
Sedangkan yang di luar merasa bahwa orang yang berada di dalam kamar mandi begitu lama. Erich mendekat kemudian mencoba membuka pintu kamar mandi, namun sayangnya pintu itu terkunci.
"Lia." Panggil Erich, sambil menggedor pintu kamar mandi.
Julia yang meilhat gagang pintu itu bergerak secara cepat ke atas dan kebawah membuat jantungnya memompa dengan irama yang tak karuan.
Namun bukan Erich namanya jika tidak berusaha untuk membuat pintu itu terbuka.
"Lia buka atau aku dobrak?" Teriak Erich dari luar, pikiran lelaki itu berseliweran ke sana kemari, dia takut kalau-kalau istrinya pingsan di dalam kamar mandi. Apalagi beberapa hari yang lalu saat membuka dan melihat-lihat media sosial Erich tak sengaja membaca berita tentang seorang wanita paruh baya yang di temukan tewas di dalam bak kamar mandi hal itu membuat diriya semakin frustasi tanpa sadar tenaganya untuk menggedor pintu tersebut semakin kuat.
Julia yang merasa sebentar lagi pintu itu akan rusak langsung memutar kunci dan membuka pintu tampaklah di depannya wajah Erich yang tersirat rasa khawatir, tanpa di sadari kini dirinya sudah ada dalam pelukan hangat suaminya.
"Mas." Panggil Julia lirih karna merasa pelukan Erich terlalu erat.
"Kamu ngapain di dalam?" Tanya Erich sambil mengurai pelukannya dan membelai pipi Julia.
Julia mengernyitkan dahinya kemudian menjawab. "Aku sikat gigi sama cuci muka."
"Kalau cuma itu kenapa lama sekali?" Tanya Erich lagi.
"Maaf." Jawab Julia, wanita itu tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya ia pikirankan di dalam kamar mandi.
Mereka berduapun berbaring kemudian Erich menarik selimut sampai ke atas dan menutupi dada Julia.
"Tidurlah jangan berpikir aneh-aneh. Selamat malam, aku mencintaimu." Satu kecupan lembut mendarat di kening Julia. Setelah itu Erich mematikan lampu dan menjatuhkan kembali tubuhnya di samping Julia kemudian melingkarkan tangannya memeluk tubuh istrinya.
Untuk sesaat Julia merasa desiran yang hebat menjalar di sekujur tubuhnya namun tidak bisa di pungkiri ada rasa nyaman saat Erich memperlakukannya seperti itu.
Tak berapa lama sepasang suami istri itu kemudian tertidur, terbawa dalam alam mimpi yang indah.
***
Di sini sebuah ruangan yang remang Winda terduduk di lantai sambil membuka sebuah buku yang berisi kenangannya bersama Erich. Ada rasa rindu di hatinya, namun apalah daya sosok yang di rindukan mungkin sekarang sedang menikmati perasaan cinta yang baru saja tumbuh di hatinya.
Ada air bening yang mengalir membasahi pipi wanita itu, 2 tahun menjalin kasih dan berbagi rasa ternyata harus berakhir seperti ini. Mimpi yang dulu perna di rajut bersama seketika sirna di saat dirinya mengatakan untuk melepaskan Erich.
Ada rasa sesak di dada yang membuncah membuat wanita itu terisak dalam kesendirian, rasa yang kini dimilikinya adalah rasa yang salah oleh karna itu cepat atau lambat suka atau tidak suka dia harus bisa menepis semua rasa itu karna jika tidak maka hanya akan menyiksa dirinya sendiri.
Keputusan yang di ambilnya beberapa hari yang lalu sudah sangat tepat, sekarang tinggal bagaimana dia menata hatinya kembali, mengumpulkan kepingan-kepingan yang hancur tak berbentuk dan memulai semuanya dari awal. Bagaimana pun selama ini Winda punya sosok yang selalu ada untuknya, Winda berjanji akan mulai mencintai sosok itu dengan seluruh hatinya. Wanita itu sadar bahwa ketika Tuhan mengambil satu kebahagiaan dari hidupnya maka Tuhan pasti akan menggantikan dengan kebahagiaan lain yang berlipat ganda.