LOVE YOU

LOVE YOU
Part73


Saat perjalanan menuju ke hotel aku dan Cristo hanya saling diam.Kupalingkan wajahku ke luar jendela.Raymond, kadang aku tidak mengerti kenapa tiba tiba bersikap arogan terhadapku.


Kurasakan tangan Cristo mengusap kepalaku.Aku masih tetap diam dan mengalihkan pandanganku ke luar jendela.Sampai di hotel segera kukemasi barang barangku dan melakukan check out.Cristo membawa dua koperku ke dalam mobilnya.


“Aku bawa mobil sendiri Kak,” kataku.


“Biar dikembalikan sama supirku,aku sudah menelponnya untuk kemari.Itu mobilnya Bima kan?” tanyanya.


“Dari mana kau tahu?” tanyaku.


“Aku tahu segalanya,” jawabnya.


Beberapa saat kemudian seorang pria muda mengenakan setelan rapi menghampiri kami.


“Berikan STNK sama kuncinya,” kata Cristo.


Tanpa membantah segera kuberikan apa yang dimintanya.


“Kembalikan ke alamat ini,katakan Non Maghda mengucapkan terimakasih,” kata Cristo seraya menyerahkan Memo kecil yang barusaja ditulisnya.


“Baik Tuan,” kata pria itu lalu melangkah pergi.


Cristo membukakan pintu mobilnya dan memberi isyarat supaya aku masuk.


Aku hanya bisa menurut tanpa memprotes perintahnya.


“Kita ke mana?” tanyaku.


“Ke rumah,” jawabnya.


“Tolong jangan ke rumah, aku belum bisa bertemu kakek dalam keadaan seperti ini.Tolong bawa aku ke suatu tempat yang tidak bisa didatangi Raymond.Aku tidak mau bertemu Raymond,” tiba tiba saja emosiku meluap.


“Baiklah.”


Cristo melajukan mobilnya menuju ke luar kota.


Satu jam kemudian ia membelokkan mobilnya ke sebuah Villa yang cukup besar dan mewah.


“Turunlah,” katanya.


Beberapa orang pelayan menyambut kami dan membawa barang barangku masuk.


“Milikku.Bi Yan, tolong siapkan makan siang ya.Kamu ingin makan apa?” tanyanya.


“Nasi padang,ada rendang sama udangnya,” jawabku.


“Telpon rumah makan Padang di pertigaan itu Bi, suruh antar yang Nona pesan,” kata Cristo.


Aku duduk di meja makan yang yang cukup besar,ruangan makan itu sangat luas.Cristo duduk di sebelahku.


“Kenapa? Rumahku sangat indah ya? Ini hasil kerja kerasku. Ini juga tempat persembunyianku.Aku bisa menghidup matikan sinyal ponsel di area rumahku. Raymond tidak akan menemukanmu di sini.Dia juga tidak tahu aku punya rumah di sini,” jelas Cristo.


Aku tersenyum senang, berarti aku bisa tinggal lebih lama di sini.


“Kenapa ruang makan ini luas sekali, lebih luas dari lapangan foodsal?” tanyaku.


“Suatu saat anak anakmu dan anakku akan berkumpul di sini.Ruangan ini akan menjadi tempat bermain mereka saat berkumpul.Di belakang tanahnya masih luas, akan kubuatkan lapangan sepak bola,bola basket, arena bermain supaya mereka betah tinggal di sini.Ayo kita buat perjanjian, aku punya lima dan kamu juga lima,” kata Cristo.


“Lima apa maksudmu?” tanyaku.


“Lima anak lah, biar keluarga kita rame,” jawab Cristo.Aku tertawa keras sampai perutku sakit.


“Eh gak sopan ketawanya,” gumam Cristo karena beberapa pelayan yang ada di situ melihat ke arah kami.


“Kau ini, jangan ngayal terlalu jauh.Kita ini belum berkeluarga, aku tidak punya suami dan kamu juga belum punya istri. Anak sebanyak itu mau datang dari mana? Pohon pisang?” tanyaku.Cristo tersenyum kecil.


“Aku sudah punya seorang calon istri, dan dia setuju untuk memberiku banyak anak.Tergantung keadaan kita nanti. Tahun ini kau juga harus menikahi seseorang Maghda, aku dan Kakek ingin kau ada yang melindungi.”


“Aku belum punya rencana Kak Cris, aku ingin membesarkan anak ini walau pun tanpa seorang suami.Mungkin empat atau lima tahun lagi baru aku pikirkan,” kataku.


“Kakek sudah mempersiapkan seorang calon suami untukmu, dia pria yang baik Kakek mengenalnya dari dia masih kecil. Kakek yakin dia bisa melindungimu.”


Aku terdiam, tiba tiba perasaanku jadi tidak enak.


Pesanan nasi padangku sudah datang, tapi selera makanku sudah menguap entah ke mana.


“Ayo makan, kau pasti sudah lapar kan? Bukan Cuma rendang sama udang.Aku pesan semua menu yang ada di sana,” kata Cristo.


“Aku tidak lapar lagi,” jawabku.


“Maghda,makanlah.Jangan kau pikirkan yang barusan kukatakan.Kau boleh menolak kalau kau tidak setuju.Aku pasti akan mendukung apa pun keputusanmu,” kata Cristo seraya mengambilkan makanan untukku.