
Anaya bangun lebih pagi dari biasanya, sama seperti Devan, ia juga akan kembali bekerja karena waktu cutinya telah berakhir.
"Mau kemana kau? "Devan saja baru bangun, tapi wanita itu sudah terlihat begitu rapi.
"Hari ini aku mulai masuk kerja lagi. "Jelasnya, sambil memperhatikan penampilannya apakah sudah cukup rapi atau belum.
Devan mengerutkan kedua alisnya, "kupikir kau sudah berhenti, "
Devan memandang Anaya dengan tatapan menilai dari atas sampai bawah, lekuk tubuh wanita itu semakin terlihat menonjol karena pakaian yang ia kenakan. Apalagi, wanita itu memakai rok kerjanya yang sedikit diatas lutut memamerkan kaki jenjangnya yang terlihat seksi.
Andai saja Devan memiliki cukup waktu, maka sudah dipastikan dirinya akan membuat penampilan wanita itu menjadi kacau dengan serangannya yang buas.
"K-kenapa? "Anaya menjadi gugup mendapati Devan yang menatap tubuhnya dengan tatapan yang tak terlalu bersahabat.
"Siapkan pakaian kerjaku! "Perintahnya sebelum pergi ke kamar mandi.
Anaya menghembuskan nafas lega ketika Devan sudah pergi, ia juga mulai buru-buru untuk menyiapkan pakaian yang Devan minta.
.
Anaya yang baru tiba di kantor banyak mendapati ucapan selamat dari para rekan kerjanya.
"Kangen ..., "Bella memeluk Anaya yang sedang duduk dari belakang, selama Anaya tidak masuk kerja Bella merasa begitu kesepian.
"Aku juga sangat merindukan mu, Bell. "
Anaya balas memeluk Bella, bibirnya juga menampilkan senyuman yang begitu indah karena kesenangan bertemu kembali dengan sahabatnya itu.
"Sepertinya berat badan mu berkurang? "Bella merasa Anaya menjadi lebih kurus daripada sebelumnya.
"Devan tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu kan?! "Tanyanya khawatir.
"Tenanglah, Bell. Aku baik-baik. "Ucapnya menenangkan Bella.
"Lebih baik kau kembali ke tempatmu. "Ucapnya lagi, karena sebentar lagi jam kerja akan dimulai.
.
Anaya pulang agak terlambat karena harus mampir ke rumah orang tuannya dulu untuk mengambil mobilnya yang biasa ia gunakan, Ia merasa kesusahan kalau harus kemana-mana menggunakan taksi.
Meskipun Devan mempunyai beberapa di rumah, Anaya merasa enggan untuk menggunakannya, dan lagi pria itu juga tak pernah menawarinya untuk menggunakannya.
"Tidak mampir dulu, Nay? " Norma mengikuti Anaya yang sudah ingin pergi lagi.
"Enggak mah, takutnya nanti kemalaman. "
"Kalau begitu jaga kesehatan, ya. "Pesan Norma.
"Iya, mamah. "Anaya memeluk ibunya sebelum masuk ke dalama mobil, mencurahkan rasa rindu yang mereka rasakan.
Sebelum mulai menjalankan mobilnya, Anaya melambaikan tangannya pada Norma. Setelah itu barulah ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah orang tuannya.
Sebelum benar-benar sampai di rumah, Anaya berhenti di sebuah supermarket membeli keperluan yang sudah habis.
Anaya membeli lumayan banyak buah-buahan karena dirinya memang begitu menyukainya, wanita itu juga berhenti di tempat daging. Cukup lama ia berada disitu sebelum pergi untuk membeli susu ibu hamil dan keperluan yang lainnya.
Anaya yang baru keluar dari supermarket kelihatan begitu kesusahan membawa barang belanjaannya yang memenuhi tangan kiri dan kanannya.
"Hei, kau butuh bantuan? " Tawar seorang yang tak lain adalah Robby.
Robby yang baru ingin masuk kedalam berpapasan dengan sorang wanita yang ternyata istri sahabatnya, Devan.
"Apakah kau benar-benar tak perlu bantuan? "Robby kembali bertanya karena wanita itu tadi tak meresponnya.
"Robby. "Anaya baru sadar, sebelumnya dirinya terlalu fokus dengan barang belanjaan yang hampir terjatuh dari tangannya.
"Biarkan aku membantu mu! "Robby merebut semua barang yang ada di tangan Anaya.
Anaya merasa tak enak pada Robby yang membawa semua belanjaannya, "biarkan kan aku membawa sesuatu juga. "Pintanya, tidak mungkin ia membiarkan Robby membawa semuanya sendiri.
