marriage without love

marriage without love
Episode 22


Ketika Devan sudah pulang, Anaya langsung menyembunyikan dirinya di kamar. Anaya begitu malu, ia tak sanggup untuk bertemu ataupun bertatap muka dengan Devan.


Anaya merutuki kebodohannya yang tiba-tiba menjadi begitu berani pagi tadi, Anaya merasa dirinya sudah berubah menjadi wanita mesum sekarang. Anaya hanya bisa berharap semoga saja Devan tidur di kamarnya sendiri di lantai atas, agar ia bisa memiliki waktu untuk menghilangkan sedikit rasa malunya.


Ceklek.


Rupanya keinginan Anaya tidak terkabulkan, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan sudah jelas kalau Devan lah yang membukanya.


Anaya yang berbaring di tempat tidur dengan cepat menutup seluruh tubuhnya dengan sebuah selimut tebal, berusaha menyembunyikan dirinya.


"Apa yang kau lakukan?! "Devan mendekati wanita yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala itu.


Anaya tak menjawab apapun, dirinya hanya diam didalam situ.


"Heh! "Devan menarik selimut yang menyembunyikan tubuh Anaya, tapi wanita itu menahan selimutnya.


Entah hanya perasan Devan saja atau bukan, tetapi belakangan ini Anaya bersikap semakin aneh setiap harinya.


"Singkirkan selimut mu itu! Atau aku akan menyingkirkannya dengan paksa!! "Devan yang sudah merasa kesal mulai mengeluarkan ancamannya, yang sudah jelas bukan hanya sebuah ancaman belaka.


Anaya terpaksa mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut karena takut dengan ancaman yang diberikan Devan.


"Apa yang sedang kau lakukan?! "Tanyanya lagi.


Anaya hanya menggelengkan kepalanya, ia masih belum berani menatap Devan, dirinya merasa sangat malu.


"Katakan sebelum aku memaksamu! "Devan sedikit penasaran dengan alasan wanita itu yang tiba-tiba bersembunyi dibalik selimut.


Anaya terlihat ragu ketika ingin mengatakannya, " ... Aku malu. " cicitnya yang kembali menutup wajahnya dengan selimut.


"Malu? "Gumam Devan.


Apa yang membuat wanita itu malu, hal memalukan apa yang sudah diperbuatnya. Devan sama sekali tidak mengerti.


Ketika Devan sedang berpikir, tiba-tiba saja sebuah ingatan tadi pagi terlintas di kepalanya. Apa jangan-jangan karena kejadian itu.


Devan menarik selimut yang menutup tubuh Anaya sampai terlepas, lalu membuangnya sembarangan. Devan mengangkat wajah Anaya yang berusaha menghindari tatapannya.


"Apa kau merasa malu karena telah menggoda ku tadi pagi? "Devan menahan wajah Anaya yang sudah berubah begitu merah lantaran malu.


"Sepertinya memang benar karena itu, "Ucap Devan yang sedang menahan tawanya. Apakah Anaya memang seperti ini dari dulu, Devan baru tahu kalau Anaya ternyata memiliki sisi lucu juga.


"Kenapa wajah mu memerah begitu? Apa kau ingin aku menyentuh mu lagi?? "Kini Devan sedang menggoda Anaya yang wajahnya terlihat merah seperti orang demam.


"Apa kau tadi pagi kurang puas, jika kau mau aku akan melakukannya lagi. Tapi beri aku waktu sebentar karena aku sedang lelah. "Rasanya sangat menyenangkan melihat ekspresi malu wanita itu.


"Dev ..., "Anaya merasa seperti ingin menangis karena malu, ditambah Devan yang tiba-tiba menggodanya seperti itu.


Puft! Sungguh konyol sekali wanita itu.


Anaya merasa sedikit lega ketika Devan meninggalkannya ke kamar mandi. Sebelum Devan kembali, lagi-lagi Anaya harus pergi ke kamar yang ada di lantai atas untuk mengambil pakaian ganti Devan.


Devan yang selesai mandi melepaskan handuknya, lalu memakai celana panjang yang sudah disiapkan Anaya.


"Besok aku akan pergi bersama Bella, Bella memintaku untuk menemaninya mencoba gaun pengantinnya. "Sebelum tidur Anaya memberitahu kemana dirinya akan pergi besok, meskipun Anaya tahu Devan sama sekali tak peduli mengenai hal itu.


"Terserah mu saja, "sahutnya acuh tak acuh.


