
Anaya terbangun lebih dulu daripada Devan, ia tak bisa menjauh karena Devan masih memeluknya.
Anaya menatap wajah Devan yang berhadapan dengannya, Anaya akui Devan memang memiliki wajah yang sangat tampan. Tapi sayang sekali, terkadang ketampanannya tertutup oleh sifat buruknya.
Anaya memberanikan diri menyentuh hidung Devan yang terlihat begitu mancung, lalu beralih ke alisnya. Anaya menyentuhnya dengan gerakan yang sangat lembut takut pria itu terganggu dan terbangun karenanya.
Matanya beralih menatap bibir tebal Devan, bibir yang selalu menciumnya dengan kasar, bibir yang selalu meninggalkan bekas di seluruh tubuhnya ketika pria itu mulai menempelkannya.
Tiba-tiba saja dadanya menjadi terasa sesak ketika mengingat fakta kalau pria itu juga melakukannya dengan wanita lain. Anaya merasa seperti ingin menangis, aneh sekali. Padahal, ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Air matanya mulai keluar, Anaya tak bisa menahannya, perasaannya tiba-tiba menjadi sangat buruk.
Devan yang terganggu dengan suara isakan yang dikeluarkan oleh Anaya menjadi terbangun.
"Kau, apa yang kau lakukan?! "Devan kebingungan mendapati Anaya yang berada dalam pelukannya menangis, bahkan tubuh wanita itu sampai bergetar.
"Apa kau gila? Rasanya aku tak melakukan apapun?? Kenapa tiba-tiba menangis?! "Devan melepaskan pelukannya, pria itu terlihat sangat kebingungan.
"Ada apa denganmu?! "Tanyanya lagi.
Anaya menggelengkan kepalanya, bukan hanya Devan yang kebingungan Anaya juga. Dirinya tiba-tiba merasa sangat sedih, hal itulah yang membuatnya sampai menangis.
"Sudahlah! Aku ingin menjemput papah saja. "Devan tak mau ambil pusing dengan Anaya yang menangis tanpa sebab, lebih baik Devan bersiap-siap untuk menjemput ayahnya di rumah sakti. Ayahnya kan sudah diizinkan untuk pulang hari ini.
Ketika Devan ingin beranjak ia menatap sebuah tangan yang menahan lengannya.
Devan menatap tangan Anaya yang berani menyentuh lengannya tanpa ijin secara tiba-tiba.
'Ada apa dengan wanita ini? 'Batinnya.
Tidak biasanya wanita itu bersikap seperti itu, membuat Devan bingung saja.
"Apa mau mu?! "Devan terlihat kesal karena wanita itu tak kunjung melepaskan tangannya, "katakan, jangan hanya menangis! "Devan merasa kesabarannya yang setipis tisu dibagi dua sudah mulai habis.
" ... Tiba-tiba aku merasa sedih, "cicitnya.
"Lalu? "Devan bertanya dengan wajah kesalnya, "apa kau ingin aku menghiburmu?Kau masih waras kan?! "
Untung saja Devan sekarang sudah berubah sedikit baik, jika sekarang dirinya masih sama seperti awal mereka menikah dulu. Devan pasti sudah mendorong wanita yang tak mau melepaskan tangannya itu dari tadi.
Bukannya melepaskan tangan Devan, Anaya malah mulai mendekatinya.
Devan membulatkan kedua matanya ketika wanita itu mulai naik dan duduk di pangkuannya, tangannya juga memeluk erat leher Devan.
'Bukankah aku yang biasanya seperti ini? ' bingung Devan.
Ini pertama kalinya Anaya berprilaku seperti ini, biasanya wanita itu terlihat seperti akan berlari kalau Devan mulai mendekat dan menyentuh tubuhnya.
"Apa kau memintaku memperkosa mu? "Bisik Devan ditelinga Anaya yang menempel dekat bibirnya.
Jika penghiburan seperti itu yang di inginkan Anaya, maka Devan akan dengan senang hati memberikannya sebuah penghiburan yang sangat luar biasa. Membuat suara isak tangisannya berubah menjadi suara erangan yang terdengar begitu nikmat di telinga.
Anaya menggelengkan kepalanya, ia tak bermaksud begitu. Dirinya hanya ingin memeluk Devan, ia merasa perasaannya menjadi lebih baik ketika memeluk pria itu.
