marriage without love

marriage without love
Episode 15


Satu minggu sudah waktu berlalu sejak peristiwa kemarin, yang berarti sudah selama itu juga Anaya tidur di kamar yang berada lantai bawah.


Devan yang dulunya memang selalu pulang terlambat, kini hampir tak pernah pulang. Anaya tidak tau kemana perginya Devan dan tak mau tau juga. Ia memilih untuk tidak peduli lagi seperti yang pria itu minta sebelumnya.


Hubungan mereka yang awalnya memang tak terlalu baik, kini menjadi lebih buruk dan kian menjauh. Tapi jika boleh jujur, Anaya merasa lebih tenang sekarang. Hati dan pikirannya juga terasa jauh lebih baik dari sebelumnya, dibandingkan ketika bersama dengan Devan.


Karena ketika bersama pria itu, setiap hari dirinya harus menerima perkataan atau tatapan yang merendahkannya dan juga menghinanya.


Sekarang Anaya terlihat begitu menikmati susu ibu hamil yang baru ia buat, hari ini hatinya sedang dalam suasana yang sangat baik. Lantaran sebentar lagi ia akan pergi ke rumah orang tuannya, dan akan menginap di sana.


Sebelum pergi bersiap, Anaya mencuci gelas susu yang sudah kosong ditangannya. Tak mungkin jika ditinggalkan dengan keadaan kotor begitu.


Tak butuh waktu lama, Anaya sudah siap untuk pergi. Tapi sebelum itu, Anaya mengambil satu lembar kertas dan sebuah pulpen. Dalam kertas itu Anaya memberitahukan kemana dirinya pergi, lalu menempelkannya di pintu kulkas.


Anya hanya ingin Devan tahu saja jika ia sedang berada di rumah orang tuanya, Anaya tak terlalu berharap Devan akan pulang dan menemukan surat tulisan tangannya yang terpajang di pintu kulkas itu, tetapi yang penting ia sudah meninggalkannya.


Jika ditanya mengapa Anaya harus meninggalkan pesan dalam bentuk surat. Jawabannya, karena Anaya tak memiliki kontak Devan. Dan itulah salah satu cara yang terlintas dipikirkan untuk memberitahu pria itu.


.


Anaya yang baru sampai memarkirkan mobilnya dihalaman rumah, dengan langkahnya yang teratur dirinya pergi masuk ke dalam rumah yang sudah tak asing lagi baginya.


Anaya pergi keruang keluarga, tempat mereka sering berkumpul jika sedang bersama. "Mah! "Anaya menghampiri ibunya, lalu memeluk wanita yang sudah cukup berumur itu.


Melihat kedatangan putri bungsunya, Bowo yang tadi sibuk membaca majalah meletakan benda itu di samping tempat duduknya.


"Apa suamimu tidak ikut? " tanyanya yang tak melihat keberadaan Devan.


"Tidak, Anaya datang sendiri. Devan masih sibuk. "Anaya terpaksa berbohong pada ayahnya. Padahal, ia bahkan tidak tahu dimana keberadaan pria itu.


Anaya menghampiri Kayla yang terlihat asik bermain sambil berlari dalam ruangan itu.


"Maminya mana, Kay? " Tanyanya, yang hanya diberi gelengan kepala oleh sang keponakan.


"Maminya lagi pengen pergi berduaan saja sama papinya tadi, "Jelas Norma, mereka hanya datang untuk sekedar menitipkan Kayla, setelah itu pergi lagi.


Ah, kakaknya itu memang benar-benar. Padahal, sudah beberapa tahun mereka menikah.Tetapi, keduanya tetap saja masih terlihat begitu romantis.


Berbeda sekali dengannya, jangankan pergi jalan-jalan berdua, untuk berbicara normal satu satu sama lain saja sudah merupakan hal yang sangat langka baginya. Hubungan kakak dan juga kakak iparnya membuat Anaya merasa sedikit iri.


.


Devan baru saja tiba, ia mulai masuk menginjakan kaki nya kembali ke rumah yang sudah dua hari ia tinggalkan. Selama dua hari ini Devan berada di kantor, dan jika sudah selesai bekerja dirinya akan pergi ke Bar atau sebuah Club.


