marriage without love

marriage without love
Episode 49


Robby terus mengikuti kedua temannya yang sedang mencari Anaya, maupun Ryan. Sudah cukup lama mereka berkeliling ditempat pesta, bahkan sampai ke pojok-pojok tempat itu mereke mencarinya, tetapi hasilnya nihil.


"Sial! "Umpat Devan yang sudah merasa frustasi.


"Ada apa di sana? "Robby menatap beberapa orang yang mulai berkumpul di satu titik dari kejauhan.


"Ada apa?? "Tanya Arvin yang penasaran dengan apa yang dilihat oleh Robby.


"Di sana, kenapa mereka berkumpul di sana?? "Robby mengarahkan jarinya pada tempat yang dimaksud.


Karena sama seperti Robby yang merasa penasaran, Arvin juga terus melihat kumpulan orang yang mulai terlihat riuh.


Sedangkan Devan hanya terus mengumpat, lantaran tak bisa menemukan Anaya ataupun Ryan. Meskipun, sudah mencari dengan begitu keras.


"Robb! "Arvin membelalakkan matanya ketika melihat dua orang yang sudah susah payah mereka cari keluar dari segerombolan orang yang sedang berkumpul itu.


Robby yang juga melihat itu mendapati sesuatu yang aneh, "Anaya bersama Ryan di sana! "Robby memberitahu Devan yang masih terlihat frustasi.


"Dev, capat! Kita juga harus ke sana!! "Timpalnya lagi, ketika melihat Anaya yang ada di dalam gendongan Ryan.


Mereka bertiga berlari mendekati orang-orang yang sedang menonton Ryan membawa Anaya, mereka tidak tahu kenapa dua orang itu sampai bisa menarik perhatian untuk dilihat jadi bahan tontonan seperti itu.


Setelah berlari sekuat tenaga, akhirnya mereka tiba juga. Arvin, Devan dan juga Robby. Ketiganya dibuat sangat terkejut melihat kondisi Anaya yang berada di gendongan Ryan, dengan kondisi yang sudah tak sadar.


"Apa yang terjadi?! "Devan mencegat Ryan yang membawa tubuh Anaya yang sudah tak sadarkan diri.


Ryan tidak menghiraukan Devan, ia malah melewati tubuh Devan yang menghalanginya begitu saja. Kemana saja pria itu sampai membiarkan hal buruk menimpa Anaya.


"Ku bilang apa yang terjadi?! "Devan menahan bahu Ryan yang melewatinya, sampai langkahnya jadi terhenti.


"Lepas!! "Ucap Ryan yang sudah mulai terlihat emosi.


Devan tidak melepaskannya, ia tetap menahan bahu Ryan dengan cara mencengkram nya erat, "Makanya jelaskan dulu!! "Teriak Devan, tak kalah emosi.


Ada apa dengan Anaya, kenapa wanita itu sampai bisa seperti itu. Devan mengepalkan tangannya ketika memperhatikan tubuh dan wajah Anaya yang terlihat babak belur.


"Berikan padaku! "Devan mencoba merebut Anaya yang berada dalam gendongan Ryan.


"Aku sudah memberikannya padamu! Tapi kau malah membiarkan hal buruk terjadi padanya!! "Teriak Ryan yang sudah terlihat sangat muak dengan seorang bajingan seperti Devan.


Laki-laki macam apa yang membiarkan istrinya dianiaya oleh orang lain seperti ini, Devan sama sekali tidak pantas menjadi suami untuk Anaya. Laki-laki itu sama sekali tak bisa melindunginya.


Ryan kembali mengabaikan Devan, ia segera pergi ke tujuan awalnya untuk segera membawa Anaya ke rumah sakit. Membawa wanita itu masuk kedalam mobilnya, lalu segera menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh.


Devan dan juga kedua temannya buru-buru masuk kedalam mobil untuk mengejar mobil Ryan. Mereka terus mengikuti mobil Ryan yang melaju membelah jalanan membawa Anaya.


"Dev, tenanglah. "Arvin mencoba menenangkan Devan yang terlihat sangat cemas, sedangkan Robby mengemudi mengikuti kemana arah mobil Ryan.


Robby bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya meskipun hanya sebentar, karena mobil Ryan melesat begitu cepat.


"Bagaimana aku bisa tenang, "ucap Devan yang merasa begitu gusar.


"Kau juga lihat kan, bagaimana keadaannya! "Bagaimana mungkin Devan bisa tenang dalam keadaan begini, Devan merasa sangat shock ketika melihat kondisi Anaya.


