
Seharian kuhabiskan waktuku bersama Kakek dan Cristo untuk melihat kebun bunga,kebun teh dan keliling pabrik untuk proses pembuatan teh dan ekstrak bunga. Aku meminta mereka untuk istirahat sejenak karena punggungku sakit.
Kami duduk di ruang tamu kantor Cristo,asistennya menyuguhkan teh hangat untuk kami.Wanita cantik itu tersenyum dan menunduk saat mempersilahkan minum.
“Kak, siapa dia? Kenapa aku merasa pernah melihatnya?” tanyaku.
“Asistenku,Merina.Dia kakak kelasmu temannya Bima dan kawan kawan,” jawab Cristo.
“Oh, tapi kenapa dia tidak menyapaku? Ah, mungkin dia lupa padaku,” kataku.
Kutagakkan punggungku yang tadinya menyandar pada Cristo.
“Aku mau melihat lihat sebentar, sekalian mau ke pantry, buat kopi.Aku sudah lama tidak minum kopi.Kakek mau kubuatkan?” tanyaku.
“Tidak Sayang, kamu juga jangan terlalu banyak kopinya ya,”jawab Kakek.
Aku hanya tersenyum melihat kekhawatiran di wajah kakek dan berlalu menuju pantry.
Aku terkujut saat seseorang berdiri di depan coffea maker yang mesinnya sudah mati.Ia berdiri melamun sambil mengusap matanya.Aku mundur ke sebelah kulkas karena takut dia malu. Beberapa saat kemudian wanita cantik itu berbalik dan tampak terkejut karena melihatku.
“Hai, apa kabar.Kau bekerja di sini?” tanyaku agak canggung.
“Hai, Lena. Bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Aku datang bersama Kakek dan Cristo.Aku akan menginap di sini beberapa hari,” jawabku.
“Jadi benar kabar santer kalau cucu pemilik perusahaan akan menikah dalam waktu dekat? Jadi kau dan dia akan menikah?” tanyanya.Kulihat wajah cantik yang sedikit pucat dan matanya sedikit memerah karena habis menangis.
“Iya, aku akan menikah beberapa hari lagi.Meri kenapa kau menangis? Ada apa? Tapi bagaimana bisa kau bekerja di perusahaan ini? Bukannya keluargamu memiliki perusahaan yang sangat besar dan kau hanya dua bersaudara dengan kakakmu kan?” tanyaku.
“Aku hanya ingin mengejar mimpiku, seseorang yang aku sukai dari dulu. Tapi sepertinya harapanku akan kandas.Lena, selamat ya,” katanya seraya melihat ke arah perutku yang memang sudah agak kelihatan.
“Kau hamil?” tanyanya.
“Maghda,kenapa lama sekali buat kopinya,” tiba tiba Cristo muncul dari arah pintu.
“Eh, kebetulan ketemu Meri jadi ngobrol.Ah aku belum buat,” jawabku.
“Biar kubuatkan,kau tidak boleh terlalu banyak minum kopi,” kata Cristo seraya membuatkanku kopi encer sedikit kopi banyak air.
Merina menundukkan wajahnya lalu beranjak pergi.
“Mer,” panggil Cristo.Wanita cantik itu berhenti.
“Nanti hasil rapat yang kemarin kau bawa ke ruanganku ya,” kata Cristo.
Wanita itu mengiyakan lalu pergi.
“Kak, apa kalian pacaran?” tanyaku.
“Aku memang menyukainya dan aku berniat melamarnya.Tapi momennya belum tepat.Setelah pernikahanmu beres aku akan segera melamarnya,” jawab Cristo.
“Jangan terlalu lama Kak,seorang wanita juga perlu kepastian.Kalau saja Raymond kemarin tidak dihentikan Kakek, mungkin aku akan benar benar pergi jauh,” kataku.
“Iya iya, aku akan segera berbicara dengannya.Dia sudah menyatakan perasaannya padaku sejak lama, dan aku setuju menjalin hubungan dengannya.”
Kuterima cangkir kopi dari tangan Cristo dan kembali ke ruangannya. Kami berpapasan dengan Meri di depan pintu ruangan Cristo.
“Pak,sebentar lagi ada rapat dengan semua kepala bagian,” kata Meri.
“Tolong diundur satu jam ya, aku mau antara Maghda dan Kakek pulang. Atau kamu handle dulu sementara aku berhalangan,” jawab Cristo.
“Kak tidak usah, aku akan telpon Dani biar menjemputku.Sepertinya Kakek juga masih ada urusan di sini. Sepertinya dia sudah standbye dari tadi di ruang tunggu depan.Dia kan harus lapor ke Raymond setiap saat,” kataku.
“Baiklah,hati hati ya.Kalau ada sesuatu segera hubungi aku.” Cristo mencium kepalaku lalu berlalu ke ruang rapat bersama Meri.