
"Dev ... "Anaya memanggil Devan yang sedang menyetir, dengan pandangan lurus ke depan.
Setelah bertemu dengan Ryan tadi, Devan hanya diam saja tak mengeluarkan sepatah katapun. Anaya menjadi bingung, padahal ia tak merasa melakukan kesalahan apapun. Anaya juga sudah begitu menahan diri untuk tidak berbicara dengan Ryan, walaupun ia sangat ingin melakukannya.
"Dev, "panggilnya lagi.
"Diam lah! Dasar berisik!! Apa kau tidak lihat aku sedang menyetir?! "Padahal Anaya memanggilnya baik-baik, tetapi Devan malah menjawabnya dengan sebuah bentakan.
Anaya mengalihkan pandangannya ke jendela mobil yang ada disampingnya, setelah Devan membentaknya, Anaya berhenti untuk mengajaknya bicara. Ia memilih tuk melihat beberapa bangunan yang menjulang tinggi yang mereka melewatinya.
Selalu saja seperti ini, Devan selalu marah tanpa sebab kepadanya. Anaya menghapus cepat air matanya yang tiba-tiba lolos.
Devan melirik Anaya yang membuang pandangannya dengan bahu yang bergetar, "cengeng! "Ucapnya yang yakin jika Anaya sedang menangis sekarang.
"Dev, apa aku ada berbuat salah? "Anaya bertanya dengan suaranya yang bergetar.
Anaya memberanikan diri menatap Devan dengan tatapan yang berlinang air mata, "Dev, "suaranya terdengar seperti sebuah rengekan karena Devan yang tak kunjung menjawabnya.
"Entahlah! Aku juga tak tahu!! "Devan tidak berbohong, ia memang tidak tahu dan tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Ia tidak suka melihat Ryan, jika melihat si sialan itu rasanya Devan langsung marah dan kesal tanpa sebab. Apalagi ketika mengingat Ryan yang menatap Anaya begitu lama, ingin sekali Devan menerjangnya dengan sebuah pukulan yang membuatnya tak akan bisa melakukan hal itu lagi.
"Aku minta maaf, jika aku salah. "Anaya terlihat begitu memelas dengan mata basahnya.
"Sudah ku bilang diam lah! "Kesalnya.
.
Devan yang baru sampai langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, sedangkan Anaya mengganti pakaiannya dengan sebuah daster. Karena kebanyakan bajunya sudah terasa agak ketat ketika dipakai.
"Dev, kau marah? "Anaya mendekati Devan yang sedang tiduran.
"Entahlah ..., "sahutnya.
Devan memandang Anaya yang tak terlihat seperti biasanya, "Apa itu style barumu?" tanyanya, melihat Anaya yang mengenakan sebuah daster rumahan.
Sepertinya Devan sudah tidak marah kepadanya, "aku membelinya karena pakaianku sudah pada sesak dipakai. "Anaya sedikit merasa malu, ini kali pertamanya ia memakai daster. Mungkin saja dirinya terlihat sangat jelek ketika mengenakannya, seperti yang biasa Devan katakan padanya.
Devan menyeringai, "kau terlihat cantik dan seksi memakainya, "ucapnya membuat Anaya terkejut. Padahal wanita itu sudah menyiapkan hati dan mentalnya, jika Devan mengatakan dirinya mirip dengan seorang pembantu ketika mengenakannya.
"B-benarkah ...? "Tanyanya memastikan, bisa saja telinganya salah dengar, baru kali ini Devan mengatakan dirinya cantik, membuat wajahnya menjadi bersemu malu.
Devan yang kini sedang duduk di atas ranjang, menarik tangan Anaya. Membuat wanita itu terduduk dipangkuan nya.
Devan mengumpulkan rambut panjang Anaya yang terurai di genggamannya, memberikan kecupan singkat di leher jenjang wanita yang sedang duduk dipangkuan nya itu.
"kau kenapa, Dev? "Tanyanya ketika Devan menenggelamkan wajah di ceruk lehernya, dan memeluk erat tubuhnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Anaya, Devan malah semakin mengeratkan pelukannya.
Devan menyukai wajah Anaya yang selalu terlihat cantik, Devan juga menyukai tubuhnya yang terlihat begitu seksi. Tetapi, terkadang Devan juga membencinya. Apalagi ketika ada seseorang yang menatapnya, ia benci kenapa wanita itu harus memiliki wajah dan tubuh yang begitu sempurna.
Rasanya Devan ingin menyimpan Anaya ketempat yang tak bisa dilihat dan ditemukan oleh orang lain, Devan ingin hanya dirinya saja yang boleh melihatnya.
