
Kubuka satu persatu lemari gantung di dapur. Kuambil tiga sacet coklat instan dan kubuat tiga gelas coklat hangat.Kubagikan dua gelas untuk Cristo dan Ray dan satu gelas lagi untuk diriku sendiri.Ray menyalakan AC karena suhu ruangan semakin panas.
"Maghda, kemarikan ponselmu," kata Ray.
"Buat apa?" tanyaku.Tanpa menjawab Ray mengambil ponsel dari tanganku.Ray mematikan ponselku dan menyimpannya di laci meja kerjanya.
"Tiga hari ini kau harus tetap di sini, kalau ke luar biar ditemani asistenku Ronal.Tadi aku sudah mengubunginya,dia siap menjadi sopirmu dalam tiga hari ini," kata Raymond.
"Kak Ray, kenapa? Aku ingin menemui Han dan menyelesaikan masalahku," kesalku.
"Aku tahu, tapi menghilanglah darinya dalam tiga hari ini kumohon Maghda.Januardi harus dikasih pelajaran, dia sedang memanfaatkan mu untuk mengambil perusahaan milik Papa. Han tidak akan melepaskanmu karena itu, dia akan mempertahankanmu mati matian untuk tetap menjadi istrinya," jawab Ray.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu Kak," kataku bingung.
"Menurutlah kali ini Maghda, aku khawatir Januardi akan menyuruh orang untuk menculikmu," imbuh Cristo.Akhirnya aku mengiyakan meskipun tidak mengerti yang mereka maksudkan.
Cristo mengusap lembut rambutku,entah kenapa aku tidak merasa sendirian saat ada Cristo bersamaku.
"Aku harus pulang, kakek pasti cemas.Aku harus segera memberitahunya bahwa kau ada di sini," kata Cristo.Kuanggukkan kepalaku.
"Ray,aku pulang dulu.Jaga dia, jangan sampai sakit," katanya.
"Hmm," jawab Raymond seraya meneguk coķat hangatnya.Ray bangkit dari duduknya, ia pergi ke kamar yang ada di sebelah kamar tidurnya, beberapa saat kemudian ia kembali dan duduk di sebelahku.
"Kamar tidurmu sudah kurapikan, semoga kau nyaman tidur di situ.Besok apartemen sebelah biar dibersihkan dan dirapikan," katanya.
"Maaf merepotkanmu, aku akan segera cari rumah kontrakan.Mungkin agak ke pinggiran kota.Aku akan cari tempat yang potensial untuk membuka Floristku,"kataku.
"Nanti kita cari bersama, setelah semua selesai," katanya.
"Aku tidak akan merepotkanmu lagi,aku sudah biasa melakukan apa pun sendiri. Kau harus memikirkan dirimu sendiri," kataku. Kucoba untuk meyakinkan Raymond untuk berhenti mengurusiku.Aku tidak ingin membuatnya kembali memikirkanku dan meninggalkan kekasihnya.
"Tidurlah di kamarmu Kak,aku biasa sendirian di ruko," kataku.Ray tersenyum sinis.
"Han pasti di sana juga kan," katanya.Aku hanya diam tidak menjawab lagi.Akhirnya aku masuk ke kamar yang disediakan Ray untukku.Kuganti pakaianku dengan T shirt longgar yang tadi kubeli bersama Cristo. Setelah membolak balik badan akhirnya bisa terlelap juga.
Raymond menepuk nepuk pipiku, samar samar kudengar suaranya memanggilku, tapi susah sekali kubuka mataku.
"Maghda Sayang, bangunlah sudah siang," bisiknya.Susah payah kubuka kedua mataku.
"Kak, sudah jam berapa?" tanyaku.
"Setengah enam," jawabnya.
"Kenapa baru dibangunkan? Aku terlambat shalat subuh."Dengan gontai aku masuk ke kamar mandi untuk mandi kemudia shalat.
Raymond menungguku di meja makan, ada dua mangkuk bubur ayam yang sangat menggiurkan.
"Buat sendiri?" tanyaku.
"Apa kau lihat aku sehebat itu?" tanyanya seraya menyodorkan semangkuk kepadaku.
"Beli di restoran langgananku, pagi pagi sekali diantar ke sini," katanya lagi.
"Aku jarang sarapan, karena aku tidak suka makan sendirian.Biasanya aku mengajak Ronal atau Tamara, kadang Kojiro saat makan," katanya.
"Sudah kukatakan cepatlah nikahi kekasihmu, biar ada yang mengurusmu, biar ada yang menemanimu.Jangan memikirkan orang lain, mereka itu hanya akan merepotkanmu."
Raymond hanya diam menundukkan wajahnya dan menikmati bubur ayamnya.