
Kakek menarik nafas panjang melihat tangan dan kakiku yang lecet lecet.
“Maghda,” desah kakek seraya memejamkan matanya.
“Maghda hanya lecet sedikit, tidak apa Kek,” kataku.
“Kek maafkan Cristo yang tidak peka, harusnya aku memperjelas semua dan tidak ambigu pada Meri,” mohon Cristo.
Aku sedikit khawatir melihat kakek yang terus memejamkan mata dan memegangi dadanya.Perlahan aku bangkit dan Raymond membantuku duduk di sebelah kakek.
“Kakek, Maghda tidak apa apa,” kugenggam tangan keriput kakek.
Kuambil tisyu saat kulihat mata kakek menjadi basah.
“Maafkan Kakekmu ini Maghda, dari kecil hidupmu sudah kacau.Sampai sekarang pun Kakek masih tidak mampu melindungimu,” kata Kakek.
“Tidak Kek,Mama Kinan dan Papa Varo memberiku kasih sayang yang cukup hingga aku besar dan bisa mandiri." Kembali kugenggam tangan tua itu.
“Nona, kenapa kau arogan sekali dan berani melukai cucuku?” mata tajam Kakek beralih ke arah Meri yang sedari tadi menunduk pasrah dan berurai air mata.
“Maafkan saya pak Komisaris, harusnya saya mencari tahu dengan benar dan tidak ceroboh seperti ini. Saya sangat cemburu dan sakit hati, saya tidak tahu kalau Maghda dan Cristo kakak adik.Saya akan menerima hukumannya,” kata Meri.
“Tidak semudah itu Nona, jangan kau pikir kata maaf saja sudah cukup. Keluarga Aslan, cukup handal di bisnis otomotif dan beberapa bisnis besar lain di Indonesia, mengejar Cristo sampai ke tempat terpencil seperti ini. Bagaimana kalau kubuat bisnis keluargamu menderita kerugian sampai limapuluh persen baru kuanggap impas atas perlakuanmu pada Maghda malam ini,” kata Raymond.
“Tu Tuan Raymond, tolong ampuni keluarga saya.Tuan bisa memenjarakan saya tapi tolong jangan sentuh keluarga saya.Saya mohon Tuan.” Merina berlutut di depan Raymond.
Cristo meraih tangannya dan membantunya berdiri.
“Kumohon, biar kuselesaikan masalahku dengannya Ray.Aku minta maaf pada kalian semua, akulah yang bodoh tidak bisa nenjalin hubungan dengan benar.Aku janji akan menyelesaikan secepatnya.” Cristo bangkit dari duduknya dan membawa Meri pergi.
Raymond memanggil beberapa asisten pribadi Kakek dan membawa Kakek beristirahat.
“Mona segera hubungi dokter Ana dan dokter pribadi Kakek.Besok suruh Dani jemput pake Helkopter milik Kakek,” kata Raymond.
“Baik Tuan.”
“Kau boleh pergi,” kata Raymond. Mona menganggukkan kepalanya dan berlalu.
Raymond menggendong dan membawaku ke kamar.Setelah membaringkanku ia segera melepas sweater tebalnya.
Ia membawa sebotol cairan hydro untuk membersihkan lukaku.
Aku mengernyitkan dahi mendengar gumaman Ray.
“Apanya yang empat setengah T?”
“Bisnis keluarga wanita itu, akan kubuat rugi sejumlah itu,” jawab Raymond.
“Ray, jangan.Kasihan kan karyawan mereka mau makan apa kalau perusahaan itu bangkrut,” kataku.
“Diamlah,akan kuoleskan salep biar cepat pulih.Ayo lepas bajumu,” katanya.
“Eh kenapa? Jangan macam macam,” tolakku.
“Bajumu kotor begitu, ganti yang tanpa lengan biar tidak kena lukanya. Infeksi lho.”
Akhirnya aku menurut saja saat Raymond membantuku melepas pakaianku.Ia mengambilkanku baju tidur selutut tanpa lengan.Ray mengelus perutku yang sudah mulai tampak membuncit.
“Untung siku dan lututmu tidak luka. Huh perasaanku sudah tidak enak dari kemarin.Semoga bayinya juga tidak apa apa.Apa kau sudah makan?” Ray membelai kepalaku.
“Kami semua belum makan, setelah selesai diplester aku akan membawakan makan malam untuk kakek.Aku tidak mau dia khawatir berlebihan,” kataku.
“Baiklah, akan kuminta pelayan menyiapkannya.Ayo kita makan bersama di kamar kakek,” kata Raymond.
Setelah memasang plester pada luka di tangan dan kakiku Ray segera meminta pelayan menyiapkan makan malam di kamar kakek.Pria tua itu sudah mau tersenyum setelah melihatku bisa berjalan seperti biasa.
“Kakek tidak boleh sedih dan sakit, Maghda mau menikah jadi jangan sakit ya,” kataku.Kakek tersenyum lebar.
“Tentu Sayang.Kenapa Cristo tidak pernah becus mencari pasangan, Raymond?” tanya kakek yang lebih mirip protes.
“Huh entahlah, sekali serius sama wanita posesif seperti itu.Akan kutanya lagi nanti, apa dia serius mau diteruskan,” jawab Raymond.
“Ya, laporkan padaku kalau sudah tahu jawabannya,” titah kakek.
“Lho,Ray kan bukan sekretaris Kakek,” bantah Raymond.
“Lakukan saja,kalau tidak...”
“Iya iya Yang Mulia Kakek,” kata Raymond.
Aku tertawa kecil, kadang Raymond bisa lebih pintar mengambil hati Kakek.Mungkin karena saat Cristo tinggal di Spanyol sampai lulus SMP dia lebih sering ke rumah Kakek, jadi lebih faham apa yang membuat Kakek merasa senang.Kakek juga kulihat tidak bisa marah serius padanya.