Devan tidak tahu kenapa, tapi satu hal yang ia yakini, dirinya sudah mulai tak waras dan penyebabnya adalah Anaya, wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
"Sial! Sepertinya aku benar-benar gila!! "Devan melepaskan pelukannya pada Anaya dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa kan, Dev? "Devan berprilaku agak aneh, Anaya menjadi khawatir dibuatnya.
Anaya ikut berbaring di samping Devan, sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, ia takut Devan akan langsung menolak mentah-mentah permintaannya.
Dengan posisi yang berhadapan Anaya terus menatap Devan, membuat pria itu merasa risih. Lagi-lagi Anaya bertingkah tidak biasa.
"Apa?! "Devan terdengar ketus ketika mengatakannya.
"Berhenti melihatku! "Devan merasa terganggu dengan Anaya yang tak henti menatapnya.
"I-itu ..., "
"Itu apa?! "Ucap Devan tak sabaran.
"B-besok apakah kau ada waktu?! "Anaya memberanikan diri mengutarakan keinginannya.
" ... Tidak tahu, "Devan masih belum bertanya pada Bram mengenai jadwalnya besok.
"Begitu, "Anaya terlihat sedikit kecewa dengan jawaban Devan.
"Memangnya kenapa?" Tanya Devan yang merasa penasaran ada apa dengan hari esok sampai wanita itu menanyakan waktunya.
"Besok jadwal untuk periksa kandungan, Bisakah kamu menemaniku ...? " Baru kali ini Anaya mengajak Devan, biasanya ia akan pergi bersama Bella. Tapi sekarang Bella sudah berangkat bersama dengan Nick, jadi ia tak ada yang menemani.
Dan Devan juga sudah jadi sedikit lebih baik dan lebih peduli dengannya, siapa tahu pria itu mau menyisihkan sedikit waktu untuk menemaninya.
Devan tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, "baiklah, "ucap Devan pada akhirnya.
"Benarkah?! "Anaya menatap Devan tak percaya, apakah Devan serius ingin menemaninya untuk cek kandungan besok .
"Kamu tidak sedang berbohong kan, Dev? "
"Hmm, "singkat Devan mengiyakan.
Anaya merasa senang sekali, jadi besok Devan sungguh akan menemaninya.
"Apa yang kau lakukan?! "Devan terkejut karena Anaya yang tiba-tiba mengecup pipinya.
"Aku hanya merasa sangat senang, "ucapnya malu-malu. Anaya yang merasa senang sengaja memberikan sebuah kecupan singkat kepada Devan sebagai bentuk tanda terima kasihnya.
Devan menyentuh pipinya yang tadi mendapat kecupan dari Anaya, Devan senyum-senyum sendiri. Devan merasa sedikit lucu dengan dirinya yang merasa senang hanya karena mendapat sebuah kecupan singkat seperti itu.
Dan selama mereka menikah dan hidup bersama, ini adalah ciuman pertama yang Devan dapatkan dari wanita itu, karena biasanya Devan lah yang selalu lebih dulu menyerangnya.
"Lagi, "ucap Devan.
"Lagi ...? "Anaya mengulangi perkataan Devan, apa maksudnya dengan 'lagi'.
Devan mengarahkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri, "cium lagi, tapi disini. "Jelasnya.
Anaya yang baru mengerti maksud Devan menenggelamkan wajahnya pada bantal, ia tak bisa melakukannya. Mencium pipi Devan saja dirinya sudah begitu malu, apalagi kalau harus mencium bibirnya. Sepertinya Anaya tak sanggup kalau harus melakukan itu.
..
Devan baru saja bangun di sore hari, setelah tadi tidur siang. Ia mendapati Anaya yang terlihat begitu sibuk.
"Jika kau perlu pembantu katakan saja." Sekarang Devan merasa agak kasihan dengan Anaya, wanita itu mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri dengan perutnya yang makin hari makin bertambah besar.
Anaya yang sibuk memilih kain kotor berhenti sejenak, "tidak, aku masih bisa melakukannya. "Tumben sekali Devan memperhatikannya, biasanya Devan seperti manusia yang tak punya hati menyuruhnya melakukan ini dan itu, tiba-tiba menawarkannya seorang pembantu.
"Benarkah? "Padahal Devan sudah ingin sedikit mengalah dan berbaik hati jika Anaya menginginkan seorang pembantu. Tetapi wanita itu malah mengatakan tidak usah, jadi ya sudah.
Anaya mengangguk yakin, ia merasa masih bisa mengerjakannya sendiri. Anaya juga tahu Devan tidak suka jika ada orang lain yang berkeliaran di dalam rumahnya.
.
.
.
Jangan lupa jejaknya readers sekalian. 😁