
Lima menit aku menunggu,Han datang dengan memakai setelan Jas berwarna cream.Ia menghampiriku dengan wajah pucat.
"Lena," Han memeluk erat diriku, diciuminya kepalaku wajahku.
"Kenapa kau pucat sekali? Kau ke mana saja?" tanyanya.
"Selamat atas pernikahanmu, semoga kau dapatkan kebahagiaanmu," kataku. Tanpa bisa kubendung air mataku. Entah itu kecewa atau bahagia aku sendiri tidak mengenali perasaanku.
Han kembali memelukku,tangisnya pun tidak bisa ia tahan lagi.Ia membawaku ke teras samping rumah.
"Lena maafkan aku,aku harus melakukan semua ini karena mami," katanya.
"Tidak apa, kau harus menjadi anak yang berbakti.Aku datang hanya untuk mengatakan kalau aku tidak bisa melanjutkan hidupku bersamamu.Terimalah ini cincin yang kau berikan saat kita menikah, sekarang kukembalikan." kataku.
"Lena apa apaan kau ini, aku tidak akan berpisah denganmu walau aku menikahi Gayatri.Aku sangat mencintaimu Lena," Rouhan kembali menangis.
"Aku sudah mengambil keputusan setelah sekian lama kupikirkan.Dan ini uang belanja selama lima bulan aku menjadi istrimu, aku tidak pernah memakainya.Kukembalikan padamu, berikan pada istri barumu," kusodorkan amplop coklat ke depannya.
"Tidak Lena, ambil kembali.Aku tidak akan berpisah denganmu.Aku sudah membelikanmu rumah di dekat kantorku.Aku akan pulang ke rumahmu setiap hari dan hidup bersamamu," katanya.
"Hiduplah dengan baik Suamiku, tinggalilah rumah itu dengan Gayatri.Ini adalah kartu nama pengacaraku.Kau bisa menemuinya kalau susah mencariku." Kusodorkan sebuah kartu nama yang diberikan Cristo kepadaku.
"Lena, please Lena," Han menggenggam erat tanganku.
"Han, Han. Rekan bisnis papi mencarimu," terdengar suara mami.Wanita itu muncul dan menatap sinis kepadaku.
"Lena, untuk apa kau datang ke sini? Han kemarin sudah sudah meikahi Gayatri, apa kau ingin mengacaukan resepsi pernikahan ini?" tanyanya.
"Tidak Mi, aku hanya memberikan ucapan selamat kepada suamiku," jawabku.
"Han, semalam kau sudah melakukan kuwajibanmu sebagai seorang suami kan?
"Pergilah Mi, aku masih belum selesai dengan istriku," jawab Han.Wanita itu pun berlalu dari hadapan kami.
"Selamat Han,akhirnya kau merasakannya dengan gadis perawan.Aku sudah selesai, aku harus pergi," kataku.
"Aku akan pergi bersamamu, ayo kita pulang ke rumah kita." Han meraih tanganku dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya.Semua orang melihat ke arah kami, tapi Han tidak mempedulikan keributan di dalam rumahnya.
Papi berteriak memanggilnya, Mami mencengkeram lenganku dan menyeretku ke luar rumah.
"Pergi kamu perempuan miskin,harusnya kau tahu diri, kau yatim piatu tidak punya apa apa. Jangan kembali lagi ke rumahku." Mami masuk ke dalam dan kembali lagi dengan membawa gunting. Papi memegangi tangan mami yang hendak menusukku dengan gunting itu. Han segera memelukku, ia mendekap erat tubuhku.Cristo datang dan bertepuk tangan sambil mendorong tubuh Papi.
"Hebat Januardi, kau perlakukan seseorang yang harusnya kau lindungi seperti binatang. Kau pikir siapa dirimu itu, berkacalah dirimu," katanya.
"Tuan Cristo," tiba tiba wajah papi berubah pucat.
"Lihatlah dirimu, Tuan Smith begitu percaya padamu. Sekarang di depan mataku, putri kesayangannya hampir dihabisi oleh istrimu.
Mereka tidak akan tinggal diam Januardi. Maghda Adikku, ayo pulang," Cristo menyingkirkan tubuh Han yang masih memelukku.
"Dia istriku, aku akan membawanya pergi," Han mendorong Cristo.
"Aku akan pergi denga Kak Cris," kulepaskan pelukan suamiku.
"Lena, please," bujuk Han.
"Aku akan menghubungimu kalau suasan sudah tenang.Keputusanku tidak akan berubah Han," kataku.
"Han, jangan ceraikan Lena.Jangan lepaskan dia Han," teriak Papi.
Cristo membawaku pergi dari rumah itu.Perasaanku yang campur aduk membuatku merasa sangat lelah. Kusandarkan kepalaku,Cristo memberiku air mineral untuk membasahi kerongkonganku.