
"Julia." Teriak Erich dari dalam mobil.
Julia yang merasa ada yang memanggilpun langsung menoleh, namun dia tidak bisa melihat wajah Erich dengan jelas sehingga membuat wanita itu penasaran entah siapa yang memanggilnya.
Bersamaan dengan itu lampu lalu lintaspun beralih ke warna hijau yang artinya para pengendara di izinkan untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Erich menjalankan kembali mobilnya dan langsung menghentikan mobil itu di tempat dimana Julia berdiri.
Julia yang mengenali mobil suaminya, merasa heran wanita itu hendak melangkah pergi untuk menghindari suaminya, tapi dengan segera Erich turun dari mobil dan langsung meraih tubuh mungil Julia dalam pelukannya.
Julia yang di perlakukan seperti itu lagi-lagi merasa heran, dia menggerakan tubuhnya seolah ingin membebaskan diri dari pelukan Erich.
"Jangan bergerak pleasee biarin aku peluk kamu, aku kangen Lia." Kata Erich pada Julia, lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. Dan berkali-kali mencium kepala Julia seolah ingin menyalurkan semua rasa yang ada dalam hatinya.
Julia yang menerima perlakuan seperti itu merasa terharu dan tidak sanggup untuk menahan kesedihannya. Wanita itupun menangis dalam pelukan suaminya.
"Jangan nangis. Maafin aku maafin aku Lia." Hanya kata maaflah yang bisa diucapkan Erich, mengingat bagaimana dulu dia memperlakukan Julia dan bagaimana sabarnya Julia menghadapi perlakuannya itu semua menjadi tamparan keras untuk Erich.
Lama mereka berpelukan, sebelum akhirnya Erich mengajak Julia untuk masuk ke dalam mobil.
Erich membukakan pintu mobil lalu menutupnya kembali setelah Julia sudah duduk di kursi bagian depan samping kemudi.
Dengan segera Erich pun masuk, dan langsung memasangkan sabuk pengaman untuk Julia.
Julia merasa ada yang aneh dengan Erich, karna tidak biasanya dia seperti itu.
"Mas kamu kenapa?" Tanya Julia, namun Erich hanya diam lelaki itu sedang fokus mencari tempat yang pas untuk memarkirkan mobil sebelum mengajak istrinya berbicara.
"Kamu kemana aja? Aku bingung nyari kamu. Aku sampai datangin rumah paman sama bibi." Kali ini Erich berbicara sambil menatap Julia dan tangan kirinya sedari tadi menggenggam tangan Julia seolah takut kehilangan istrinya kembali.
Selain perlakuan Erich yang berubah, tatapan matanya pada Julia pun dirasa berbeda. Ada perasaan takut serta penyesalan yang terpancar dari matanya.
Erich yang melihat seberapa rapuhnya Julia saat ini langsung menarik kembali tubuh Julia dalam pelukannya.
"Jangan nangis lagi aku gak bisa lihat kamu kaya gini." Kata Erich.
Mendengar itu tangisan Julia semakin keras, dalam hatinya kenapa Erich harus memperlakukannya semanis ini setelah dia memutuskan untuk pergi.
"Jangan pergi lagi, jangan tinggalin aku lagi. Aku sayang sama kamu, aku gak bisa kalau gak ada kamu Lia." Setelah mengucapkan itu Erich mengurai pelukannya kali ini lelaki itu menangkup wajah Julia dengan kedua tangannya, dan langsung mengecup kening Julia.
"Mas kamu...."
"Sssttttt.... Kamu mau kan temenin aku sampai nanti aku tua? Kita jalanin pernikahan ini dengan sungguh-sungguh." Tanya Erich sambil mengernyitkan dahinya.
"Maafin aku mas tapi aku gak bisa. Aku ga bisa lagi jalanin semua ini." Julia menunduk sambil menarik paksa tangannya yang di genggam Erich.
"Lia please jangan ngomong kaya gitu. Aku janji akan memperlakukan kamu dengan baik mulai sekarang."
"Udah terlambat mas! Kemana aja kamu selama ini? Di saat aku ada di samping kamu, kamu gak perna lihat aku mas. Kamu gak perna nganggap aku. Kamu terlalu sibuk sama dunia kamu, kamu gak perna sedikitpun pikirin perasaan aku, kamu itu jahat. Dan aku benci sama kamu!"
Julia merasa mungkin inilah saatnya mengeluarkan semua keresahan dan sakit hati yang di rasakannya selama ini. Sedangkan Erich pria itu sangat membenci dirinya dalam hati. Muncul pertanyaan dalam benaknya mengapa dia bisa sejahat itu pada wanita yang telah sah menjadi istrinya.
"Lia please kasih aku kesempatan Lia, kasih aku kesempatan untuk bahagian kamu, aku mohon satu minggu! Aku minta waktu kamu seminggu aku janji aku akan berubah setelah itu terserah kamu. Setidaknya beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik buat kamu."
Julia menatap mata Erich dalam-dalam mencoba melihat kejujuran dari sana, dan ya dia menangkap itu. Tapi masa hanya secepat itu dirinya luluh setelah semua yang di lakukan Erich padanya.
"Lia please setelah satu minggu abis itu terserah kamu, aku akan ikut semua mau kamu. Dan aku juga gak akan maksa kamu. Pleasee Lia kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Ya udah mas, satu minggu hanya satu minggu." Ucap Julia tegas.
"Makasih sayang! Aku janji gak akan kecewain kamu." Erich kembali meraih Julia dalam pelukannya.