Mobil Ryan berhenti disebuah rumah sakit besar, begitu juga dengan dengan mereka bertiga.


Bersama dengan beberapa perawat Ryan membawa Anaya yang masih dalam gendongannya kedalam ruang UGD, agar mendapat penanganan sesegera mungkin.


Arvin dan Robby yang tadi tertinggal baru saja tiba diruang UGD. Mereka melihat Ryan dan juga Devan yang sedang duduk bersebelahan dengan aura permusuhan.


Dokter yang baru selesai melakukan pemeriksaan pada Anaya menghampiri Ryan, "bapak tidak perlu khawatir karena istri dan bayi bapak tidak dalam kondisi yang berbahaya. Hanya saja, tangan dan juga wajahnya akan membutuhkan waktu untuk pulih. "Jelas dokter itu.


Ryan menghela nafas lega setelah mendengar penjelasan dokter, syukurlah kondisinya tidak terlalu serius. Dan bayi yang Anaya kandung juga tida kenapa-napa.


"Bukan dia! Tapi saya suaminya!! "Devan memarahi dokter laki-laki yang sudah mengira si sialan Ryan, sebagai suami Anaya.


Dokter itu langsung menundukkan kepalanya, "maaf, pak. "Ucapnya yang terlihat kebingungan.


Dokter kira suaminya Ryan, karena pria itulah yang menggendongnya membawa wanita itu masuk ke rumah sakit. Sedangkan Devan, pria yang memarahinya hanya mengekori dari belakang. Jadi wajar saja sampai membuatnya salah paham.


.


Sekarang Anaya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, dan wanita itu sedang dalam keadaan tidur setelah diberikan beberapa obat oleh dokter.


Saat ini yang menemani Anaya didalam ruangan itu, Ryan. Sedangkan tiga serangkai imenunggu diluar untuk giliran mereka.


"Mau sampai kapan dia di sana?! "Devan melihat Ryan yang duduk disebelah ranjang Anaya, melalui kaca yang ada dibalik pintu.


Andai saja Robby dan Arvin tidak terus menghalanginya, pasti Devan sudah menyeret Ryan dari dalam sana. Bahkan ia juga tak akan sudi membiarkan Ryan memasuki ruangan itu.


"Tenanglah, Ryan juga ingin melihat kondisi Anaya! "Robby sudah sangat jengkel mendengar mulut Devan yang tak pernah berhenti mengeluarkan berbagai macam umpatan dari tadi.


"Seharusnya kau berterima kasih dengan Ryan, "ucap Robby lagi.


Meskipun ia tidak tau hal apa yang membuat Anaya sampai seperti itu, tapi Robby yakin bahwa Ryan lah yang menolong Anaya. Robby mengakui jika Ryan sosok lelaki yang dapat diandalkan, berbeda sekali dengan Devan yang selalu lebih mengutamakan emosi daripada akal sehatnya.


"Apa maksud mu?! "Yang benar saja Robby menyuruhnya berterima kasih pada si sialan Ryan, yang terlihat seperti ingin mengambil Anaya darinya, tidak mungkin ia mau berterima kasih pada orang yang seperti itu.


"Lebih baik kau diam saja, Robb. "Celetuk Arvin sebelum Robby kembali mengatakan sesuatu yang membuat Devan semakin tak senang.


Ryan yang sedang berada di ruangan bersama Anaya, hanya bisa menatap wanita itu dengan begitu sendu.


Tangannya mengepal teringat akan Amanda yang hampir menendang perut Anaya, untung saja wanita itu tak sempat melakukan itu. Jika sampai kejadian, Ryan tidak tau akan seperti apa nasib Anaya dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.


Meskipun dokter sudah mengatakan padanya jika Anaya tidak dalam kondisi yang berbahaya, tetap saja Ryan tidak bisa tidak merasa cemas karena baru kali ini ia melihat Anaya dalam kondisi seperti ini.


Ryan membawa tangannya untuk menyentuh tangan Anaya yang terlihat ada beberapa bagian yang membiru, ia mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Ia sudah tidak peduli dengan Anaya yang sudah menjadi istri orang, ia hanya ingin memberikan rasa kasih sayangnya pada wanitanya dulu yang kini terlihat sangat malang.


Ketika mereka dulu masih bersama, Ryan selalu memperlakukan Anaya seperti seorang ratu. Baik fisik maupun hatinya, Ryan selalu berusaha menjaganya agar tidak melukainya secara sengaja ataupun tidak sengaja.


Tapi sekarang wanita yang dulu begitu ia jaga menjadi seperti ini, jelas saja membuat hatinya ikut terluka melihatnya.


.


.


.


.