
Usai bertemu Ryan, Anaya tak langsung pulang ke rumah. Anaya memilih tuk singgah di sebuah taman yang berada tak terlalu jauh dari rumahnya.Tak ada yang ia lakukan disitu, selain duduk termenung dengan matanya yang sebab.
Anaya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika dirinya lagi-lagi mengingat Ryan, pria yang sangat ia cintai.
Ditengah kesedihannya tiba-tiba hujan turun begitu lebat membasahi dirinya yang sedang duduk seorang diri tanpa ada apapun yang menaunginya di bangku taman itu.
Dan dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup, Anaya berjalan menyusuri jalanan dibawah lebatnya hujan yang turun. Anaya terus berjalan sampai ia tiba disebuah rumah yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa bulan ini.
Anaya membawa tubuhnya yang basah masuk kedalam rumah, meninggalkan jejak basah pada setiap lantai yang ia lewati.
"Bagus sekali! Kau baru bertemu dengannya kan!! "Ucap Devan yang berdiri diatas tangga menatap Anaya yang baru pulang dengan keadaan basah kuyup.
"Devan, "Anaya melihat Devan dengan matanya yang masih sembab, ia tidak tahu sudah sejak kapan Devan berada disitu dan memperhatikannya.
Devan menarik tangan Anaya, menyeret wanita itu menaiki tiap anak tangga dengan begitu kasar.
Brakk! Devan membuka dan menutup pintu kamar dengan begitu kencang.
Devan memasukan wanita yang basah kuyup itu kedalam kamar mandi, lalu melempar sebuah handuk kepadanya.
"Cepatlah! Apa aku perlu membantu melepaskan pakaianmu!! "Teriak Devan karena Anaya yang tak kunjung bergerak.
"Dev, "lirihnya, Anaya tidak segera melepaskan pakaiannya karena ia merasa malu pada Devan yang masih berdiri di depannya.
"Kau ...! Kubilang cepatlah!! "Devan semakin terlihat tak sabaran.
Anaya yang takut pada Devan terpaksa melepaskan seluruh pakaiannya dihadapannya, karena pria itu yang tak mau beranjak dari situ dan malah meneriakinya.
Setelah Anaya melilitkan handuk di tubuhnya, Devan kembali menarik tangannya.
Akh! Anaya sedikit menjerit ketika Devan mendorongnya keatas tempat tidur, tangannya secara refleks memegang perutnya yang terasa agak sakit karena terjatuh, walaupun ia jatuhnya tak terlalu keras.
"Kau mulai berani berbohong padaku sekarang! Kau bilang hanya bertemu dengan teman mu saja, tapi ternyata kau bertemu dengan kekasihmu itu!! "Devan terlihat begitu murka, berani-beraninya Anaya membohonginya.
Anaya merasa takut dengan Devan, bagaimana pria itu bisa tahu jika dirinya bertemu dengan Ryan.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya, "Anaya tidak berbohong, dirinya memang tidak tahu jika Ryan juga akan datang.
"Cih! Penipu!! "Devan sama sekali tidak percaya dengan apa yang wanita itu katakan, sudah pasti wanita itu sengaja untuk pergi menemuinya secara diam-diam.
Jika kalian bertanya darimana Devan tahu bahwa Anaya bertemu dengan Ryan? Maka jawabannya adalah Arvin. Arvin lah yang membuat Devan mengetahuinya.
Ketika Arvin baru datang, ia melihat Anaya bersama Ryan, tapi sepertinya mereka tak menyadari kedatangannya karena mereka terlihat seperti membahas sesuatu yang sangat penting.
Arvin tidak tau mereka membicarakan apa karena jarak yang lumayan jauh. Arvin mengeluarkan ponselnya, mengambil gambar mereka, kemudian mengirimkannya.
"Aku sungguh tidak sengaja bertemu dengannya, "Anaya masih mencoba memberitahu kebenarannya pada Devan, walaupun Devan terlihat tidak mempercayainya sama sekali.
"Apa yang kalian bicarakan?! Apa dia menyuruhmu bercerai denganku?!! "
Anaya menggeleng, "tidak, "sahutnya yang terlihat begitu ketakutan.
Ketika mereka bertemu tadi, Ryan sama sekali tidak menyuruhnya bercerai dengan Devan. Tetapi seandainya Anaya memang berniat meninggalkan Devan, maka ia akan dengan senang hati menerima kembali Anaya. Itulah yang Ryan katakan padanya.
