
Setelah kembali dari luar membeli makanan, Devan pergi ke kamar menjemput Anaya untuk menikmati makan malam mereka.
"Dev! "Anaya sedikit berteriak karena Devan yang masuk secara tiba-tiba.
Devan mengerutkan keningnya, "apa yang kau lakukan? "Devan mendekati Anaya yang duduk diatas kasur membelakanginya, dengan baju yang sudah hampir lepas.
"Heh, kau sedang apa? "Tanyanya lagi, karena wanita itu tak kunjung menjawabnya.
"Kau taukan kesabaran ku tak setebal milik orang lain, "ucapnya yang sudah merasa agak kesal, lantaran wanita itu masih diam tutup mulut, tak mengatakan sepatah katapun.
Anaya terpaksa berbalik badan menghadap Devan yang sudah menjulang tinggi, berdiri di depannya.
"A,aku ingin mandi, tapi kesusahan melepas pakaianku. "Anaya yang merasa malu menundukkan kepalanya, ia tak sanggup melihat Devan yang terus menatapnya.
Anaya bukannya tak bisa melepaskan pakaiannya sendiri, hanya saja ia membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya, karena tangan kanannya yang masih terasa sakit jika melakukan pergerakan.
Karena sudah tak tahan melihat Anaya yang tak kunjung selesai melepas pakaiannya, jadi Devan memutuskan untuk membantunya. Kemudian, setelah itu langsung mengangkat tubuh wanita itu membawanya masuk kedalam kamar mandi. Lalu, meletakkannya dengan begitu hati-hati kedalam bak yang sudah berisi air hangat.
Tidak sampai disitu saja, Devan bahkan membantu memandikan wanita itu.
"Dev, "Anaya yang dari tadi hanya duduk diam dengan wajah yang terus menunduk, langsung menatap Devan yang memandikannya dengan wajahnya yang memerah, ketika merasakan tangan pria itu mulai bergerak nakal ditubuhnya.
"Apa? "Tanya Devan tak tau malu, dengan sebuah seringai dibibir nya, serta tangan yang masih bergerak sesuka hati menyentuh tubuh Anaya.
Anaya menahan tangan Devan dengan sebelah tangannya, "Dev, hentikan. "Pintanya dengan wajah memelas, kalau Devan terus bermain-main dengan tubuhnya kapan ia akan selesai mandi, dan melakukan makan malam.
"Aku lapar, "cicitnya, membuat Devan berhenti bermain-main dan segera memandikannya dengan benar.
Setelah membantu wanita itu berpakaian, Devan segera membawanya pergi ke dapur.
Anaya tidak tau makanan apa yang sudah Devan beli untuk makan malamnya, sekarang ia sedang duduk di meja makan menunggu Devan menyiapkannya.
"Makanlah, "Devan menaruh mangkuk yang berisi bubur ayam pada Anaya.
Sedangkan makanan untuknya, satu piring nasi putih dengan lauk ayam panggang yang terlihat sangat menggiurkan.
Devan makan begitu lahap, tentu saja karena ia sudah sangat lapar. Ditambah rasa ayamnya yang begitu nikmat, Anaya saja sampai menelan lidah melihatnya.
"Katamu lapar, kenapa tidak makan? "Devan menatap bingung Anaya yang tak menyentuh makanannya.
Anaya melihat kembali makanan yang ada di mangkuknya, "aku tak suka makan bubur, "lirihnya, padahal perutnya sudah terasa perih karena lapar.
Devan terlihat sedikit kesal, "kenapa tidak bilang kalau tidak suka bubur! "Devan asal beli saja karena ketika ditanya tadi jawabannya terserah, dan karena wanita itu masih sakit, jadi Devan memilih untuk membeli bubur. Tapi siapa sangka wanita itu malah tak menyentuh makanannya karena tak menyukainya.
Anaya diam saja, ia juga tak berpikir jika Devan akan membelinya bubur. Makanya ia menjawab dengan kata terserah, ia juga tak bisa menyalahkan Devan, karena itu memang kesalahannya.
"Kau mau makan punyaku? "Devan menawarinya makanannya yang sudah ia makan separuhnya.
Melihat Anaya yang menganggukkan kepalanya dengan sedikit malu-malu, Devan menyodorkan piringnya kepada Anaya. Menukarnya dengan bubur ayam wanita itu, mana mungkin ia merasa kenyang hanya dengan makan setengah porsi saja.
Anaya mulai makan makanan milik Devan, "sampai tengah malam kau baru bisa menghabiskan makanan mu kalau begitu. "Anaya yang terbiasa makan menggunakan tangan kanan, menjadi sangat kesulitan ketika harus memakai tangan kirinya.
