marriage without love

marriage without love
Episode 42


Malam ini Anaya memutuskan untuk tidur di rumah sendirian, ia sedang malas untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Seperti yang biasa ia lakukan ketika sendirian di rumah, Anaya menghidupkan hampir semua lampu yang ada di rumah itu. Ia tak suka kalau ada ruangan gelap ketika melewatinya.


Setelah itu Anaya masuk kedalam kamar, membawa air minum dan beberapa buah yang akan ia nikmati sebelum tidur.


Ketika sedang rebahan dan asik menonton film di ponselnya, tiba-tiba saja ada sebuah Vidio call masuk dari Devan.


"Kemana saja kau hari ini, kau tidak bertemu Robby atau si sialan Ryan itu kan?! "


"Aku hanya di rumah, " sahut Anaya.


Melihat penampilan Devan dari layar ponselnya, sepertinya pria itu baru saja selesai mandi karena rambutnya masih terlihat begitu basah, dengan sebuah handuk yang masih menggantung dilehernya.


"Kau tidak ke rumah mamah? "


"Tidak, aku ingin disini saja, " sahutnya, sambil sesekali memasukan potongan buah kedalam mulutnya.


Devan menyeringai, mengangkat sudut bibirnya. "Ternyata kau cukup berani juga, padahal beberapa hari lalu, aku melihat ada sebuah bayangan hitam yang masuk ke dalam kamar mandi. " Bohong Devan, menceritakan cerita karangannya untuk menakuti Anaya.


"Dev! "


Anaya memelototkan matanya, seketika tubuhnya langsung merinding setelah mendengar cerita Devan. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita itu, tetap saja membuat ia menjadi takut, karena dirinya memang orang yang sangat penakut.


"Apa? Kau kira aku bohong sekarang, padahal aku sudah beberapa kali melihatnya. " Devan semakin membesarkan kebohongannya.


"Dev, berhentilah! Aku takut ..., "


Andai saja tau akan seperti ini, pasti Anaya sudah memilih untuk pulang ke rumah orang tuannya. Tapi kalau ia pergi sekarang sudah sangat terlambat, karena jam sudah menunjuk pukul setengah sebelas malam.


"Siapa yang ada disebelah mu?! " Ucap Devan tiba-tiba, membuat Anaya menoleh kepalanya pelan kesamping, dengan detak jantung yang sudah tak karuan.


Rasanya Anaya ingin menangis karena saking takutnya, untung saja tak ada siapa-siapa ketika ia menoleh, "Dev ... Aku takut. "


Puft ...!


Hampir saja Devan tertawa melihat ekspresi konyol yang Anaya buat. Padahal ia hanya bercanda saja, tapi wanita itu malah menanggapinya dengan sangat serius.


"Lebih baik kau segera tidur, jika tak mau melihat bayangan yang kukatakan tadi. "


Ketika Devan ingin mengakhiri vidio call meraka, Anaya menahannya. "Jangan dimatikan, ku mohon ..., " pintanya dengan wajah yang begitu memelas.


"Baiklah, tapi jika tak segera tidur akan ku matikan, karena aku juga sudah mau tidur. "


Anaya segera memperbaiki posisinya, ia menyandarkan ponselnya pada sebuah bantal, dan mulai memejamkan matanya.


Meskipun wanita itu sudah terlelap, Devan belum juga mematikan telponnya. Ia masih ingin melihat wajah cantik Anaya yang sedang tidur, rasanya Devan ingin segera pulang untuk segera mencium dan memeluknya, karena itu kebiasaan yang biasa ia lakukan ketika ingin tidur di malam hari.


Ck! Devan berdecak kesal karena ponsel Anaya malah terjatuh, karena pergerakan tangannya yang tak sengaja menyenggol bantal tempat ponsel wanita itu menyandar. Membuat ponsel itu hanya menampilkan gambar langit-langit kamar mereka saja.


Setelah mematikan telponnya, Devan memutuskan untuk tidur juga. Apalagi besok ia harus bangun pagi untuk melakukan sebuah rapat mengenai anak cabang perusahaannya yang ada disitu.


