LOVE YOU

LOVE YOU
Part78


Sepanjang sore itu kuhabiskan hariku bersama Raymond.Kami tidak terlalu banyak saling bicara, Raymond lebih banyak memelukku tanpa banyak bicara.


“Ray, apa kita akan seperti ini sepanjang waktu.Aku akan membersihkan diri sudah mau magrib,” kulepaskan tangan Raymond yang masih memelukku.


“Aku belum puas memelukmu,” katanya dengan suara parau.


“Ayolah,” kataku Jengkel.Ray tersenyum dan melepaskan pelukannya.


“Mandilah, aku akan mandi di kamar sebelah.Aku sudah minta pengurus rumah untuk membelikanmu beberapa set pakaian.Besok kita turun, ke Mall beli beberapa lagi,” kata Raymond seraya memakai kembali kimononya.


Aku segera ke kamar mandi tanpa menanggapi kata katanya.


Hah,stress sekali rasanya.Bagaimana aku terlibat hubungan yang tidak jelas seperti ini.Aku masih bingung walau pun waktu itu Raymond mengucapkan ikrar pernikahan, tapi itu terjadi saat kami masih kecil.Apa ini dianggap sah.


Terdengar ketukan di pintu kamar mandi.


“Aku pergi sebentar,Sayang.Tunggu aku makan malam,aku akan segera kembali. Jangan terlalu lama di kamar mandi nanti masuk angin.Maghda,Sayang...” Terdengar suara Raymond,segera kupakai baju mandiku dan kubuka pintu kamar mandi.Raymond masih berdiri di depan pintu kamar mandi.Kudorong tubuhnya sedikit minggir.


“Iya, pergilah.Suruh seseorang memanggilku,” jawabku seraya membuka sebuah papperbag yang ada di atas ranjang.


Tiba tiba Ray memelukku dari belakang.


“Apa kau bersembunyi dariku karena marah aku mengambil gelang yang diberikan mama kemarin?” tanyanya.


“Untuk apa? Aku hanya merasa senang atas pemberian Mama Kinan.Walau hanya sepasang sandal jepit, kau tidak perlu salah faham.Aku bukan wanita yang gila barang mewah.Jadi tidak perlu merasa bersalah,” kataku.


“Akan kuganti dengan barang yang ratusan kali lebih baik dari gelang itu.”


“Tidak usah,kalau barang itu hilang atau rusak nanti aku tidak mampu mengembalikannya.Semua barang dan uang yang diberikan Rouhan sudah kukembalikan.Nanti juga akan kuhitung berapa banyak yang sudah kau berikan untukku.Pergilah, kau tadi mau pergi bukan?” tanyaku.


“Apa kau masih punya perasaan untuknya Maghda? Apa kau mencintainya?” geramnya.Ray mencengkeram lenganku hingga membiru.


“Sakit,” kataku.Ray melepaskan lenganku dan aku pun terjatuh di tepi ranjang.


“Jawab Maghda,” kata Raymond dengan suara bergetar.


“Aku menikah dengannya bukan karena aku jatuh cinta padanya.Tapi karena aku ingin memiliki sebuah keluarga dan dia datang membawa apa yang kuharapkan. Aku harus melanjutkan hidup dan mengahiri penantian tidak jelas kau akan kembali atau tidak.Dan nyatanya sekarang kau kembali tapi bukan untukku.Aku harus bisa menerima bahwa inilah takdirku.Menemukan kembali keluargaku saja sudah cukup bagiku dan Tuhan masih memberiku hadiah malaikat kecil di perutku.Kau masih memenangkan cinta di hatiku.Tapi walau pun begitu,setelah kau menikah nanti, aku tetap akan pergi dari sisimu,” kataku.


Ray memeluk dan menciumi rambutku.


“Tunggulah sebentar, kita bertemu saat makan malam nanti.Kau cukup mengingat bahwa takdirmu adalah diriku.Kau tidak akan pergi ke mana pun Maghda.”


Ray mencium pipiku lalu pergi dari kamar ini.Kutatap punggungnya menghilang di balik pintu.


Tanpa sadar air mataku mengalir dengan deras,isak tangisku tidak bisa kutahan lagi.Aku berpisah dengan Rouhan karena ada wanita lain, dan sekarang Raymond juga akan membawa wanita lain dalam hidupku.Aku harus membicarakan ini dengan kakek dan memintanya untuk membawaku jauh dari Raymond.


Kalau dulu Ray pergi dariku, ini saatnya aku meninggalkannya.


Sevilla,aku akan meminta Cristo membawaku ke Sevilla, tempat di mana dia tinggal dan dibesarkan oleh saudara sepupu kakek.Aku akan memintanya, aku harus mencari passportku, surat suratku ada di Mansion Cristo.Kuhapus air mataku,aku akan berusaha pergi besok.Maafkan aku Ray,aku tidak mau lagi hidup seperti ini. Terdengar ketukan pintu dan kupersilahmkan masuk.


“Nona,Tuan meminta saya mengantar mukena untuk Anda,” kata seorang pelayan.


“Ya, terimakasih,” kataku seraya menerima paperbag dari tangannya.


Aku duduk di tepi ranjang,rasanya otakku suda berfikir sangat jauh.