.
“Pikirkan yang tadi Kakek katakan. Temui Kakek di rumah kalau kau ingin bicara.Tadinya aku ingin mengajak Maghda menikmati suasana tenang di sini,tapi kejadian semalam membuatku berubah pikiran. Maghda memang lebih aman di mansionnya,” jawab kakek.
“Mansion milik Ray Kek,” selaku.
“Eh,itu memang milikmu Sayang. Dokumen mansion itu atas namamu. Mansion itu adalah salah satu mas kawin dariku,makanya aku memintamu mendesain sendiri. Membuatkanmu tempat tinggal seperti yang kau inginkan adalah salah satu syarat perjanjian keluarga kita,” kata Raymond.
Aku hanya bengong mendengar penjelasan Raymond.
“Cup.”
Tiba tiba Ray mencium singkat bibirku dan membuatku kaget.
Kucubit lengannya dan membuat semua yang ada di situ tersenyum senyum.