"Sialan!! "Umpatnya.
Memang apa bagusnya Ryan, jika masalah tampan, Devan tak kalah tampan. Kaya raya, Devan juga tidak kalah darinya. Lantas hal apa yang membuat wanita itu begitu menyukai Ryan.
Bayangkan saja, dari mereka masih remaja sampai saat ini, hubungan mereka tetap masih bertahan. Dan seandainya jika Devan tidak memperkosa Anaya dan membuatnya hamil, pasti Ryan lah yang akan berakhir menjadi suami Anaya dan bukan dirinya.
"Memang apa kelebihannya sampai kau begitu menyukainya?! "Teriak Devan, ia benar-benar tidak mengerti dengan Anaya.
Anaya memundurkan tubuhnya yang tepat berhadapan dengan Devan, "kau menakutkan, Dev! "Anaya merasa ngeri ketika Devan mulai berteriak dan membentaknya begitu keras.
"Apa ku beri pelajaran saja, si sialan itu! "Ucap Devan tak sadar diri, jika dirinya lah yang sialan.
"Dev! Ku mohon jangan lakukan itu!! "Anaya memberanikan diri memegang lengan Devan dengan tangannya yang bergetar.
Anaya tak mau Ryan sampai kenapa-napa, sudah cukup hatinya yang terluka. Anaya tak mau kalau sampai fisik nya ikut terluka juga.
"Ku mohon ..., "pintanya pada Devan yang menatapnya tajam.
Cih! Jika Devan mengikuti keinginannya, ia pasti sudah mendorong Anaya yang sedang memohon sambil memegang lengannya. Jika Devan benar melakukannya, bisa-bisa ia malah membuat wanita itu pingsan nantinya.
Kondisinya saat ini saja sudah terlihat begitu memprihatinkan. Wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya juga terlihat membiru karena terlalu lama diguyur hujan, ditambah matanya yang sembab karena terus-menerus menangis. Jujur saja selama Devan melihat Anaya, ini adalah penampilannya yang paling buruk yang pernah Devan lihat.
Devan melepaskan tangan Anaya yang berada di lengannya, ia pergi menuju lemari pakaian.
"Pakailah jika kau tak mau mati! "Devan melempar baju yang ia ambil dari lemari pakaian wanita itu. Ia sengaja mengambilkan baju yang terlihat hangat karena Anaya yang terlihat begitu kedinginan.
Dengan tangan bergetar karena rasa takut dan dingin, Anaya mengambil pakaian yang dilempar Devan kehadapan nya. Lalu melepas handuk yang ia kenakan, menggantinya dengan pakaian yang terlihat lebih hangat daripada handuk sepaha yang sedang ia pakai.
Devan duduk di tepi tempat tidur dengan nafasnya yang masih begitu memburu, Sepertinya Devan sudah mulai gila sekarang. Devan tidak tahu mengapa dirinya begitu marah setelah menerima foto Anaya dan Ryan yang dikirim oleh Arvin, Devan langsung merasa emosinya mulai naik setelah melihat foto itu.
"Dev, "Anaya memanggil Devan yang duduk membelakanginya.
"Berisik! Diam lah!! "Devan menepis tangan dingin Anaya yang menyentuhnya.
Devan yang masih merasa sangat kesal memutuskan untuk pergi keluar, ia perlu mencari hiburan untuk melampiaskan amarahnya. Berdiam diri disitu tidak akan ada gunanya, yang ada emosinya malah akan semakin bertambah.
Anaya menatap kepergian Devan, ia tak tahu kemana pria itu akan pergi dan ia juga tak berani bertanya. Tetapi, setidaknya Anaya bisa sedikit tenang sekarang. Anaya begitu takut dengan Devan ketika ia mulai membentak dan memperlakukannya dengan begitu kasar seperti tadi.
Anaya tidak tahu sekarang sudah pukul berapa, tapi malam sudah begitu larut. Sampai sekarang Devan belum pulang juga setelah pergi tadi, Anaya juga merasa tak bisa tidur karena kepalanya yang berdenyut memikirkan banyak hal.
Anaya memaksa memejamkan matanya agar tertidur, tetapi usahanya sia-sia. Padahal, Anaya ingin mencoba melupakan dan melarikan diri untuk sementara waktu dari masalahnya dengan cara tidur.
Karena hanya saat dirinya mulai tidurlah ia bisa berhenti mengingat semua masalah yang dialaminya, walaupun hanya untuk sesaat.
.
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya😊