
Bima mengambil beberapa kaleng susu dan soft drink dari dalam kulkas miliknya.
“Kapan rencananya kamu pindahan? Biar kuantarkan. Apa perlu membawa truk Fuso?” tanyanya.Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Tidak usah Mas, aku tidak punya apa apa.Hanya perlu sekoper pakaian dan laptop. Tunawisma sepertiku beli sesuatu pasti sangat merepotkan,” jawabku.
“Uluh sadis banget tunawisma, kau cuma belum siap menetap.Kau harus menetapkan hatimu dulu baru menetapkan rumah.Lagi pula kau ini desainer, bohong kalau tidak bisa membuat rumah yang nyaman ditinggali,” kata Bima.
“Kata katamu itu lho, seperti peramal saja,” kataku.
“Tertulis jelas di dahimu, terlukis jelas di wajahmu.Kau sedang tidak baik baik saja Lena.Aku lama mengenalmu, jangan mengelak lagi.Apa lagi yang kamu butuhkan?” tanya Bima.
“Aku ingin beli mobil,aku butuh alat transportasi.Yang murah saja Mas, sekitar duaratus jutaan lah.Tolong antar aku ke showroom ya,” pintaku.
“Aku kemarin baru beli mobil baru buat istriku, tapi sepertinya dia kurang suka karena warnanya tidak hitam. Dia selalu saja pakai mobil hitam,alasannya kalau kotor tidak kelihatan.Cukup pakai kemoceng saja kalau bersihkan.Maunya sih kasih kejuatan, ee malah ... Kali aja kamu tertarik, harganya tigaratus tigapuluh kamu bisa kurangi dikit deh.Bayarnya diangsur juga gak masalah. STNK sekitar seminggu lagi jadi, kalau mau langsung kuganti namamu,” kata Bima.
“Warna apa Mas, bisa kulihat?” tanyaku.
“Ikut aku, warna Navy Blue.”
Bima beranjak ke luar ruangan dan aku mengikutinya.Ia membawaku ke garasi mobil pribadinya.Ada sebuah mobil sport dan beberapa mobil lain. Ia membawaku kepada mobil minibus warna biru, model terbaru.Mobil matic dan memang sangat cocok untuk kendaraan seorang wanita.
“Bagaimana Lena? Kalau kau tidak tertarik akan kutemani ke showroom. Ini terpaksa aku tukar warna hitam.” Katanya.
“Boleh Mas, aku suka warna dan modelnya,” jawabku.
“Baiklah, kau bisa tes drive. Harganya aku kurangi lima juta deh.Sementara pakai dulu mobilku sampai suratnya jadi. Aku bisa pakai mobil lain kalau mau ke luar.” Bima tersenyum senang.
Bima membawaku kembali ke ruang kantornya.
“Len, kau harus menjaga dirimu.Kau tampak lebih kurus dari terakhir kita ketemu.Aku ingin bertanya satu hal padamu, apa benar kau berpisah dengan Tuan Rouhan? Ini aku dengar secara tidak sengaja. Tadi aku ada meeting di kantornya dan aku mendengar percakapan seorang wanita dan sekretarisnya dan wanita itu mengaku dirinya adalah istrinya Rouhan.”
“Maafkan aku tidak jujur dari awal Mas.Iya kami sudah berpisah.Dia menikahi wanita yang dijodohkan ibunya dan aku memilih mengakhiri semuanya.Aku hanya ingin hidupku tanpa konflik,” jawabku.Bima menakupkan tangannya ke wajahnya. Matanya sedikit berkaca kaca.
“Sudahlah Mas, ini adalah garis hidup yang harus kulalui. Doakan saja semuanya mudah untukku.Aku pamit dulu, mobilmu aku bawa ya.Berikan aku nomor rekeningmu, akan kutransfer Dpnya dulu,” kataku.
“Nanti saja kalau suratnya sudah jadi,tidak perlu sekarang.Ini kunci sama STNKnya.” Bima mengambil STNK dan kunci mobil dari dalam laci mejanya.
“Aku pergi dulu,” kuambil surat dan kunci mobil.Bima mengantarku ke garasi dan membantuku memgeluarkan mobilnya.
Kulajukan mobil Bima menuju ke apartemen Raymond, entah kenapa aku sedikit merasa lelah.Mungkin malam ini aku akan tidur di sana sekalian mengemasi barang barangku. Kurebahkan sejenak tubuhku di atas sofa.Usia kandunganku semakin bertambah dan membuatku mudah sekali merasa lelah. Terdengar notifikasi pesan di ponselku. Segera kubuka dan ternyata ada pesan masuk.Ternyata dari Papinya Han yang memberitahuku untuk datang habis magrib ke sebuah rumah makan yang dulu beberapa kali dia mengajakku makan sekeluarga.Aku segera membalas dan mengiyakannya.Lalu kubuka notifikasi lain, ada pemberitahuan yang masuk ke rekening Bank milikku, Kenapa besar sekali, siapa yang mengirimiku uang sebesar 2M, kenapa tidak tertera pengirimnya. Telpon di tanganku berbunyi,Cristo yang menelponku.
“Gimana sudah masuk? Aku barusaja mengirim uang, ini perintah dari Kakek,” katanya.
“Untuk apa Kakek memberiku uang sebanyak itu?” tanyaku.
“Besok aku pulang, akan kujelaskan OK? Apa kau tidak ingin ke perkebunan?” tanyanya.
“Kau harus merayuku baru aku mau,” jawabku.Cristo tertawa renyah.
“Baiklah, baiklah.Malam ini aku akan browsing mencari seribusatu cara merayu wanita.Besok aku akan menjemputmu,Bye ..”
Sambungan telpon terputus. Kuhela nafas panjang, setidaknya aku masih punya Cristo dan Kakek, itu adalah berkah yang besar yang harus kusyukuri.