
Seperti yang Devan katakan kemarin, hari ini dirinya kembali bekerja ke kantor.
"Ada apa, tuan? "Ucap Bram yang baru tiba di ruangan Devan.
"Perusahaan milik keluarga Wirawan, putuskan semua kontrak yang bersangkutan dengan mereka, "titahnya.
Perusahan Wirawan adalah perusahaan milik orang tua Amanda, Devan sudah tak sudi lagi untuk bekerjasama dengan hal-hal yang bersangkutan dengan wanita itu.
"Maaf, apakah tuan yakin? "Bram tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh tuan Devan. Jika mereka tiba-tiba memutuskan kontrak, bukan cuma perusahaan milik Wirawan yang rugi, tapi mereka juga akan mengalami kerugian.
"Lakukan saja yang sudah ku katakan! "Devan tak peduli mau rugi atau tidak, pokoknya dirinya sudah tak mau lagi bekerjasama dengan mereka. Apapun yang bersangkutan dengan Amanda, Devan tidak akan mau.
Seandainya perusahaan milik keluarga Wirawan hanya perusahaan kecil, maka Devan pasti sudah membuatnya gulung tikar. Tapi sayang sekali, perusahaan itu tak kalah besar dengan miliknya.
Jadi Devan tak bisa berbuat banyak, ditambah dirinya yang masih seorang CEO baru. Dibandingkan ayahnya saja, Devan masih kalah jauh. Dan jika Devan berani main-main dengan perusahaan milik Wirawan, yang ada malah perusahaannya sendiri yang akan bangkrut.
"Sana pergilah! "Devan mengusir sang sekertaris yang masih berdiam diri situ, meskipun sudah mendapat perintah darinya.
"Baik, tuan. "Setelah mengucapkan itu Bram segera keluar dari ruangan tuan Devan. Bram sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran tuannya saat ini.
Tiba-tiba saja setelah tidak masuk bekerja selama beberapa hari, tuan Devan memerintahnya untuk memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Wirawan. Bram hanya bisa berharap, semoga saja perusahaan mereka tidak akan bangkrut.
Karena melihat dari data yang ada, semenjak Devan yang memimpin perusahaan. Perusahaan mengalami sedikit penurunan, dibandingkan ketika sang ayah, Arion yang memimpinnya.
Dan penyebabnya tak perlu ditanyakan lagi, mana mungkin perusahan bisa lebih maju ketika sang pemimpin tak terlalu memperhatikan para karyawan atau pekerjaannya sendiri.
Dimata sang sekertaris, tuan Devan merupakan atasan yang malas untuk pergi bekerja. Tuan Devan sering datang terlambat, tetapi pulang lebih cepat. Tuan Devan juga sering tidak masuk bekerja dan jika pekerjaannya sudah menumpuk, maka dirinya lah yang akan disalahkan karena dianggap tak becus.
Pokoknya selama menjadi sekertaris, Bram harus banyak-banyak bersabar karena mendapat atasan yang seperti itu. Mau bagaimana lagi, namanya juga atasan. Apapun yang dikatakannya pasti lah benar, meskipun faktanya tak seperti itu.
.
Saat ini Anaya sedang berada di rumah bersama Arvan, anak angkat Robby dan Arvin.
Arvan datang bukan karena kemauannya sendiri, tapi ia dibawa paksa oleh teman papi dan juga ayahnya, yaitu om Devan.
"Adek, namanya siapa? "Anaya bertanya pada anak kecil yang dibawa oleh Devan, untuk menjadi temannya hari ini selama Devan pergi bekerja.
Anaya tidak tau sama sekali mengenai anak kecil yang ada dihadapannya saat ini, ini kali pertamanya mereka bertemu. Devan hanya memberitahu jika itu anak angkat Arvin, hanya itu saja, setelah itu Devan langsung pergi kerja.
"Arvan, "cicit anak kecil itu dengan wajahnya yang tertunduk.
"Kalau kakak namanya Anaya, "Anaya memperkenalkan dirinya sendiri pada Arvan, dengan senyum ramah di bibirnya. Membuat Arvan yang tadinya merasa takut dan was-was menjadi terkesima setelah melihat senyum dari kakak cantik yang baru saja memperkenalkan diri kepadanya.
Arvan menatap seluruh penjuru ruangan, "Arvan kenapa? "Tanya Anaya.
