marriage without love

marriage without love
Episode 35


Anaya sedang bersiap-siap untuk pergi mengontrol kandungannya saat ini, ia tampak begitu bersemangat karena ini akan jadi hari pertamanya pergi ditemani oleh Devan. Suaminya sekaligus ayah dari bayi yang sedang ia kandung.


Anaya yang sudah selesai bersiap menunggu kabar dari Devan dengan begitu sabar. Anaya melihat waktu yang ditampilkan di layar ponselnya. Sepuluh menit, setengah jam, satu jam, sudah cukup lama ia menunggu di rumah. Tetapi, Devan belum pulang juga. Katanya Devan akan menjemputnya sedari kantor.


Karena sudah cukup lama menunggu, Anaya menjadi tak sabaran. Ia memutuskan untuk menelpon Devan karena dirinya butuh kepastian, apakah Devan akan jadi menemaninya atau tidak.


Sudah berulang kali Anaya menelpon Devan, tetapi nomor yang dituju malah tidak aktif.


Anaya menjadi kecewa, sepertinya Devan sudah melupakan janjinya hari ini. Bahkan Devan tak mengirimnya pesan apapun, padahal ia sudah sangat bersemangat untuk pergi bersama.


Tidak ada pilihan lain, Anaya akan pergi sendiri saja kalau begitu. Meskipun, dirinya merasa sedih karena Devan yang sudah ingkar janji.


Ketika Anaya baru keluar dari area rumahnya, ada sebuah mobil putih yang singgah.


"Kau mau kemana ?! "Tanya Robby yang baru menurunkan kaca mobilnya.


Robby memang sengaja berhenti karena melihat Anaya yang ingin pergi, tapi seperti sedang menunggu sebuah tumpangan.


"Aku mau pergi ke rumah sakit, "Anaya mengatakan pada Robby jika ia ingin melakukan cek kandungan kesebuah rumah sakit.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu, "Robby dengan berbaik hati menawarkan diri untuk mengantar Anaya, istri dari sahabatnya.


"Benarkah? Apa tidak apa-apa?? "


"Tidak, lagipula aku hanya sedang jalan-jalan saja. "Sebenarnya, Robby baru saja pulang dari sebuah bengkel mobil miliknya, dan kebetulan dalam perjalanan pulang ia melihat Anaya.


Anaya yang memang sudah terburu-buru menerima tawaran dari Robby, ia takut tak sempat kalau harus menunggu sebuah taksi.


"Kemana Devan?? "Tanya Robby, menanyakan keberadaan sahabatnya.


"Devan bekerja, sepertinya dia sibuk sekali. "Anaya sedih mengingat Devan yang tak menepati janjinya.


Robby melirik Anaya yang duduk disampingnya, wajahnya terlihat sedikit murung.


"Iya, sepertinya Devan memang sangat sibuk. "Ucap Robby yang tidak tau harus mengatakan apa dalam kondisi seperti ini.


Mereka sudah sampai dan sekarang Robby juga ikut menemani Anaya diruang tunggu. Padahal, niat awal hanya untuk mengantar saja. Tetapi, karena merasa kasihan dengan Anaya, Robby malah ikut menemaninya masuk kedalam. Dan sekarang mereka sedang berada diruang tunggu, menunggu giliran.


"Suaminya ya, mbak? "Tanya sorang wanita yang bernama Arini, yang memang kerap menyapa Anaya ketika diruang tunggu, karena mereka memiliki jadwal yang sama.


"Bukan mbak, teman saya. "Jelas Anaya. Robby yang disebelahnya menampilkan sebuah senyuman ketika Anaya memperkenalkannya.


"Oh, tak kira suaminya. "


Anaya hanya tersenyum, wajar saja jika ada yang salah mengira. Karena Robby merupakan laki-laki pertama yang menemaninya pergi cek kandungan.


Tidak terlalu lama mereka menunggu, sekarang sudah giliran Anaya. Robby yang tadi ingin menunggu diruang tunggu malah dipaksa masuk oleh perawat yang ada disitu. Sepertinya, mereka salah mengira dirinya sebagai suami Anaya lagi.


Anaya naik keatas tempat tidur yang sudah tersedia di ruangan itu, karena sedang bersiap untuk melakukan USG, Anaya diminta untuk mengangkat bajunya sebelum dokter mulai mengoleskan gel khusus ke permukaan kulit perutnya.


Robby yang juga berada di ruangan itu langsung memalingkan wajahnya pada sebuah layar monitor yang masih belum menampilkan apa-apa.