.


Setelah mengecek ponselnya, Anaya kembali berbaring ke tempat tidur. Ia memutuskan untuk tidur sebentar lagi, toh ia tak memiliki sesuatu untuk dikerjakan.


Berbeda sekali kalau ada Devan di rumah. kalau ada Devan, paginya pasti diawali dengan begitu sibuk karena harus membantu Devan menyiapkan ini dan itu sebelum berangkat kerja, belum lagi ia harus membuatkan sarapan.


Ketika hampir tertidur kembali, Anaya dikagetkan oleh suara telpon masuk di ponselnya.


Dengan matanya yang masih belum terbuka dengan sempurna, Anaya mengambil ponselnya yang tergeletak dekat bantal, membaca nama penelpon yang tertera di layar ponselnya, yang ternyata Norma, ibunya.


Ketika Anaya mengangkat telponnya, sang ibu menyuruh untuk segera bersiap-siap, karena ia sedang dalam perjalanan ke rumah untuk menjemputnya sekarang.


Mendengar itu Anaya langsung bangun dari tempat tidur, ia tak jadi melanjutkan tidurnya. Dan memutuskan untuk segera masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya.


Kemarin Anaya memang minta di jemput oleh orang rumah, karena dirinya sudah tak diperbolehkan untuk menyetir mobil sendiri. Tapi ia tidak menyangka kalau akan di jemput sepagi ini.


.


Sekarang Anaya sudah berada di dalam mobil bersama Norma, mereka berdua duduk di kursi belakang. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai juga di rumah.


Setelah keluar dari mobil, Anaya merasa pinggangnya terasa begitu sakit. Makin hari ia merasa semakin tidak tahan, jikalau harus duduk berlama-lama.


"Kenapa, Nay? "Tanya Norma melihat Anaya yang masih berdiri di dekat mobil.


"Enggak kok, mah! "Anaya mulai mengikuti Norma yang berjalan lebih dulu darinya.


Ketika sudah masuk ke dalam rumah, Anaya tidak ada melihat sosok ayahnya dimanapun, "papah kemana, mah? "Tanyanya.


"Pergi mancing sama papah mertua mu. "Jelas Norma, sekarang hubungan Bowo dan Arion menjadi dekat lagi, setelah pernikahan putra dan putri mereka.


Pantas saja Anaya tak dapat menemukan keberadaan ayahnya dimanapun.


"Kamu sudah sarapan belum, Nay?? "Tanya Norma yang mendapat gelengan kepala dari Anaya, "belum, Naya juga masih belum lapar. "


Meskipun Anaya mengatakan masih belum lapar, Norma tetap membawa Anaya ke dapur. "Hus! Masa gitu sih! Enggak bagus lo kalo gak sarapan, nanti cucu mamah kelaparan, gimana? "Norma mendudukkan Anaya di meja makan, setelah itu ia pergi mengambil nasi dengan beberapa lauk untuk putrinya.


"Mah, Naya masih belum lapar. "Anaya tidak nafsu makan, tidak hanya kali ini ia melewatkan waktu sarapannya, tapi sudah beberapa kali. Biasanya, Anaya hanya minum susu bumil saja di pagi hari.


"Nay, kok gitu sih, gak bagus! "Norma masih terus memaksa Anaya yang cukup keras kepala, padahal dirinya sedang hamil.


"Dimakan, Nay ..., "karena ibunya yang terus memaksa, Anaya akhirnya terpaksa memakan sarapannya.


Padahal baru beberapa suap ia memasukan makanan ke dalam mulut, tetapi Anaya sudah merasa cukup kenyang. Bahkan yang ia makan belum sampai separuh makanan yang ada di piringnya.


"Naya, udah kenyang mah. "Anaya memundurkan piringnya, jika terus dipaksakan bisa-bisa ia muntahkan semua makanan yang sudah masuk ke perutnya.


"Minum dulu, Nay. "Norma memberikan segelas air putih pada Anaya. Ia begitu dimanjakan dan dilayani jika sedang berada di rumah orang tuannya.


.


.


.