LOVE YOU

LOVE YOU
Part60


Di meja makan terhidang banyak sekali makanan, semuanya adalah makanan kesukaanku dan dia. Ray duduk di sebelahku dan menyodorkan piringnya padaku.Aku yang bingung hanya melihatnya tak mengerti.


“Ambilkan makanan untuk suami kecilmu,” katanya.


Segera kuraih piring itu dan mengambilkan makanan kesukaannya.Wajah tampan itu tampak berseri menerima makanan dari tanganku.


“Terima kasih Sayang,” katanya.


Ah aku merasa sangat canggung, calon suami orang memanggilku sayang tanpa sanggup aku lawan.


Ray makan begitu lahap dan cepat, sementara aku hanya mampu makan sedikit karena perutku tidak enak.


“Mana vitamin dari dokter? Apa kamu tidak membawanya?” tanya Raymond.


“Lupa, tadi buru buru pergi,” jawabku.


“Pergi ke mana? Kenapa tidak memberitahuku.Kita pacaran sekarang,kau kekasihku.Tolong katakan kalau kau ingin pergi atau membutuhkan sesuatu,” keluh Raymond.


“Kak Ray, kau ini orang sibuk. Mana mungkin aku mengganggumu untuk urusan kecil.”


“Mulai sekarang jangan memanggilku kakak, panggil aku Raymond OK.Sesibuk apa pun akan aku luangkan waktu untukmu,paling tidak pamit padaku kau mau ke mana.”


“Baiklah, kedepannya kalau aku pergi akan aku telfon dulu,” jawabku.


“Aku mau kembali ke kantor ya, satu jam lagi akan ada meeting dengan klien.Tadi aku menundanya, ini klien penting. Kau bisa mendekorasi ulang kamarku dan kamar lain di lantai atas.Kalau kau capek bisa istirahat di kamarku, ada beberapa pakaian di lemari yang bisa kau pakai, kau juga bisa menyegarkan diri.Nanti aku pulang ke sini dan kita menginap OK,” Ray mencium kepalaku laku memakai jasnya dan pergi.


Oh, sepertinya setiap kata yang diucapkannya adalah perintah dan tidak memerlukan konfirmasi dariku.Beberapa pelayan sibuk menawarkan makan penutup padaku dan akhirnya aku mengiyakan salad buahnya.☆☆☆


RAYMOND POV


Kuminum kopi yang disediakan sekretarisku.Cuih sialan kenapa rasanya tidak enak, padahal dia sudah membuatkanku kopi setiap hari.Apa karena kepalaku saja yang lagi pusing karena memikirkan dia.


“Boss, ada apa memanggilku?” Ronal datang tanpa kusadari.


“Apa kau sudah menghuhungi Bimantara? Bagaimana dengan Dani?” tanyaku.


“Dani mengikuti Nona Maghda dan Bimantara sudah melakukan tugasnya dengan baik,” jawab Ronal.


“Rumah di pinggir kota yang dekat pantai,” jawab Ronal.


“Selesaikan transaksinya, besok sudah harus deal. Ganti semua perabotnya dengan yang baru dan rumah yang ada di belakangnya itu juga beli dan jadikan basecamp untuk pengawal kita.Aku ingin dia merasa nyaman tinggal di sana,” kataku.


Ponsel di mejaku bergetar, segera kulihat pesan yang masuk.Ternyata sebuah video dari Dani, video yang memperlihatkan Maghda dan Rouhan yang sedang berbicara dan menyuruh Maghda masuk ke dalam mobilnya.


“Brengsek,Ron siapkan mobil. Mundurkan meetingnya nanti jam dua.”


Dengan panik kutelfon Dani.


“Ikuti ke mana Brengsek itu membawanya, dan share lokasinya padaku.” Kututup telponku dan bergegas turun seraya mengenakan jasku. Telponku berdering kembali, segera kuangkat karena Papa yang menelpon.


“Ya Pa? Lusa? Ya akan kujemput sendiri.Raymond langsung menikah ya Pa tidak usah menunggu bulan depan. Kelamaan lah, apa nunggu dia sampai diambil orang.Kenapa Papa membuat perjanjian sialan seperti itu Pa? Raymond sudah cukup dibuat susah dengan perjanjian itu.Baiklah kita bahas setelah Papa di sini.” Kututup telpon dan kurem4s rambutku dengan kesal.


Ronal membelokkan mobil ke sebuah rumah yang cukup besar di kawasan elit.Sial Rouhan brengsek, kenapa dia membawa Maghdaku ke sini.Aku bergegas Turun dan masuk ke rumah itu karena pintunya juga terbuka. Kudengar Rouhan sedang membujuk Maghda untuk tinggal di rumah itu.Berani sekali dia mengajak perang denganku.


Hatiku mendidih saat Rouhan berlutut memohon kepada Maghdaku.


“Rouhan Bastian,kau tidak perlu melakukan itu.Aku akan mengurus Maghdalena dan anaknya dengan baik.Mereka tidak akan kekurangan apa pun bersamaku.” Sontak keduanya menoleh ke arahku.


“Kak Ray...” kata Maghda kaget melihatku.


“Tuan Raymond,kau sungguh tidak sopan masuk ke rumah orang tanpa mengetuk pintu,” kata Rouhan.


“Aku melihatmu membawa Maghda dan mengikutimu. Pagar rumah ini terbuka lebar, begitu juga pintunya.Aku hanya akan mengambil milikku kembali,milikku yang telah kau curi,” kataku.


“Oh,apa kiranya yang telah kucuri darimu?” tanya Rouhan sinis.


“Kau mencuri istri kecilku, istri yang kunikahi pada saat aku berumur tujuh tahun dan aku tidak pernah menalak dia sampai saat ini. Han, saatnya aku mengambilnya lagi dan jangan mengganggu kami. Maghda ayo pergi,” Kuraih tangan Maghda dan kebawa ke dalam Mobil.Aku tidak peduli Han masih berdiri terpaku.


“Ron handle meetingnya dan antarkan kami ke mansion. Nanti sore aku akan mengevaluasinya.”


“Baik Boss.”