
Ray mencium keningku,kurasakan bibir lembut itu menempel lama di sana.Kurasakan hembusan nafas dari hidung mancung seseorang yang dulu pernah tidak henti memcintaku.
"Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu Kak Ray.Aku juga tidak tahu apa motifmu melakukan banyak hal untukku."
Ray tersenyum mendengar perkataanku.
"Ini motifnya ," Ray menggambar hati di pipiku dengan tangannya.Aku tersenyum geli, pelan kujewer telinganya dan ia tertawa.
Ray, lama sekali tak kulihat tawamu seperti ini.
"Satu lagi pertanyaanku?Jawab sejujurnya."
"Ya ampuun, apa ini kantor polisi? Kenapa orang sakit bisa menginterogasi seperti ini?" katanya.
"Kenapa kau tidak tinggal di rumahmu Kak? Kenapa kau tinggal di apartemen? Apa rumah itu sudah dijual?" tanyaku.
Ray menatapku dengan intens, manik matanya yang hitam kecoklatan itu menatap seakan menusuk ke mataku.
"Aku tidak bisa tinggal di situ karena selalu teringat peristiwa itu.Saat kau menangis melihat kepergianku," jawabnya.
"Aku tidak menjual rumah itu karena banyak kenanganku bersamamu sejak kita tinggal di situ.Puas dengan jawabanku Nona?" mata Ray berkaca kaca.
"Terima kasih sudah mempertahankan kenangan kita, sekarang aku mau tidur. Rasanya ngantuk sekali,kalau kau lelah pulanglah tidak masalah aku sendiri," kataku.
"Aku ini malaikat besarmu, harus ada di sini sampai kau sembuh okey?" Ray mencium kepalaku dan kupejamkan mataku.*****
Kudengar ada seseorang sedang menangis di dekatku.Kurasakan ada seseorang yang menggenggam erat tanganku.Oh Tuhan kenapa tidak bisa kubuka mataku,kenapa tidak bisa kugerakkan tubuhku.Han, itu suara Han.
"Katakan padaku kenapa dia seperti ini Tuan Cristo?" katanya.
"Itu alasanku membawanya Han,dia sudah di ambang batas pertahanannya.Aku pergi ke Eropa beberapa bulan dan saat kembali dia sudah menikah denganmu.Kau tidak bisa melindunginya dari perempuan jahat seperti ibumu.Jadi segeralah kau lepaskan dia," jawab Cristo.
"Aku akan membawanya pergi jauh dari mami," kata Han.
"Aku memang bersalah,tapi aku akan memperbaiki semuanya," kata Han ngotot.
"Percuma saja, dia tidak ingin lagi bersamamu," kata Cristo.
Percakapan itu sangat jelas kudengar,tapi mata dan tubuhku seperti terkunci.
"Tuan, kenapa kau begitu memperhatikannya? Apa kau akan menikahinya setelah dia lepas dari tanganku?" tanya Han tiba tiba.Cristo tertawa.
"Sudah kukatakan padamu dia adalah adikku yang sangat kusayangi.Tak akan kubiarkan siapa pun menyakitinya.Segera tanda tangani gugatan cerai itu.Karena setiap dia di dekatmu ibumu yang jahat itu akan menyakitinya bahkan akan menghabisinya.Kau tanyakan saja padanya kenapa dia membenci Maghda sampai ke tulang sumsum," jelas Cristo.
Ponsel di saku Han berbunyi.
"Ya Mi, sebentar lagi aku ke sana," jawabnya.
"Lena,aku pergi dulu.Aku akan datang lagi, segeralah membaik.Aku mencintaimu Lena, akan kuturuti semua permintaanmu.Aku berjanji akan mengabulkan apa pun yang membuatmu bahagia." Han mencium tanganku, pipiku, keningku.Lalu tangan yang menggenggam erat tanganku itu perlahan terlepas.
"Han," panggilku.Tapi rupanya tidak ada yang mendengarku.Kurasakan selang di tanganku ada yang dicabut.
"Transfusinya sudah selesai mas Cris," terdengar suara dokter Ana.
"Apa dia baik baik saja Dokter? Kenapa dari kemarin dia tidur terus? Hampir 24 jam dia tidur?" tanya Cristo.
"Sekitar satu jam lagi dia akan sadar Mas Cris, aku memang sengaja memberinya sedikit lebih tinggi, supaya proses transfusinya tidak terganggu.Kami sudah pakaikan pant untuk pembuangannya."
"Baiklah, apa hasil pengecekannya baik?" tanyanya lagi
"Sejauh ini semuanya hampir normal, cuma perlu dijaga pola makannya.Vitaminnya perlu terus di minum.Susu dan daging juga sangat dianjurkan.Susu ibu hamil Mas Cris," katanya lagi.
"Baiklah, terimakasih." Kudengar langkah kaki menjauh.
"Maghda,kau harus kuat," Cris meraih tanganku dan menciumnya.