Devan menatap seluruh penjuru ruangan sebelum memutuskan untuk naik ke kamarnya yang berada dilantai atas.


Semenjak Anaya pindah diam-diam kelantai bawah dengan seluruh barang-barangnya, Devan selalu merasa sedikit terganggu dengan keadaan ruangan yang terasa begitu kosong dan sepi. Padahal, dulu dirinya biasa saja ketika masih tinggal sendirian.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Devan kembali turun kelantai bawah. Ia merasa tenggorokan agak kering.


'Tumben sekali' batin nya melihat meja makan yang tampak kosong tidak seperti biasanya.


Ketika ingin mengambil air dingin, Devan menemukan sebuah catatan. Devan langsung mengenali catatan milik siapa itu. Tentu saja milik Anaya, karena hanya mereka berdua saja yang tinggal disitu.


Devan melanjutkan niat awalnya untuk mengambil air dingin, dan mengambil satu buah apel diantara kian banyaknya buah yang ada didalam situ.


.


Anaya merasa bosan di rumah, setelah mengobrol dengan orang tuanya tadi, kini dirinya hanya berbaring uring-uringan tak karuan.


Anaya menyadarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, lalu meletakkan tangganya diatas perut yang mulai terlihat menonjol, karena usia kandungannya yang sudah menginjak tiga bulan lebih.


Anaya mengelus perutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Anaya masih belum tau dengan jenis kelamin bayinya, karena ketika melakukan USG jenis kelaminya masih belum terlihat jelas karena usia kandungannya yang masih muda.


Anaya menghentikan pergerakan tangannya, ia terlihat memikirkan sesuatu sejenak sebelum beranjak dari tempat tidur.


Anaya menghampiri ibunya yang sedang duduk memangku cucunya yang sedang memegang sebuah mainan di tangannya.


"Mau kemana, Nay? "Tanya Norma pada Anaya yang sudah berpenampilan rapi.


"Mau ngajak Kayla jalan-jalan. "


Anaya sedikit berjongkok untuk menyamai gadis kecil yang ada di pangkuan Norma.


"Kay, jalan sama tante yok! " Ajaknya.


Kayla yang kegirangan karena akan pergi bermain dengan tante cantiknya dengan cepat turun dari pangkuan sang nenek.


"Cepat sekali kalau dibawa keluar, "Norma hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Kayla yang sudah memeluk Anaya, cucunya itu sangat antusias bila dibawa jalan-jalan.


"Mah, Naya jalan dulu, ya .... "Pamitnya.


.


Mereka sudah tiba disebuah taman bermain anak, hari ini suasananya begitu ramai. Anaya menurunkan Kayla yang berada digendongnya.


Anaya tersenyum gemas melihat Kayla yang langsung berlari dengan langkahnya yang terlihat imut ketika di lepaskan. Anaya mengikuti Kayla yang pergi menuju sebuah perosotan.


Anaya mengawasi Kayla yang asik bermain di perosotan dengan anak-anak yang seumuran dengannya.


"Kay, tante duduk disitu, ya! "Anaya menunjuk sebuah bangku taman yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat Kayla bermain.


Kayla yang asik bermain hanya menoleh sebentar kepada Anaya, setelah itu kembali lanjut bermain dengan teman-temannya yang ada disitu.


Anaya yang duduk di bangku sebuah taman meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal karena terlalu lama berdiri, ternyata cukup melelahkan juga mengawasi Kayla yang bermain berlari kesana-kemari, kemudian kembali lagi ke perosotan lagi berulang kali.


Ketika melihat anak-anak yang sedang bermain, Anaya secara otomatis memegang perutnya. Ia menjadi merasa tak sabar untuk menunggu bayinya lahir. Anaya juga menyesal karena dulu dirinya pernah ragu dan ingin menggugurkan bayinya, ketika mengetahui dirinya sedang hamil.


Anaya melirik jam yang ada ditangan kanannya. Pantas saja ia merasa perutnya agak lapar, ternyata sudah hampir waktunya makan siang.


Anaya menghampiri Kayla untuk segera membawanya mencari tempat makan yang enak.


😉