
Aku menghabiskan bubur buatan Ray dengan cepat.Ia tersenyum senang, tangannya segera mengambil air mineral dan sedotan yang ada di meja.
"Minum vitaminmu, aku tidak mau bayimu kekurangan nutrisi.Ini juga membuatmu tidak merasa mual," Ray membuka Tub vitamin yang ada di meja.Kupandangi wajah tampan di depanku.Ray, aku semakin sakit saat kau memperhatikanku.Ray mencubit ujung hidungku saat aku tidak menjawab panggilannya.
"Apa kau ingin aku menciummu baru kau perhatikan aku?" Ray menyuapkan vitamin itu ke mulutku.Kubuka mulutku dan kuminum air mineral yang tadi diberikannya padaku.
"Pulanglah, aku akan baik baik saja di sini. Aku sudah tidak takut sendiri lagi,ada malaikat kecil yang menemaniku," kuusap perutku.
"Akan lebih baik jika ada malaikat besar ikut menjagamu, Cantik.Istirahatlah,aku akan tidur di bed sebelah sana.Rumah sakit ini milik kakek,jadi kamar inap ini hanya untukmu.Tak akan ada yang protes aku tidur di sini," kata Raymond.
"Kenapa menolongku? Kenapa kau peduli padaku?" tanyaku.
"Maghda tidurlah kau harus istirahat, ini untuk menebus kesalahanku.Jangan bertanya lagi," Ray menyelimuti tubuhku.
"Sudah kukatakan jangan menebus kesalahan karena semua ini bukan salahmu.Aku yang merelakan diri untuk kau tiduri.Jadi berhentilah menyalahkan dirimu.Dan satu lagi, jangan mengasihani anakku dengan memberikan pengakuan padanya." Ray tidak menjawab, ia beranjak ke bed di sebelahku. Membaringkan tubuhnya dan menejamkan matanya.
Oh Ray, kenapa tidak kau jawab pertanyaanku yang sangat ingin kutahu jawabannya. Beberapa saat kemudian seorang perawat datang untuk memeriksa tekanan darahku dan menyuntikkan beberapa obat di selang infusku.Perawat itu pergi,kulihat Ray masih memejamkan matanya.Ah mahluk tampan itu, entah kenapa tiba tiba saja jantungku berdetak sangat cepat.Kutarik nafas panjang karena dadaku sedikit sakit.Aku tahu Ray tidak tidur,dia hanya memejamkan matanya.
"Kak Ray ke mana Kak Cris? Kenapa dia tiba tiba pergi? Bahkan tidak pamit padaku?" tanyaku. Ray membuka matanya.
"Ada urusan sedikit, kakek memanggilnya," jawab Ray.Mata itu melihatku intens,yah mata tajam yang selalu kukagumi.Ya Tuhan, ngeres saja otakku ini.Han pasti mengutukiku kalau melihatku menatap pria lain seperti ini. Kupejamkan mataku, sialnya wajah Ray tetap saja ada di pikiranku.Aku terkejut dan kubuka mataku saat jari jari panjang dan lembut mengusap pipiku.
"Kak Ray."
"Ya, kau mau bertanya lagi?" tanyanya. Aku tersenyum karena dia bisa menebakku.
"Apa kau dulu benar benar mencintaiku?" tanyaku.Ray menjawabnya dengan anganggukan.
"Kenapa kau meninggalkanku begitu saja ? Apa karena Tuan Smith memaksamu? Apa karena kau sudah dijodohkan dengan anak temannya itu?" tanyaku.
Ray menakupkan telapak tangan ke mukanya.
"Maghda,sangat sulit dijelaskan dan rumit. Semua di luar dugaanku dan Cristo. Aku juga syok dengan kenyataan di depanku. Aku minta sekarang istirahatlah.Setelah kau sembuh akan kuantar kau ke makam ayah ibumu," Ray membelai lembut kepalaku.
"Apa?"
"Aku tahu siapa ayah ibumu,akan kuantarkan kau ke makamnya setelah ke luar dari sini dan sembuh," katanya.
"Benarkah?" tanyaku tak percaya.Tiba tiba air mataku berderai tanpa henti.Ayah ibuku? Ray mencarinya untukku yang sekian tahun tidak menemukan petunjuk apa pun.
"Iya Maghda, sekarang istirahatlah.Kau harus sembuh secepatnya," jawab Ray seraya mengusap air mataku.