LOVE YOU

LOVE YOU
Part55


Ray menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.Wajah tampan itu mengerutkan alisnya,aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu.Perlahan kuhampiri tanpa mengganggunya.Aku duduk diam tak jauh darinya.


“Kenapa duduk di situ?Apa aku terlalu menakutkan?” tanya Ray tanpa membuka mata.


“Aku pikir tidur,ternyata mengintip,” jawabku. Ray tersenyum dan membuka matanya.


Dengan cekatan ia membuka kancing kemejanya dan melepaskannya.


“Eh kau mau apa?” tanyaku kaget.


“Kerokin,aku masuk angin. Tolong ambilkan celana Cargo pendek sama kaos T-Shirt di lemariku ya.Badanku rasanya tidak enak Maghda.” Ray langsung tengkurap di atas sofa.


“Calon istrimu bisa mencekikku kalau tahu kamu minta dikerokin sama aku. Kapan dia kau bawa ke Mansionmu?” tanyaku seraya mengambil minyak kayu putih dan uang logam seribuan di laci nakas di kamar.


Segera kubalurkan minyak ke pungungnya dan kulakukan ritual kerokan di punggungnya. Setelah itu kubuatkan susu coklat hangat kesukaannya. Kuambilkan pakaiannya dan kusimpan pakaian kotornya di keranjang.


“Kenapa ganti pakaian di sini? Aku ini perempuan lho,” kataku.Ray terkekeh.


“Buat apa ditutupi,toh kau sudah pernah lihat semuanya. Yang di dalam celanaku ini bentuk dan ukurannya tetap sama seperti waktu itu.” Ray kembali tertawa.


“Cepet pulang sana, kalau diladenin tambah ngelantur,” protesku.


“Maghda, bagaimana kalau dibandingkan dengan punya Han.Lebih OK punyaku atau punya dia?” tanya Ray.


“Kak Ray!!” teriakku.Aku sudah mau nangis mendengar pertanyaannya.


“Aku akan pergi secepatnya dari sini setelah dapat rumah. Aku perempuan murahan tidak pantas ada di rumah Tuan Smith yang terhormat.” Aku segera masuk kamar dan mengunci pintunya.


Perasaan sedih kembali menusuk hati dan pikiranku.


Kudengar ketukan di pintu.


“Maghda,buka pintunya.Aku minta maaf becandanya agak keterlaluan,” kata Raymond di balik pintu.


Aku hanya diam, perasaanku sangat terlukai dan kata katanya itu seakan mengatakan dengan jelas kalau aku melakukan itu dengan beberapa laki laki.


Ponselku berdering, aku tidak tahu siapa yang menelpon karena nomor itu tidak ada dalam kontakku.


Dengan ragu kuangkat telpon itu.


“Halo,” kataku.Lama tidak ada jawaban.


“Halo,siapa?” tanyaku lagi.


“Maaf tidak mengenalmu, mungkin salah sambung.”


“Lena,jangan ditutup.Aku hanya ingin mendengar suaramu.Mengenai susu ibu hamil itu,aku sudah cari tahu, teman kantormu tidak ada yang sedang hamil.Tolong jujurlah padaku,” katanya.


“Jujur mengenai apa? Aku beli itu memang buat seseorang, kenapa kau penasaran.Sudah ya,aku tutup telponnya,” kataku.


“Lena,apa kau sedang mengandung anakku?”


“Tidak,Bye.” Segera kuahiri panggilan itu.


“Klik.”


Aku menoleh ke arah pintu, ternyata Ray bisa membuka pintu.Tentu saja, ini adalah apartemennya.Ia pasti tahu semua password dan kunci.


Aku hanya diam duduk di tepi ranjang.Ray duduk di lantai dan memeluk kedua kakiku, menyandarkan kepalanya di pangkuanku.


“Jangan marah padaku,aku tak akan mengulanginya lagi.Kau boleh memukulku atau menjewer telingaku.Maghda, ayo kita mulai lagi seperti dulu waktu kau masih SMA.Kita mulai dari awal lagi. Bagaimana?” Raymond menengadahkan wajahnya.


“Kak Ray apa yang kau inginkan?” tanyaku.


“Kita pacaran,kita jadi sepasang kekasih seperti dulu. Aku mohon kau tidak keberatan.Aku tahu kau masih mencintaiku, aku perasaanku padamu tidak berubah Maghda, walau pun pernah ada Rouhan di hidupmu.Aku tidak menganggap itu.Mau ya,” pintanya.


“Kau ini, benar benar ya.Apa kau ingin menyakitiku hingga tuntas? Kak Ray,aku hanya ingin menjalani hidupku.Walau pun aku mencintaimu tapi aku tidak akan mengambil milik orang lain.”


“Maghda,permintaanku yang terakhir sebelum aku menikahi seseorang yang dijodohkan denganku sejak kecil.Aku ingin menjalani hidupku bersamamu.Ini tidak lama,hanya sațu bulan saja. Berikan aku kesempatan untuk menjalani kenangan indah bersamamu.Lima tahun aku dipaksa menjauh darimu. Biarkan aku bahagia sebentar saja.”


Ray bangkit dan berdiri di hadapanku.Tangannya segera memeluk kepalaku,tanpa sadar aku juga memeluk pinggangnya.Perasaan yang tidak bisa aku tolak dari seorang Raymond.


“Apakah ini tandanya kau setuju?” tanyanya.


“Baiklah.Walau pun nanti akhirnya aku yang tersakiti. Dengan satu syarat,” kataku.


“Apa itu?”


“Aku ingin cari tempat untuk membuka florist dan aku juga akan tinggal di sana.Jangan memaksaku untuk tinggal di sini atau di Mansionmu,” jawabku.Ray tidak menjawab.


“Baiklah.Tapi kau juga tidak boleh mengusirku saat aku ingin tinggal.”


“Ya,” jawabku.