
Kulangkahkan kakiku masuk ke lantai satu, rekan rekanku tampak sibuk sengan projek masik masing.Kulihat Kinar tampak buru buru ke luar dan hampir menabrakku.
"Nar jangan seperti itu,Kalau nyium yang ganteng gak pa pa.Kalau nyium mobil apa nggak pesek tu hidung mancung," kataku. Kinar hanya menyeringai dan masuk ke dalam mobilnya.
"Rum, aku udah transfer enampuluh dua juta sudah masuk apa belum?" tanyaku kepada Arum.Gadis yang sibuk dengan laptopnya itu segera mendongak ketika mendengar suaraku.
"Mbak Lena,sudah Mbak.Makasih lho Mbak, kami jadi tidak enak, tidak ikut kerja tapi ikut dapat uang," katanya seraya menghampiriku.
"Aku kan memang ingin membantu kalian, jangan lupa ajak semua makan.Nanti kalau sudah kelar dan dapat uang lagi akan kutransfer lagi," kataku.
"Iya Mbak," Arum segera kembali ke mejanya. Aku segera naik ke lantai tiga tempatku tinggal.Kulihat lihat lagi gambarku yang masih berserakan di atas meja.Masih kurang banyak.Kuhela nafas panjang, kunyalakan laptop dan membuka emailku.Tidak ada komplain dari Ray Smith.Segera kuambil pinsil gambarku.Kubuat detail kamar lantai bawah, yang hampir sama model dan bentuknya.Kubuat gambar detail rest room yang cukup nyaman.Hehe, tak lebih sebuah rest room yang sangat kuimpikan.Mungkin suatu saat nanti aku bisa membuat rumah kecil dengan desainku sendiri. Ponselku berbunyi, tanda ada pesan masuk. Terpampang nama Cristoper,betapa senang hatiku.Setelah lebih dari enam bulan dia menghilang.
"Maghda,apa kabarmu gadis kecilku? Aku baru kembali dari Spain,aku ada oleh oleh untukmu.Apa kita bisa ketemu?"
Kulihat pesan itu berulangkali,aku tidak percaya seseorang yang sudah kuanggap kakakku itu tiba tiba muncul.
"Bisa Kak,kapan?" balasku.
"Aku sekarang ada di restoran Jepang di seberang rukomu.Kutunggu ya."
Ingin melonjak rasanya.Cristoper adalah teman akrap Raymond waktu SMU, dua tahun lebih tua dariku.Dia selalu ada pada saat aku membutuhkan.Kata orang wajah kami agak mirip, makanya banyak yang menyangka kalau kami adalah kakak adik.
"Ok,aku ke sana sekarang," jawabku.Bergegas kuturuni anak tangga rukoku.Kusebrangi jalan depan ruko yang tidak terlalu ramai.Aku segera masuk ke restoran jepang yang cukup ramai siang ini.Di pojokan seseorang dengan wajah tampan berkulit putih,rambut hitam legam menatapku dengan mengumbar senyumnya.
"Kak Cristo," kataku.Pria itu berdiri dengan kedua tangan masuk di saku celananya. Ia segera memelukku seakan sudah sewindu tidak bertemu.
"Sedikit.Aku mau Sukiyaki,aku lapar sekali. Tadi aku lupa sarapan," kataku. Pria tampan itu tersenyum.
"Biasanya suka Tokoyaki,apa lagi? Mau shabu shabu juga?" tanyanya.
"Jangan terlalu banyak,tidak muat perutku Kak.Kenapa Kakak datang sendiri, mana calon istrimu?" tanyaku iseng.Cristo tidak menjawab,dia hanya tersenyum kecil sambil menuliskan pesanan di buku pesanan.Setelah itu ia berikan pada pelayan yang sudah dari tadi menunggu.
"Aku dengar kau sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Kenapa tidak kau kenalkan suamimu padaku?" tanyanya.
"Dia sedang pergi,ada urusan bisnis ke Jawa Tengah," jawabku.
"Apa benar kau menikah dengan putra dari Januardi Antawirya?"
"Iya," jawabku.Cristo berdecih.
"Mereka bukan keluarga yang baik Maghda. Aku sangat menghawatirkanmu setelah mengetahui hal itu.Kalau saja aku ada di sini waktu itu," sesalnya.
Pesanan kami segera datang.
"Kak, kenapa pesannya banyak sekali?" tanyaku.
"Tunggu sebentar ya," pria itu tampak mengutak atik ponselnya.Beberapa kali ia tampak melihat ke arah pintu restoran.