"Dasar penggoda! Kau hampir membuatku gila sekarang!! "Devan memejamkan matanya ketika merasakan bokong Anaya menduduki miliknya yang mulai terbangun.
Melihat Anaya yang biasanya hanya diam saja sudah bisa membuatnya begitu berhasrat. Apalagi, ketika wanita itu mulai mendekatinya seperti ini. Tentu saja membuatnya menjadi sangat, sangat, sangat menginginkannya.
Seperti kucing kelaparan yang diberi ikan, Devan mulai meraba tubuh Anaya yang masih memeluknya begitu erat. Jangan harap seorang Devan akan melepaskan kesempatan ini begitu saja.
Devan mencium bibir tipis milik Anaya yang berwarna merah muda meskipun belum memakai lipstik, bibir yang selalu terlihat menggoda dimata Devan.
"Stt ... Sialan! Ada apa denganmu? "Devan melepaskan ciumannya sebentar ketika merasa bibir Anaya yang biasanya begitu pasif tiba-tiba membalas ciumannya.
Anaya yang merasa malu buru-buru menyembunyikan wajahnya dileher Devan. Apa sedari awal dirinya memang menginginkan sentuhan dari Devan. Anaya tidak tau, ia merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Apakah dirinya menang seorang wanita penggoda seperti yang dikatakan Devan, Anaya merasa ia menjadi sangat mesum hari ini. Padahal, tadi dirinya hanya bermaksud memeluk Devan. Tetapi ketika Devan mulai menyentuh dan menciumnya, Anaya malah membalasnya kembali.
Tangan Devan yang masih menelusup dibalik pakaian Anaya kembali bergerilya, membuat Anaya meremas punggung telanjang Devan.
Anaya yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Devan menghirup aroma pria itu dalam-dalam, belakangan ini Anaya merasa aroma tubuh Devan sangat enak di hidungnya. Padahal, Devan tidak memakai parfum atau semacamnya. Malah ketika pria itu mulai menyemprotkan sesuatu ke tubuhnya Anaya akan merasa sedikit mual mencium nya.
"Dev ..., "Anaya mengencangkan remasannya di punggung Devan, ketika merasakan sentuhan tangan pria itu bergerak menjadi semakin liar.
Anaya yang terus bergerak tak bisa diam di pangkuannya membuat nafsu Devan naik sampai ke ubun-ubun. Devan menurunkan sedikit celana wanita itu, lalu melakukan hal yang sama pada celana yang ia kenakan juga.
Dan dengan cepat mulai menyatukan diri mereka, dengan posisi Anaya yang tetap berada di pangkuan Devan.
"Turunkan aku! "Anaya merasa aneh ketika melakukannya dengan dirinya yang duduk diatas pria itu.
Devan tak mengindahkan permintaan Anaya, "cobalah bergerak. "Perintahnya.
Anaya yang mengerti dengan maksud Devan menggelengkan kepalanya, ia malu untuk melakukannya.
"Kau! Sialan!! " Umpatnya ketika wanita itu tak mau menuruti perintahnya.
Devan yang sudah tak tahan merubah posisi mereka, membuat Anaya yang berada diatas menjadi di bawah tubuh kekarnya, lalu mulai menghujam milik wanita itu dengan cepat.
Walaupun sudah melakukannya berkali-kali dengan wanita yang sama, Devan tetap tak pernah merasa bosan dan selalu merasa terpuaskan. Bahkan, sekarang Devan merasa dirinya tak membutuhkan wanita lain lagi untuk menyalurkan hasratnya, cukup dengan Anaya saja.
Jika dulu Devan selalu melakukannya dengan wanita yang berbeda karena ia merasa tak tertarik lagi dengan wanita yang sudah pernah ia sentuh, tetapi hal itu tak berlaku untuk Anaya.
Devan menatap wajah Anaya yang berada di bawahnya, sungguh terlihat sangat seksi. Apalagi ketika wanita itu mengeluarkan lenguhannya yang terdengar mengalun indah di telinga Devan.
Kali ini Anaya terlihat lebih menikmati permainan Devan, ia juga menjadi sedikit lebih aktif dari biasanya. Devan tidak tahu mengapa wanita itu menjadi sangat berbeda hari ini, tapi yang jelas Devan sangat menyukainya, karena membuatnya semakin merasa bersemangat.
.
.
.
Mohon dukungannya ya, para readers sekalian .... 😊😁