Devan yang duduk bersebrangan dengan Anaya, berpindah tempat menjadi ke sampingnya. Lalu, mengambil alih piring makanan yang ada di depan wanita itu.
"A ... Buka mulutmu! "Ucap Devan dengan sebuah sendok yang sudah berisi nasi yang berada di depan mulut Anaya.
"Cepat! "Desaknya, membuat Anaya mulai membuka mulutnya.
"Terima kasih, "ucapnya, yang baru selesai minun segelas air setelah selesai makan.
"Hmm, "Setelah membantu Anaya, Devan kembali mengambil mangkuk bubur ayamnya yang sudah terasa sangat dingin. Tetapi tidak papa, Devan akan tetap memakannya karena ia masih belum merasa kenyang.
Sembari menunggu Devan yang masih makan, Anaya mengelus perut besarnya yang terasa sangat kenyang sambil sesekali tersenyum ketika merasakan pergerakan dari dalam perutnya.
"Apa kamu senang? "Anaya mengajak bayinya yang ada didalam perut mengobrol, membuat Devan yang sedang makan melihatnya dengan tatapan bingung.
"Apa yang kau lakukan? "Heran Devan.
"Aku melihat di internet, katanya bagus kalau bayinya sering diajak bicara. "Anaya pernah membacanya dulu disebuah artikel, dan sekarang ia sedang menerapkannya untuk bayinya.
Setelah Devan selesai makan mereka langsung naik ke lantai atas, dimana kamar mereka berada.
Ah ... Anaya menghela napas lega, ketika menjatuhkan bokongnya diatas tempat tidur. Anaya merasa napasnya sedikit terasa sesak, setelah beberapa kali naik turun tangga hari ini.
.
Anaya tidak tau ini sudah jam berapa, tapi ia sama sekali tak bisa tidur meskipun matanya terasa mengantuk.
Anaya mengangkat pelan lengan Devan yang memeluknya, setelah itu ia merubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang.
Anaya hanya duduk melamun, ia tak tau harus melakukan apa supaya bisa tidur. Entah mengapa dirinya merasa sangat sulit untuk tidur dimalam hari, tapi jika siang ia bisa dengan mudah untuk tidur.
Anaya mengelus perutnya, sepertinya ini bawaan bayinya, karena dulu ia tak pernah seperti ini. Semenjak hamil banyak kebiasaannya yang berubah.
Anaya memutuskan untuk pergi ke balkon sebentar menikmati angin malam, siapa tau setelah itu matanya mau terlelap. Sebelum keluar ia mengambil kain untuk menutupi bahunya yang terbuka.
Anaya duduk di tempat duduk yang ada di balkon, tempat duduk Devan yang biasa pria itu gunakan ketika sedang mengisap rokoknya.
Devan menggerakkan tangannya ingin mengeratkan pelukannya, setelah meraba kesana kemari Devan membuka matanya yang masih sangat mengantuk, karena tak bisa menemukan wanita yang dipeluknya.
Ck! Devan berdecak kesal setelah melihat sisi tempat tidur kosong, "yang benar saja, "matanya yang melihat ke segala arah, berhenti disebuah pintu balkon yang terbuka.
Devan menghampiri pintu balkon yang terbuka, dan benar saja ternyata wanita itu sudah tertidur dengan posisi duduk dengan wajah yang dibenamkan dikedua lengannya yang berada diatas meja.
Devan memeluk dirinya sendiri ketika merasakan dinginnya angin yang berhembus kearahnya, bisa-bisanya wanita itu malah tertidur disini.
Devan mengangkat tubuh Anaya, membawanya masuk ke dalam kamar. Tubuh wanita itu terasa dingin, sepertinya ia sudah cukup lama tertidur diluar.
Devan meletakkan tubuh Anaya pelan-pelan diatas kasur takut membangunkannya, menutupinya dengan selimut tebal sebatas leher. Setelah itu barulah Devan ikut berbaring disebelahnya, dan mulai kembali melingkarkan tangannya pada wanita itu.
Devan mendekatkan wajahnya pada perut Anaya, "dasar bayi nakal, "gumam nya, ketika tangannya yang berada di perut wanita itu terus menerima pergerakan dari sang bayi.
Devan mengusap perut wanita itu dengan begitu lembut, entah untuk apa Devan juga tidak tau. Ia hanya tertarik terus menyentuhnya, dan sampai ia tidur barulah pergerakan tangannya berhenti.
.
.
.
.
.