
Kulihat jam tanganku sudah jam satu.Sekali lagi kulihat ponselku, kubaca sekali lagi chat dari Aby.Dia memberiku alamat Restoran tempat kami bertemu.
“Sudah sampai Nona,” kata sopir taksi yang kutumpangi.
“Terimakasih Pak,” kataku setelah membayar ongkos taksinya.
Kulangkahkan kakiku ke dalam restoran yang sudah dipesan sebelumnya oleh Abiyasa.
“Maaf, meja yang dipesan oleh Tuan Abiyasa,” kataku pada resepsionis.
“Sebentar Nona, akan saya periksa,” katanya.
“Fen, tolong antar Nona ini ke 9C.”
Seorang pelayan menghampiri dan mengantarku ke sebuah private room yang dimaksud.
Aku tertegun saat membuka pintu dan melihat seorang pria tampan sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan di restoran.
“Maaf, apakah Anda Dokter Abiyasa?” tanyaku ragu.
Pria yang sedang serius memasang perban di lengannya itu menoleh ke arahku.Senyum berbinar segera menghiasi wajahnya.
“Iya, Anda Nona Maghdalena kan? Silahkan duduk, maaf ini tadi ada insiden kecil,” katanya seraya berusaha mengikatkan perbannya dengan susah payah.
Secara spontan aku segera membantunya. Aby tersenyum sangat manis.Wajahnya yang bersih dan belahan dagunya itu membuatku terpana beberapa saat.
“Maaf membuat suasan jadi tidak enak. Ini buku menunya, Nona silahkan pesan dulu.”
Aby menyodorkan buku menu kepadaku.
“Jangan memanggilku Nona, panggil Maghda saja.Maaf jadi merepotkan Dokter. Terimakasih sudah bersedia memenuhi permintaan Kakek,” kataku seraya membuka buku menu yang disodorkannya.Aby tersenyum hingga giginya yang sangat rapi sedikit kelihatan.
“Aku yang memohon pada Kakek untuk bertemu denganmu.Bukan kakek yang menyuruhku.Mmm, Maghda.Ternyata kau jauh lebih cantik dari fotomu,aku senang sekali bisa bertemu denganmu hari ini.”
Aby kembali memperlihatkan senyumnya yang menawan, kuakui dia memang sangat menarik sebagai seorang pria.Senyumnya yang ramah dan tidak dibuat buat.Tapi itu wajar karena dia seorang dokter.
“Nona, apa yang kau pikirkan? Apa aku terlalu menyeramkan?”
Aku tergagap saat Aby mengetukkan jarinya ke meja di depanku.
“Tidak koq,kamu sangat.. eh.Terimakasih sudah sabar merawat kakek.Apa dia sangat rewel dan suka marah?” tanyaku.
Aku tak bisa menahan tawaku melihat ekspresinya yang lucu.
“Dokter sangat narsis walau pun itu benar,” kataku.Aby ikut tertawa.
“Maghda sepertinya kita ini sangat cocok satu sama lain.Aku sangat senang, aku berharap suatu saat kau bisa menerimaku yang kurang sempurna ini. Aku banyak mendengar tentang dirimu dari kakek, selebihnya aku coba cari tahu sendiri.Maaf semoga kamu tidak keberatan ya, aku memang sudah bertekat untuk lebih mengenalmu,” katanya dengan senyum manisnya.
Pesanan kami datang, aku memesan udang asam manis dan cumi asam manis yang baru baru ini sangat kusukai.Juga jus lemon yang membuat mualku hilang.
Sementara Aby memesan tumis brokoli daging dan jamur.Entah kenapa aku juga sangat menginginkannya.Aby melambaikan tangannya di depan mataku.
“Kalau suka kita join aja, jangan sampai bayinya ileran nanti.Aku juga pingin mencicipi udang sama cuminya,” katanya.
“Iya deh, sedikit saja tapi ya,” kataku.
“Iya.Sini biar aku kupaskan udangnya.” Aby mengulurkan tangannya, kulihat ia menyeringai menahan rasa sakit di lengannya.
“Aby, biar aku saja.Sebenarnya lenganmu kenapa, bagaimana kamu bisa mendapatkan luka seperti ini?” tanyaku.
“Saat aku turun dari mobil di parkiran, ada sebuah mobil sport menyerempetku hingga aku jatuh dan menimpa pagar taman. Lenganku sedikit robek, tapi orang itu sudah minta maaf dan memberiku kotak P3K miliknya.Dia mau mengantarku ke rumah sakit tapi aku menolaknya karena aku takut kau akan kecewa dan mengira aku tidak datang,” jawabnya.
“Aby,kau kan bisa menelponku.Itu tidak masalah, kita kan...”
“Mari makan, jangan bahas lagi masalah ini.Aku bisa menahan rasa sakit untuk bertemu denganmu.”
Aby mengambilkan tumis brokoli dan meletakkannya di piringku dengan tangan kirinya.
“Aku akan mengambilkannya untukmu, kau pasti kesulitan kan?” kataku.
“Tidak apa, tanganku bisa berubah menjadi kidal,” katanya.
Aku tertawa kecil.Aby ini ternyata sangat pandai mencairkan susana.
Aku yang sering canggung dengan orang asing,tidak mudah dekat dan cenderung tertutup bisa akrab dengannya walau baru kali ini bertemu.
“Hai,maaf baru ke mari.Bagaimana dengan lukamu?”
Tiba tiba seseorang datang menyapa Aby.Aku yang duduk membelakangi pintu sangat terkejut karena mengenal betul suara itu.