LOVE YOU

LOVE YOU
Part64


Raymond POV


Hari ini weekend, aku berangkat ke kantor agak siangan seperti biasa. Dokumen dokumen masih menumpuk untuk kutanda tangani walau pun hari ini aku bisa santai.


“Boss.. Boss,” Ronal melambai lambaikan tangannya di depan wajahku.


“Ya ampun Boss,sampe serak manggil manggil dari do rendah sampe do tinggi.Ada apa nih, senyum terus dari tadi,” ledek Ronal.


“Mau tahu aja Lo, memang kenapa kalau lagi seneng? Boss mah bebas mau apa saja,” jawabku.Tiba tiba saja jantungku berdebar kencang saat mengingat ekspresi Maghda semalam.


“Mau apa Lo ke sini?” tanyaku.


“Analisis proyek di kota J sudah selesai,ini di depanmu Tuan.Harus segera diperiksa dan ditanda tangani,” jawab Ronal.


“Sudah tahu, pergi sono, ganggu orang lagi senang aja.” Kulempar sebuah berkas ke wajahnya.


“Nyonya besar sudah nyerah ya ? Dapat bonus dong gue.”


“Pergi nggak?” teriakku.


“Iya iya, pergi ya pergi aja. Yang penting bonusnya jadi ke luar.” Ronal meletakkan kembali berkas yang kulempar di atas mejaku.


Oh my God, aku tidak bisa tidak memikirkan Maghda sepanjang waktu, apa lagi yang telah kami lalui semalam. Akhirnya setelah berpuasa selama bertahun tahun, bisa kusatukan kembali secara lahir dan batin bersamanya.


Raymond POV End.


Siang ini kujanjikan untuk ke kantor Raymond dan membawakan makanan kesukaannya.


“Nyonya, makanannya sudah saya kemas.Dani sudah menunggu di depan.”


Terdengar suara pak Gun di depan pintu.


“Sebentar lagi saya turun Pak,” jawabku.Kulihat jam dinding sudah jam sepuluh, aku ingin datang lebih awal untuk menyapanya.Segera kuganti plester lukaku akibat tergores tangga.Semalam Ray marah karena aku manjat manjat sampai terluka.Foto Caroline yang aku pasang akhirnya dia turunkan lagi dan disimpan kembali di gudang.


“Ray, kalau memang benar kita dulu pernah menikah, aku harus cari papinya Rouhan untuk menanyakan kebenaran itu.Aku juga harus bertanya kepada kakek, aku yakin kakek pasti tahu,” gumamku.


Aku bergegas menuruni tangga dan mengambil makanan yang akan kubawa ke kantor Raymond.


“Hati hati Nyonya,” kata pak Gun.


“Ya, terimakasih,” jawabku.


Dani membukakan pintu untukku.


“Ke kantor Tuan, Dani,” kataku.


Dani melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


“Halo, bicara dengan siapa ini?” tanya Januardi.


“Pi, mmm ini Lena apa kita bisa ketemu?” tanyaku.


Tidak terdengar jawaban.


“Tuan...” kataku.


“Lena, Papi apa masih pantas menemuimu?” tanyanya.


“Ada yang Lena ingin bicarakan Pi eh Tuan.Bisakah kita bertemu? Tidak lama hanya beberapa menit saja,” pintaku.


“Tetaplah memanggilku Papi ya, kau tetap putriku walau pun Han bukan lagi suamimu. Papi lihat skedul dulu, setelah itu akan kukirimkan waktu dan tempatnya ya,” kata Januardi.


“Ya Pi,” kataku lalu memutus panggilan.


“Nyonya sudah sampai,” kata Dani seraya membuka pintu.


“Dani kau boleh pergi, nanti aku akan pulang bersama Tuan Raymond,” kataku.


“Iya Nyonya,” jawab Dani lalu kembali masuk ke mobilnya.


Aku bergegas ke lift khusus direktur seperti biasanya. Masih jam sibuk, sampai di kantor Raymond Tamara sekretarisnya segera menghentikanku.


“Nyonya ingin menemui Tuan CEO? Silahkan tunggu di ruang tamu sebentar.Masih ada tamu dan Tuan bilang tidak boleh diganggu siapa pun,” katanya.


“Baiklah, akan kutunggu di ruang tamu khusus di dalam,” jawabku.


“Tapi Nyonya ...” Tanpa kuhiraukan aku segera masuk ke ruang tamu di sebelah ruangan CEO.


Ternyata pintu ruangan Ray sedikit terbuka, ada sebuah kardus air mineral yang sengaja dibuat mengganjal pintu.Entah kenapa aku sangat tertarik untuk mengintip ke dalam.Ray tampak berbicara sangat intens dengan seorang wanita cantik.Mereka sedang membicarakan mengenai baju pernikahan dan Ray tampak sangat gembira membahas itu. Wanita cantik itu adalah wanita yang ada di dalam foto, Caroline.


“Ray, kau pasti sangat tampan pakai yang ini, atau ini. Kau bisa pilih salah satu untuk acara ijab qobulnya. Dan untuk resepsinya kalau aku sebagai wanita pasti sangat menginginkan yang ini. Tapi harganya fantastis, tigaratus jutaan.Bagaimana menurutmu, Sayang?” tanya wanita itu.


“Terserah saja, berapa pun harganya tidak masalah. Ini acara sekali seumur hidup Caroline.Pilihkan yang terbaik untukku,” jawab Raymond.


Wanita itu tersenyum manja. Ah Maghda apa kau sudah gila, kenapa masih ada di sini? Perlahan aku beringsut mundur dan tanpa sengaja menjatuhkan majalah yang ada di rak. Segera kutinggalkan ruangan itu dengan perasaan campur aduk.


“Nyonya,” Tamara sekretaris Raymond menghampiriku.


“Nona, tolong jangan beritahu CEO kalau saya datang ke mari ya,” kataku.


“Tapi Nyonya...”


“Tolong,” kataku. Tanpa menunggu jawabannya bergegas kulangkahkan kakiku menuju ke lift umum. Ada beberapa orang dan ternyata ada Ronal dan seorang rekannya yang juga hendak turun.