LOVE YOU

LOVE YOU
Part88


Akhirnya hari pernikahanku dan Ray tiba.Ray mempersiapkan segalanya dengan cermat dan hati hati. Air mataku menetes saat Ray mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan sangat mantap.Hanya sekitar seratusan orang dan semuanya masih kerabat dekat dan jauh. Aku agak kaget karena papi dan maminya Rouhan juga hadir di acara pernikahanku.


“Sayang, ayo tanda tangan.”


Suara Raymond benar benar mengejutkanku.Ciuman lembut di pipiku membuatku lebih tenang.


Segera kutandatangani dokumen pernikahan itu.Ray tersenyum dan menerima ucapan selamat dari beberapa rekannya.


Mama Kinan dan Carol membantuku berdiri dan duduk di kursi yang disediakan.


Hatiku berdebar saat papi dan maminya Rouhan datang mendekatiku.


“Lena Sayang, selamat ya Nak. Papi ikut senang akhirnya kalian menikah,” kata papi rouhan.


“Terimakasih Pi, Papi jaga pola makan ya.Lena tidak bisa ngomelin Papi lagi,” jawabku.


“Apa maksudmu itu? Lena kamu itu cuma beruntung dapat suami kaya.Harusnya wanita murahan tak tahu diri sepertimu tidak pantas...”


“Mami,jangan keterlaluan. Lena adalah putrinya Rossi adikku,dia keponakanku jangan menghinanya lebih jauh lagi.Jangan karena kebencianmu pada Rossi kau menghina Lena,dia tidak tahu apa apa Mi,” potong papi Rouhan.


Wanita paruh baya itu memalingkan mukanya.


“Januardy, terimakasih sudah datang.”


Tiba tiba papa Alvaro datang bersama mama Kinan yang segera memelukku.


“Tuan Alvaro, saya mohon maaf,” kata Januardy terbata bata.


“Januardy, seminggu lagi pengalihan saham itu harus beres ya.Aku akan memberikan lima persen untuk Rouhan dan lima persen untukmu.Jadi milikmu menjadi limabelas persen. Delapan puluh persen kembalikan pada Maghdalena. Itu adalah peninggalan ayahnya yang memang diberikan padanya,” kata Alvaro.


“T tentu Tuan, pengacara dan Notaris akan saya hubungi,” jawab Januardy.


“Papa, aku...”


Papa Alvaro meletakkan telunjuknya di mulutku.


“Pi apa maksudnya?” tanya Mami Rouhan panik.


“Nanti di rumah akan Papi jelaskan Mi.”


Januardy segera membawa istrinya ke luar.


“Pa, Maghda tidak mungkin...”


“Papa tahu Sayang, nanti akan Papa urus setelah semuanya selesai.Kau tidak harus mengurus perusahaan itu sendiri.Kau bisa menunjuk orang lain yang kau percaya untuk mengelolanya.Itu adalah peninggalan Surya yang memang dia dirikan bersamaku untuk diberikan kelak kepadamu.Januardy adalah kakak Mamamu, aku pikir dia akan menjagamu dengan baik selama kami pergi.Semua meleset dari ekspektasiku Maghda. Dia tidak bisa mengatasi istrinya yang dia nikahi untuk mencegahnya menyakitimu. Sesuai perjanjian, saham perusahaan harus kembali padamu,” kata Alvaro.


“Pa, ada apa?Sayang...”


Ray memelukku,kucoba sebisa mungkin mengendalikan perasaanku.


“Ray, kau bawa Maghda ke kamarnya.Dia kelelahan, biar dia istirahat.Papa sama Mama akan temui para tamu,” kata papa Alvaro.


“Iya deh, ayo Sayang.Apa perlu aku gendong?”


Aku tersenyum dan mengalungkan tanganku di leher Raymond.


Tidak kusangka Ronald dan beberapa rekannya bersuit saat Raymond menggendongku menaiki tangga.


“Ayoo Boss,” teriak Ronald.


“Sialan awas kamu ya,” gerutu Raymond.


“Ayo...Ayo...Ayoo!” teriak tamu tamu lain sambil bertepuk tangan.


Ray membaringkanku di ranjang dengan hati hati. Ia pun langsung jatuh terlentang di lantai.


“Oh my God, kenapa sekarang berat sekali Maghda.Air...air,” kata Raymond.


Ia segera pindah ke atas kasur.


Segera kuambilkan air minum untuknya.


“Aku tidak minta digendong,” kataku.


“Kan keren kalau mempelai pria menggendong mempelai wanita,” kata Raymond.


“Ha ha, beratku bertambah sekitar lima kilo,” kataku.


Ray membaringkan kepalanya di pangkuanku dan memeluk perutku.


“Maghda,kalau saja aku tidak melakukan kesalahan dan mampu menahan diri,kita tidak akan serumit ini,” gumam Raymond.


“Aku juga ikut bersalah Ray,tapi sudahlah.Kita sudah dapat surat nikah, ayo mulai lagi semua,” kataku seraya membelai rambut tebalnya.


“Tentu,istriku.Kita hapus masa lalu yang menyakitkan.”


Ray bangun dari tidurnya dan menciumku.