LOVE YOU

LOVE YOU
Part77


Raymond membawaku entah ke mana, dalam perjalanan aku hanya melemparkan pandanganku ke luar jendela.Aku tahu dari tadi dia melihat ke arahku.Garis kemarahan masih jelas tergurat di wajahnya.Entah sejak kapan pria yang sangat kukagumi dan kucintai dari masa kanak kanak itu menjadi menyeramkan seperti ini.Kelembutan dan kehangatan yang dulu selalu kudapat darinya tidak pernah kurasakan sekarang.Raymond cenderung arogan dan seakan senang sekali saat melihatku menangis karena dirinya.


Aku sedikit kaget karena ponsel di tasku berdering.


Ada nama Cristo dan segera kuangkat.


“Kak...”


“Dia bersamaku, kau tidak perlu mencarinya.”


Ray mengambil ponselku dan mematikannya setelah berbicara.


Ia membanting dan melempar ponselku ke luar Jendela dengan marah.


“Ray, itu...”


“Kenapa mengganti ponsel dan nomormu? Ke mana kau tiga hari ini hah?” Ray menggenggam tanganku dengan kasar.


“Maafkan aku,Kakek memanggilku dan Cristo membawaku ke sana,” jawabku.


“Aku sudah bolak balik mencarimu di rumah Kakek.Aku sudah kerahkan banyak pengawalku untuk mencarimu bahkan sampai ke perkebunan tapi kau tidak ada di manapun.Jangan mempermainkaku Maghda.” Ray menarikku dan mencium bibirku dengan kasar.


“Ray sakit,aku tidak membohongimu. Aku bersama Kakek dan Cristo,” jawabku.


“Tempat mana milik mereka yang tidak kutahu?” teriak Raymond.


“Kau bisa telpon Kakek atau Cristo dan tanyakan sendiri.”


“Lalu apa yang tadi? Kenapa kau makan dengan Abiyasa? Apa kau ingin main api denganku Maghda?Apa kau ingin aku habisi Abiyasa dan seluruh keluarganya hah?”


Raymond mendorong bahuku dengan kasar.


Seketika itu aku menangis, hatiku sangat sakit mendapat perlakuan sekasar itu dari orang yang sangat aku cintai.


“Turunkan aku Ray, kalau kau membawaku hanya untuk kau pukuli, aku akan meninggalkanmu tanpa ragu,” isakku. Ray menatapku, wajah tampannya itu masih terlihat kaku.


“Maafkan aku,” gumamnya.Ia meraih tanganku dan menciunya.


“Kakek tidak mungkin seperti itu, dia tahu bagaimana diriku.Maghda dengar, aku menikah atau tidak, dengan siapa pun juga kita tidak akan berpisah.Aku akan terus bersamamu mengerti?”


“Itu tidak akan bertahan lama Ray, kau akan memilih keluargamu.Istri dan anakmu. Baiklah,akan kutemani kau bermain sampai kau bosan dan meninggalkanku,” kataku.


Raymond menarik pergelangan tanganku.


“Maaf Tuan, sudah sampai,” tiba tiba supir memberitahu kalau sudah sampai dan membuat Raymond menghentikan aksinya.


Supir itu membukakan pintu dan Raymond menbawaku ke luar.


Kami memasuki sebuah Villa di puncak, tapi memang terlalu besar kalau disebut Vilĺa. Beberapa pelayan mengangguk kepada Raymond.


“Ray, ini Vila milikmu?” tanyaku.


“Ini kubeli untukmu, kita akan ke sini saat senggang,” jawabnya.


Ray membawaku masuk ke sebuah kamar yang lumayan besar dan sangat nyaman.Ia mendorongku hingga aku terlentang di atas tempat tidur.


Dengan cepat ia melepas pakaiannya dan mengurungku dalam kungkungannya.


“Ray, apa yang ingin kau lakukan? Jangan begini Ray, please,” pintaku.


“Ini hukuman karena bersembunyi dariku.”


“Tapi aku... Mmmh.”


Ray mencium bibirku dengan lembut, berbeda sekali dengan perlakuan kasarnya selama di perjalanan.


Tanpa terasa air mataku mengalir, aku tidak mampu menolak setiap gerakan dan cumbuannya seperti sihir yang tidak mampu aku lawan.


“Aku mencintaimu Maghda, akan selalu seperti itu,” bisiknya.


Kukalungkan tanganku di lehernya, Ray aku tidak mampu membencimu.