
Kubuka pintu aula dan kunyalakan lampunya.Oh rupanya di sini masih berantakan, masih difungsikan sebagai gudang untuk menaruh barang barang.Foto Caroline ternyata ada di sini.Segera kuambil pigura besar itu dan kubersihkan. Kubawa ke kamar Raymond dan kembali ke gudang lagi untuk mengambil tangga alumunium dan kotak perkakas.Hampir setengah Jam akhirnya aku berhasil memasang foto itu dengan cantik di dinding kamar Raymond.Tapi alhasil atas lututku tergores skrup tangga,entah bagaimana bisa begitu.Padahal rok yang kukenakan cukup panjang. Segera kubawa kembali tangga dan perkakas ke dalam Aula.
Ray pasti senang kupasang foto calon istrinya di dalam kamarnya.Bisa terus melihat saat kangen.☆☆☆
Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.Rasanya bosan sekali hanya nonton TV. Kenapa jadi seperti ini, aku menunggu Ray pulang.Kenapa aku harus menunggunya? Kudengar pintu kamar diketuk.
“Masuk,” kataku.
Kulihat Nina masuk dan menghampiriku.
“Tuan menunggu Nyonya di ruang makan,” katanya.
“Ray sudah pulang, kenapa aku tidak mendengar suara mobilnya?”tanyaku.
“Tuan sudah pulang dari tadi dan langsung ke dapur membuat sesuatu untuk Nyonya,” jawab Nina.
“Oh, begitukah? Baiklah aku turun sekarang.” Segera kumatikan TV dan bergegas turun.Ray tampak duduk di meja makan dan ada sebuah hidangan yang begitu familier di mataku.
“Sayang,” katanya dan menarik kursi di sebelahnya untukku.
“Kak Ray, lepas dulu dasimu itu,” kataku.
“Lepaskan,” katanya.
Ah dasar masih ingat saja peraturan itu. Ray segera menghadap ke arahku, segera kutundukkan pandanganku saat matanya yang tajam seperti pedang itu melihat ke mataku.
“Apa yang kau lihat di bawah sana?” tanyanya.
Aku tersipu malu dan mengerti ke arah mana pertanyaan itu.
“Kau membuat Fuyunghai sepulang kerja, kenapa tidak memanggilku? Kau pasti capek sekali kan?” protesku.Segera kuambilkan Fuyunghai dan saus tomat dan sedikit nasi di piringnya.
“Aku lapar dan minta disuapi,” katanya. Kulihat sekeliling, ada pak Gun dan beberapa pelayan tak jauh dari meja makan, mereka semua menundukkan kepala.
“Jangan hiraukan mereka, ayo suapi aku,” kata Raymond. Segera kuberikan suap demi suap ke mulut Raymond hingga tak bersisa.
“Sekarang giliranmu.Pak Gun, aku tadi minta dibuatkan rendang daging sama sup ikan kakap.Bawa ke sini sekarang,” kata Raymond.Pak Gun segera memberi instruksi kepada beberapa pelayan.
Ray mengambil sup ikan dan menyuapkannya ke mulutku.
“Kak Ray, biar kumakan sendiri,” kuambil mangkuk kecil yang ada di tangannya.
“Aku ingin kau makan dari tanganku.” Ray menyuapiku hingga habis.
Ia lanjut mengambilkan rendang dan sedikit Fuyunghai buatannya dan menyuapkannya ke mulutku.
“Enak?” tanyanya.Aku tersenyum dan mengangguk. Raut bahagia terlihat di wajahnya.
Ia mengambil sedikit nasi dan menyuapkan lagi ke mulutku hingga habis.
“Kak Ray ...”
“Kenapa masih memanggilku kakak? Katakan kau harus memanggilku apa,” marahnya.
“Ray ... Raymond,” jawabku kikuk.
“Harus begitu memanggilku, lebih baik lagi kalau panggil Raymond Sayang,” katanya.
Aku hanya tersenyum dengan tingkah kekanakannya.
“Buatkan susu untuk Nyonya dan antar ke atas.Ayo aku mau mandi.” Raymond mengulurkan tangannya dan kusambut lalu mengikuti langkahnya.Kubawakan jas dan dasinya dan Pak Gun membawa tas kerja dan laptopnya ke ruang kerjanya.
Hari ini aku sangat malu karena Ray memperlakukanku seperti nyonya rumah.
Bagaimana kalau nyonya rumah yang sebenarnya datang,aku pasti sangat malu untuk datang lagi ke mansion ini.
“Maghda,apa yang sedang kau pikirkan.Kenapa dari tadi diajak bicara diam saja?”
Aku menabrak punggung Raymond yang tiba tiba berhenti saat di depan pintu.
“Eh,tidak.Aku hanya merasa tidak enak diperlakukan seperti Nyonya rumah.Apa yang akan mereka pikirkan jika tahu mereka ternyata salah orang,” jawabku.
Raymond membalikkan badan menghadapku.
“Kau berpikir terlalu jauh Nyonya,” Ray membuka pintu dan menarikku masuk ke dalam kamarnya.