Diantara semua yang ada, Robby memberikan yang paling ringan. Pria itu memberikan plastik yang isinya hanya ada satu kotak susu ibu hamil di dalamnya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat mobil Anaya terparkir, yang letaknya tak terlalu jauh.
Robby melirik Anaya yang berjalan disampingnya, sepertinya wanita itu baru pulang kerja jika menilai dari pakaian yang ia kenakan. Ketika sampai mobil wanita itu, Robby kembali membantu untuk memasukkan barang-barangnya kedalam mobil.
"Terima kasih, "ucapnya pada Robby yang berjalan kembali masuk kedalam supermarket.
.
Setelah memasukan mobilnya kedalam garasi, Anaya berjalan menuju pintu rumahnya yang masih terkunci dengan membawa belanjaannya.
Anaya menaruh barang bawaannya yang lumayan banyak didepan pintu, sementara tangannya sibuk mencari anak kunci yang ada di dalam tasnya.
Ketika berangkat tadi dirinya memang sengaja mematikan semua lampu, Anaya tak berpikir dirinya akan pulang terlambat. 'Gelap sekali. ' gumamnya ketika sudah membuka pintu.
Anaya mengeluarkan ponselnya, kemudian menghidupkan senter untuk mendapatkan pencahayaan. Hal pertama yang ia lakukan setelah masuk adalah menghidupkan lampu di dalam rumah.
Cukup menakutkan juga kalau lama-lama berada dalam ruangan yang begitu gelap, apalagi Anaya merupakan orang yang penakut, dan setelah menghidupkan semua lampu, barulah dirinya kembali mengambil belanjaannya yang tadi ia tinggalkan di depan pintu. Lalu dengan rajin menyimpan semua pada tempatnya, sebelum pergi membersihkan dirinya.
Anaya yang sudah selesai memasak memilih untuk makan malam lebih dulu, karena jam makan malam juga sudah hampir lewat. Ia tak menunggu Devan pulang, karena beberapa hari ini Devan selalu pulang larut.
Entah kerja lembur atau keluyuran Anaya tidak tau, Devan tak pernah meminta ijin ataupun memberitahunya. Dan percuma saja jika bertanya, karena bukannya jawaban yang ia dapat melainkan kata-kata kasar yang pria itu lontarkan.
Meskipun begitu Anaya tetap memasak untuk Devan juga, dan akan memanaskannya kembali jika pria itu ingin memakannya.
Sebelum pergi tidur Anaya pergi ke depan untuk mengunci pintu, Devan juga sudah punya kunci cadangan. Jadi dirinya bisa tidur lebih dulu tanpa menunggu kepulangan Devan.
.
Jam tiga pagi Anaya mendengar seperti ada suara benda jatuh dari ruang tamu, Anaya yang kaget langsung pergi untuk memeriksanya. Tapi ia pergi memeriksa dengan diam-diam, karena takutnya itu pencuri. Apalagi, dirinya masih sendirian di rumah karena Devan yang belum juga pulang.
Anaya mengintip ruang tamu yang diterangi lampu begitu terang yang memang sengaja tak ia matikan sebelumnya, karena marasa tak nyaman dengan ruangan yang gelap.
Anaya bisa bernafas lega ketika menemukan sosok Devan disitu, sepertinya karena terlalu mabuk Devan yang berjalan sempoyongan tak sengaja menyenggol vas yang ada didekatnya. Membuat benda itu jatuh dan kemudian pecah.
Anaya menghampiri Devan yang sudah hampir hilang semua kesadarannya, membantu membawa pria itu ke dalam kamar.
Setelah dengan susah payah, akhirnya mereka sampai juga. Tubuh Devan juga langsung terhempas ke atas kasur.
Anaya memutuskan untuk membersihkan sedikit tubuh bagian atas Devan, karena bau alkohol yang begitu menyengat, dan Anaya cukup yakin kalau dibiarkan dirinya tak akan bisa kembali tidur lantaran bau alkohol dari pria yang tidur disebelahnya.
Ketika ingin mulai membuka kemeja yang dikenakan Devan, matanya tak sengaja menangkap sesuatu berwarna merah di kerah bajunya, yang ternyata setelah diteliti lagi itu bekas lipstik. Anaya juga dapat mencium adanya bau parfum wanita di belakang kemeja yang tak terkena alkohol.
.
.
Mohon dukungannya ya, biar tambah semangat, dan terima kasih bagi yang sudah memberikan dukungannya.😊😊