Ketika transducer ditempel dan digerakkan di area yang sudah diberi gel. Layar monitor mulai menampilkan sesuatu, yang gambarnya tidak dapat dipahami oleh Robby yang memang tak terlalu pintar.


Meskipun tidak mengerti, Robby tetap terus menatap layar monitor itu. Siapa tahu ia tiba-tiba mendapat sebuah berkah dan jadi mengerti.


Meskipun sudah cukup lama Robby memperhatikannya, tetap saja otaknya tak dapat menangkap gambar itu. Dan ketika dokter menjelaskan gambar yang ada dilayar monitor, barulah Robby mengerti. Ia benar-benar merasa takjub, jadi seperti itu bentuk bayi yang masih berada di dalam perut.


Anaya merasa sangat senang mengetahui jenis kelamin bayinya, laki-laki maupun perempuan Anaya tak terlalu peduli, karena Ia akan menyambutnya dengan senang hati terlepas apapun jenis kelaminnya yang penting bayinya selalu dalam keadaan sehat.


.


"Ternyata bayi kalian laki-laki! "Robby yang kini sedang dalam perjalanan mengantar Anaya pulang ke rumah terlihat begitu bersemangat, bahkan wajahnya terlihat tak kalah senang dari Anaya.


"Iya, aku sangat senang karena bayinya sehat, "Anaya mengusap perutnya dengan bibirnya yang selalu menampilkan sebuah senyuman karena merasa bahagia.


"Semoga saja tidak mirip dengan Devan, kau taukan wajah Devan terlihat sangat menyebalkan! " celetuk Robby membuat Anaya tertawa.


Bagaimana Robby bisa mengatakan hal seperti itu, bukankah Devan sahabatnya.


"Apakah kau sependapat denganku? "Tanya Robby pada Anaya yang yang menertawakan perkataannya.


'Cantik sekali' batin Robby, mendapati wajah Anaya yang tertawa begitu lepas. Jika dirinya menjadi Devan, Robby pasti akan merasa bersyukur sekali mendapatkan wanita seperti Anaya.


"Apakah wajahnya sungguh menyebalkan? "


Kalau menurut Anaya pribadi, wajah Devan terlihat cukup tampan dengan garis rahangnya yang terlihat begitu tegas. Meskipun, terkadang wajahnya juga bisa terlihat begitu menakutkan ketika sedang marah, tapi hal itu tidak sampai menghilangkan ketampanannya.


"Huh, tentu saja! Karena Devan orang yang sangat menyebalkan, meskipun masih ada Arvin yang lebih menyebalkan darinya. "Jelas Robby mengingat kelakuan kedua sahabatnya.


Meski Arvin sahabatnya, tetapi bagi Robby, Arvin adalah orang pertama yang paling menyebalkan dimuka bumi ini, karena Arvin gemar sekali membuat sebuah candaan yang terlalu berlebihan. Apalagi ketika Arvin dengan ceroboh mengirim foto Anaya ketika sedang bersama Ryan.


Dan yang menempati posisi kedua adalah Devan, Devan sangat menyebalkan karena tidak bisa menghargai istri cantiknya. Dan dari segi penglihatan Robby selama mengamati Devan. Sepertinya, sahabatnya itu mulai memiliki rasa dengan Anaya, hanya saja ia masih belum sadar dan belum mau mengakui perasaannya.


Karena mereka terus bicara dan sambil sesekali bercanda, perjalanan pulang menjadi tak terasa.


Anaya keluar dari mobil dengan Robby yang membukakan pintunya, bukan Anaya yang meminta, tapi Robby sendiri yang mau melakukannya walaupun sudah Anaya tolak.


"Apakah tidak mampir dulu ...? "Tanya Anaya pada Robby yang sudah kembali kedalam mobil, setelah membukakannya pintu.


Anaya hanya berbasa-basi saja, ia merasa tak enak jika langsung membiarkan Robby pulang begitu saja. Padahal, Robby sudah begitu baik mau mengantar dan menemaninya.


"Tidak, aku akan langsung pulang saja. "Robby merasa tak enak kalau harus berduaan dengan istri sahabatnya di dalam rumah, meskipun mereka tak akan melakukan apapun.


"Terima kasih, "Anaya melambaikan tangannya pada Robby yang mulai menjalankan mobilnya.


Robby yang melihat dari kaca spion mobilnya, membalas lambaian tangan Anaya melalui jendela mobil.


Bukannya pulang seperti yang Robby katakan pada Anaya, ia malah membawa mobilnya melaju menyusuri padatnya jalanan menuju kantor Devan.


.


.


.


.


Dukung terus dan jangan tinggalkan jejak kalian wahai readers😎