
Mobil ini melaju cukup normal, tapi perjalanan ini rasanya lama sekali.
Berkali kali Raymond menatap ke arahku, sementara aku hanya ingin menuduk hanya sekilas saja pandangan mata kami bertemu.
“Apa rencanamu?” tanyanya.
Kupalingkan wajahku ke luar jendela mobil.
“Besok aku akan pergi ke suatu tempat,” jawabku.
“Aku besok cuti,akan kutemani,” katanya.
“Tidak perlu,aku akan pergi sendiri.Cuma di sekitar sini, jangan khawatir aku bisa jaga diri,” jawabku.Ray menarik daguku supaya menghadap ke arahnya.
“Lama lama aku bisa marah padamu Maghda.Jaga diri apa baru lengah sebentar kamu hampir mati dan masuk rumah sakit.”
“Aku sudah sehat kau lihat, akan kujaga diriku untuk anakku.Karena saat ini hanya dia yang kumiliki.Kau punya perusahaan besar yang memerlukan tanggung jawab yang sangat besar.Kemarin kemarin waktu aku sakit kau sudah sering membawa pekerjaanmu ke rumah sakit. Sekarang aku tidak mau merepotkanmu lagi.Pinjamkan saja satu mobilmu”
“Maghda, kenapa sekarang kau tidak penurut? Dulu kau selalu mengiyakan permintaanku.Sekarang kau lebih suka berdebat denganku.” Raymond menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Dani membelokkan mobilnya ke jalan yang agak sempit dan menghentikannya di depan sebuah area pemakaman.
“Ini kah tempatnya?” tanyaku.
“Iya,ayo kita turun,” jawabnya.
Tiba tiba jantungku berdetak cepat.Aku akan segera bertemu orang tuaku.Ray menggenggam erat tanganku dan membawaku ke sebuah area pemakaman keluarga mungkin, karena letaknya agak terpisah dengan yang lain. Ray membuka pintu paga besinya. Ada beberapa makan yang sangat bersih dan terurus.
“Ini makam ayahmu dan ini ibumu,” kata Raymond.
Di batu nisan tertulis “Surya Hadi Wiratama bin Wiratama Admadja” dan di sebelahnya tertulis “Rosiana Agustine binti Antawirya”
Perasaanku sedikit berkecamuk, tapi aku tidak boleh menangis di sini. Kupejamkan kedua mataku dan kubacakan beberapa untaian doa untuk kedua orang tuaku.Ray memelukku dari belakang dan mencium rambutku.
“Kak Ray, terimakasih.” Kugenggam punggung tangan Ray yang memelukku.Kami menoleh ke arah pintu saat seseorang masuk ke area makam ini.
“Kak Cris,” kataku.Pria itu tersenyum.
“Hai, kenapa tidak memberitahuku kalian kemari?” tanyanya.
Cristo duduk berjongkok dan membacakan doa tepat di makam samping ayahku.
“Itu makam siapa?” tanyaku setelah Cristo selesai.
“Mamaku,” jawabnya.
“Mamamu? Apa hubungannya dengan ayah dan ibuku? Kenapa mereka bersebelahan?” tanyaku.
“Papaku adalah ayahmu juga Maghda.Aku sudah sering katakan bahwa kau adalah adikku.Yang di depanku ini adalah mamaku dan yang di depanmu itu adalah mama Rosi, ibumu.Dan yang di tengah ini adalah papa Surya, ayah kita,” jawab Cristo.
“Apa? Jadi ayah kita punya dua istri?” Rasanya sakit sekali dadaku. Ya Tuhan, apakah yang kualami sekarang adalah karma dari ibuku.
Kutinggalkan tempat itu dengan langkah sedikit berlari. Aku tak bisa lagi menahan tangisku.Aku jatuh terduduk di luar pemakaman di sela tangisku.Raymond mengeja dan memelukku.
“Maghda jangan begini,ada apa? Harusnya kau bahagia karena kau tidak sendirian di dunia ini.Kau masih punya Cristo dan kakek,” kata Raymond.
“Apa ibuku mengambil suami orang? Apa ibuku merebut ayah Cristo dari istrinya?” tangisku semakin keras.
Tiba tiba Cristo datang dan ikut memelukku.
“Tenanglah adikku,jangan berfikir terlalu jauh.Ibumu tidak mengambil ayahku dari ibuku.Masuklah ke mobil akan kuceritakan sambil jalan.”
Raymond dan Cristo sama sama melepaskan pelukannya dan membawaku masuk ke dalam mobil Raymond.
“Pak Jun, pergilah dulu jemput kakek di klinik.Nanti kutelpon kalau aku butuh dijemput,” kata Cristo kepada sopirnya.
“Baik Tuan,” katanya lalu pergi.
Cristo duduk berhadapan denganku sementara Raymon duduk di sebelahku.
“Kita ke mana Tuan?” tanya Dani.
“Ke restoran tepi danau pinggir kota.Kita makan siang dulu,” jawab Raymond.
Dani melajukan mobilnya menuju ke tempat yang disebutkan Raymond.