"Kak, om yang tadi kemana? "Om yang dimaksud Arvan adalah Devan, setelah membawanya masuk kedalam rumah, Arvan sama sekali tak melihat keberadaan om yang terlihat galak itu.
"Devan, "Anaya tersenyum lucu ketika mendengar anak kecil itu memangil Devan dengan sebutan om, sedangkan dirinya dipanggil kakak.
"Om Devan nya udah berangkat kerja, sore nanti baru pulang. "Jelas Anaya.
Senang rasanya hati Arvan mendengar hal itu, bukannya Arvan benci dengan om Devan. Hanya saja, Arvan tak suka karena om Devan terlihat galak dan suka bicara dengan suara yang keras. Terkadang hal itu membuat Arvan merasa takut.
"Tasnya bagus sekali! "Anaya melirik tas spiderman yang berada dipangkuan Arvan.
"Benarkah, jadi ayah Arvin yang memberinya. "Ucap Anaya yang langsung mendapat sanggahan dari Arvan, "bukan, tapi ayah Robby yang membelinya. "jelas anak kecil itu membuat Anaya cukup bingung mendengarnya.
Bukankah sebelumnya Devan bilang jika anak kecil itu anak angkat Arvin, tapi mengapa yang keluar malah nama Robby. Sepertinya, karena buru-buru Devan jadi keliru mengatakannya.
"Apa Arvan membawa mainan kesini? "Anaya merasa tertarik dengan isi tas yang anak kecil itu bawa.
"Bukan mainan, "Arvan membuka tasnya, lalu mengeluarkan apa saja yang ada di dalamnya.
Arvan mengeluarkan satu-persatu alat tulis dan alat menggambar dari dalam tasnya.
Anaya menunjuk sebuah buku gambar, "apa kakak boleh melihatnya? "Tanyanya yang merasa tertarik, membuat Arvan menganggukkan kepalanya sebagai respon.
Anaya tersenyum senang, "benarkah? "Anaya dengan cepat mengambil buku gambar itu, dirinya sudah sangat penasaran dengan gambar yang ada di dalamnya.
Anaya memandang bingung coretan warna-warni yang ada di dalam buku gambar, ia tak tahu gambar apa yang sudah anak itu gambar disitu. Isinya hanya ada coretan abstrak.
Anaya menutup buka gambar itu, meletakkannya diatas meja, "apa Arvan mengantuk? "Tanyanya, melihat Arvan yang sudah beberapa kali menguap dan mengucek matanya.
Anaya membawa Arvan kedalam kamar yang ada dilantai satu, membiarkan anak itu tidur disitu. Sedangkan dirinya akan pergi memasak, karena tangannya sudah terasa agak mendingan sekarang.
Sebelum sampai dapur, Anaya menyimpan kembali alat tulis dan gambar Arvan kedalam tas spiderman nya.
.
Setelah jam menunjuk pukul lima sore, Devan langsung bergegas untuk bersiap-siap pulang. Seperti kata sang sekertaris tadi, datang terlambat dan pulang lebih cepat, sungguh mencerminkan diri Devan sekali.
Devan yang baru sampai rumah langsung merasa kesal melihat pemandangan yang menyambutnya di meja makan.
"Apa yang kau lakukan?! "Devan berjalan terburu-buru mendekati Anaya yang menyuapi makanan kedalam mulut Arvan.
"Tanganmu kan masih sakit! "
Devan merebut sendok yang ada ditangan Anaya, lalu meletakkannya kehadapan Arvan.
"Bocah, kau kan sudah besar, jadi makan sendiri saja! "Ketusnya.
Arvan menunduk sebentar karena om galak sudah pulang ke rumah, dan merusak waktu makannya dengan kakak cantik.
Arvan menatap kakak cantik yang tadi menyuapinya makanan, "kak, papi ku masih belum menikah. "Ucap Arvan membuat Devan semakin jengkel.
Sepertinya bocah itu berniat menjodohkan Anaya dengan Arvin, sepertinya keputusan membawa bocah itu pilihan yang salah.
Dan sekarang Devan semakin merasa curiga, jangan-jangan anak itu memang anak kandung Arvin. Lihat saja kelakuan kurang ngajar mereka yang tak jauh berbeda.
.
.
.
.
.