"Dev ..., "Anaya menatap Devan yang duduk dengan posisi menyandar di kepala ranjang dengan sebuah ponsel di tangannya.


Anaya yang tadinya ingin meminta kontak Devan kembali mengurungkan niatnya. Padahal, mereka sudah beberapa bulan menikah.Tetapi, masih belum punya kontak satu sama lain.


"Maaf ..., "ucapnya pada Devan yang terlihat kesal karenanya, lalu memilih untuk memunggungi Devan dan tidur lebih dulu.


.


Tak lama setelah Devan berangkat kerja, Bella datang menjemput Anaya. Seperti rencana kemarin, Anaya akan menemani sahabatnya untuk mencocokkan gaun pengantinnya.


Mereka tiba disebuah butik tempat Bella memesan gaunnya, butik yang sudah begitu terkenal dengan berbagai macam jenis desain gaun yang memukau.


Bella yang sudah mencoba beberapa gaunnya merasa cukup puas, hanya ada beberapa bagian saja yang perlu diperbaiki dan dikecilkan karena berat badannya yang sedikit turun, karena Bella memang sengaja diet sebelumnya.


Bella yang sudah cukup hafal dengan bentuk tubuh Nick juga menyuruh untuk melakukan beberapa perbaikan pada pakaian yang akan dikenakan oleh Nick nantinya.


Setelah hampir dua jam lebih, akhirnya mereka berdua keluar juga dari butik itu.


Mereka mampir disebuah cafe untuk beristirahat dan menikmati milk tea yang sudah mereka pesan sambil mengobrol.


"Nay, kemarin Nick bilang dia bertemu Ryan. "


Ryan, satu nama yang baru keluar dari mulut Bella membuat Anaya sedikit terkejut, setahunya Ryan sedang berada di luar negeri sekarang, kenapa Nick bisa bertemu dengannya.


"Nick mengundangnya ke pernikahan kami, kau tidak apa kan? "


Anaya terlihat sedikit melamun sejenak, "tidak, aku baik-baik saja. "Ucapnya, hal yang wajar jika Nick mengundang Ryan, karena mereka bersahabat ketika masih sekolah menengah atas dulu.


Bella memberitahu Anaya lebih dulu, daripada nanti sahabatnya terkejut dengan kedatangan Ryan yang tiba-tiba. Pasalnya, Ryan adalah mantan kekasih Anaya satu-satunya sebelum menikah dengan Devan. Dan Bella sangat yakin, Anaya pasti masih memiliki rasa pada Ryan.


"Sudah lah, Bell. Aku tidak ingin membicarakan Ryan disini. "Membahas Ryan hanya akan membuatnya merasa sedih dan merasa bersalah saja.


"Ya, Iya, aku kan hanya memberitahu mu saja. "Ucap Bella.


"Takutnya nanti kau tiba-tiba pingsan ketika bertemu dengannya karena terkejut. "Canda Bella membuat Anaya cemberut karena sebal.


"Bagaimana hubungan mu dengan Devan sekarang? "Kepo Bella.


"Sedikit ada kemajuan, Devan juga jadi sedikit lebih baik sekarang. "Anaya mengatakan dengan sejujurnya mengenai hubungannya dan Devan tanpa menutupinya pada sahabatnya.


"Benarkah ...? "Bella agak ragu dengan perkataan Anaya, jika mengingat bagaimana perilaku pria brengsek itu.


"Serius, aku tidak bohong, Bel. "Ucap Anaya yang mengerti dengan ekspresi sahabatnya.


"Kau tau, Nay. Sebenarnya aku sedikit penasaran bagaimana dengan mu dan Devan ketika di rumah. "


Padahal Bella sudah sangat yakin, pria yang akan menikah dengan sahabatnya Adalah Ryan. Tetapi, siapa yang sangka malah Devan lah yang kini menjadi suami Anaya. Dan kalau Bella tidak salah ingat, Anaya dan Ryan keduanya telah menjalin kasih selama lima tahun. Meskipun dua tahun terakhir mereka melakukan hubungan jarak jauh, karena Ryan diminta oleh ayahnya untuk mengurus usaha mereka yang ada di negara lain untuk sementara waktu.


Tapi setelah mendengar cerita dari calon suaminya Nick yang bertemu dengan Ryan baru-baru ini, sepertinya Ryan benar-benar sudah kembali dan akan menetap disini.


.


.


.


Terimakasih pada pembaca sekalian yang sudah mau mendukung author, ya .... 😊