LOVE YOU

LOVE YOU
Part69


Kulihat Raymond mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.Beberapa saat kemudian seseorang datang menyerahkan kartu kamar kepadanya.


Aku berlari ke ranjang dan menyembunyikan tubuhku di bawah selimut saat menyadari kartu pass itu duplikat dari kartu kamarku.


“Klek.”


Pintu kamarku terbuka,sementara aku diam tak bergerak di dalam selimut. Ray duduk di tepi ranjang dan kupejamkan mataku.Ia membuka selimut dan hawa panas kurasakan di wajahku.Raymond mencium keningku dan aku hanya diam berusaha tak bergerak.Kubuka sedikit mataku saat merasakan Ray beranjak dari dekatku.


Kulihat Ray masuk ke kamar mandi,aku bermaksud melepas mukena bagian bawah yang masih kukenakan, tapi pintu kamar mandi kembali terbuka.Kembali kupejamkan mata dan berpura pura tidur.Ray melihat ke arah sajadah dan mukena atasku yang tergeletak di salah satu sofa single di dekat jendela kaca. Ia memegang dan menyeringai licik.Huh, apa aku ketahuan?Ia melonggarkan dasinya.Beberapa saat kemudian terdengar suara bel di pintu,Ray segera membuka pintu.


“Terimakasih,” katanya lalu kembali mengunci pintu.Aku hanya bisa mengintip di balik selimut.Ia meletakkan dua buah paperbag di atas nakas


“Maghda aku tahu kau tidak tidur,ganti pakaianmu dengan piyama ini,” kata Raymond.Aku tetap diam walau pun Ray memanggilku berkali kali.


“Aah Ray !” teriakku saat Ray menggelitiki pinggangku.Ia tertawa senang karena tahu kelemahanku. Kubuang kasar selimutku, rasanya sebal sekali kenapa dia begitu mudah menemukanku.


“Kenapa kau ke sini, apa tidak nangis calon istrimu ditinggal selingkuh?” tanyaku ketus.


“Itu bukan urusan dia,kami belum menikah mana mungkin disebut selingkuh?Aku sedang menemui istri kecilku,” jawabnya.


“Perjanjian itu apa masih berlaku? Itu hanya lelucon masa kecil Ray,aku tidak mempercayai itu.Aku juga tidak mengingatnya sama sekali.” Segera kulepas mukena bawahanku.


“Tentu saja masih berlaku selama aku tidak mengucapkan kata perpisahan padamu.”


Ray bergerak cepat menarik kimonoku, aku memekik kaget karena Ray membuangnya jauh dari jangkauanku.


Segera kutarik selimut untuk menutupi tubuhku karena habis mandi aku belum sempat pakai apa pun selain kimono itu.


“Aku sudah lelah seharian,banyak masalah yang muncul tiba tiba.Sekarang aku ingin bersamamu istri kecilku. Aku tidak mau memikirkan hal lain,sekarang kau dihadapanku dan aku menginginkan dirimu,” katanya seraya melepas kemejanya dan membuangnya sembarangan.


“Ray sebaiknya kau mencari kamar lain, aku lelah dan ingin istirahat OK,” kataku saat Raymond melepas celananya dan membuangnya juga.


“Ray!” teriakku mulai gusar.


Ia tidak menghentikan gerakannya dan dengan sigap membuang selimut dan memelukku.Menyergap diriku dan melahap bibirku tanpa memberiku kesempatan untuk bernafas.Kudorong dada Raymond sekuat tenagaku dan itu hanya membuatnya melepaskan ciuman brutalnya.


“Please Ray, kenapa justru dirimu yang marah seperti ini?” tangisku.


Ray melonggarkan pelukannya, mencium pipiku dan membelai rambutku.


“Maafkan aku,aku terlalu emosi karena kau mengabaikanku.Jangan lakukan lagi Maghda,hatiku sakit.Hatiku sakit sampai ingin membenturkan kepalaku.”


Ray mencium singkat bibirku,kuusap lembut punggungnya.


Kuambil kimonoku dan selimut yang teronggok begitu saja di lantai.Kami berbaring saling berhadapan, ia kembali memelukku.Ia menarik selimut hingga ke dadanya.


“Maghda, apa kau masih mencintaiku?” tanyanya.


“Masih,tapi cinta yang kumiliki akan menyakitiku.Kenapa kau senang sekali melihatku sakit?” jawab tanyaku.


“Apakah cinta untukku masih sebesar dulu? Atau telah terbagi dengan Rouhan? Kau tidak mungkin mau bercinta dengannya tanpa ada perasaan kan?” tanya Raymond.Kutegakkan tubuhku.


“Ray aku sangat lelah,bisakah kau tidak menambah rasa berat di kepalaku?” kesalku.


“Jawab saja Maghda,jangan membuatku gila memikirkan ini terus.Kau menemui Januardi untuk apa? Pakai mobilnya Bima kenapa? Aku memiliki segalanya, aku bisa memberikan apa pun yang kau butuhkan dan inginkan.Kenapa kau mencari orang lain bukan aku?” teriaknya.


“Karena aku akan semakin terluka kalau tidak menjauhimu, terus bergantung padamu.Karena pada akhirnya aku yang harus pergi Ray,” kataku.


“Maghda,tidak bisakah kita menghabiskan waktu bersama saja? Tidak bisakah jangan menganggap orang lain ada?Aku hanya ingin bersamamu sampai kapan pun,jangan mengabaikan diriku,” Ray memeluk erat tubuhku. Kubelai rambut hitam lebatnya.


“Tidak akan,” jawabku lirih.Beberapa saat kemudian kudengar dengkuran halus.Ray tertidur dalam pelukanku.