
Setelah kepulangan kedua temannya, Devan memanggil Anaya dengan suara baritonnya yang menggema ke penjuru ruangan.
"Ada apa, Dev? "Anaya yang tadinya sibuk menyiapkan makan siang, buru-buru menemui Devan yang terus memanggilnya.
"Lama sekali! "Protesnya.
"Kemarilah! "Devan menyuruh Anaya untuk duduk di dekatnya yang sedang rebahan.
Setelah Anaya duduk didekatnya, Devan bangun sebentar, lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan paha Anaya yang dijadikan bantal.
"Lakukan seperti yang tadi malam! "Perintahnya.
Anaya kembali melakukan seperti yang Devan minta, "apakah kepala mu masih pusing? "Tanyanya khawatir.
"Hmm, "singkatnya, padahal aslinya Devan hanya menyukai sentuhan tangan lembut Anaya yang membelai kepalanya.
"Mulai malam ini kamu tidur disini! "Dengan mata yang terpejam Devan mengatakannya, Devan menyuruh Anaya tuk kembali tidur bersama di kamar mereka seperti dulu.
"T-tapi_ "Belum sempat Anaya menyelesaikan kalimatnya, Devan sudah memotongnya, "kau tidak bisa menolak karna itu bukan permintaan, melainkan perintah! "Tegasnya yang tak menerima penolakan apapun.
"Baiklah, "mau tak mau Anaya harus menuruti suaminya, sekaligus sang penguasa di rumah ini.
Dengan tangan yang masih sibuk memberikan pijatan lembut di kepala Devan, Anaya merasa sedikit mengantuk. Matanya saja sampai berair karena terus-menerus menguap.
"Dev, bolehkah aku menyalin nomer ku ke ponsel mu ...? "Ketika melihat ponsel Devan yang tergeletak di dekat bantal membuat Anaya kembali teringat mengenai mereka yang masih belum bertukar kontak.
"Terserah mu saja, "sahut Devan acuh.
Devan membiarkan Anaya mengambil ponselnya yang tergeletak sembarangan, ia juga membiarkan wanita itu untuk membuka ponselnya yang tak memakai sandi apapun.
Anaya yang hafal dengan nomor ponselnya, mulai memasukannya ke dalam ponsel Devan.
'Istri' Anaya tersenyum ketika memberikan nama pada nomornya sendiri di ponsel Devan, ia merasa lucu akan hal itu.
Anaya menjadi sedikit kepo dengan siapa saja Devan berkirim pesan, berhubung ponsel Devan sedang ada di tangannya, Anaya diam-diam memeriksa chat yang masuk.
"Apa yang kau lakukan? "
"Hah?! T-tidak ada! "Anaya yang masih memeriksa ponsel Devan terkejut karena Devan yang bertanya tiba-tiba.
Karena terlalu lama, Devan merebut ponselnya dari tangan Anaya, "kau memeriksa pesan di ponselku?! "Devan memicingkan matanya, "berani sekali kau! "Ucapnya tak suka.
"M-maaf, "Anaya memang bodoh, karena terkejut ia tak sempat keluar dari aplikasi chat dan malah tertangkap basah oleh Devan.
Tetapi, meskipun begitu. Anaya merasa sedikit tenang karena tidak ada pesan yang aneh-aneh di ponsel Devan. Kebanyakan pesan yang masuk hanya dari Arvin, Robby dan ayahnya, Arion.
Anaya menundukkan kepalanya, "Dev, aku minta maaf. "Ucapnya bersalah.
"Ck! Kau tenang saja! Aku tidak punya wanita lain selama kau melayaniku dengan baik! "
Setelah mengatakan itu Devan pergi ke balkon untuk merokok, kemarin ia bahkan tak ada menghisap satu batang pun karena sedang sakit. Dan setelah sembuh, Devan kembali ingin menghisap nikotin itu.
.
Setelah memindahkan kembali barang-barang Anaya ke kamar yang ada di lantai atas, mereka menikmati waktu makan malam. Untung saja Devan mau membantu Anaya memindahkan barang-barangnya. Walaupun tak terlalu banyak, tapi tetap saja rasanya melelahkan kalau harus melakukannya sendiri.
Waktu Anaya memindahkannya dari atas ke bawah saja dirinya merasa sangat lelah, apalagi ini dari bawah keatas, tentu saja akan lebih melelahkan dari pada sebelumnya.
Devan makan dengan begitu lahap, ia bahkan menghabiskan satu piring penuh nasi yang Anaya ambilkan. Berbeda dengan Devan, Anaya malah tidak terlalu berselera, padahal ketika awal hamil dulu nafsu makannya begitu besar. Tetapi, sekarang entah hilang kemana nafsu makannya itu.
"Kau tidak makan? "Devan yang selesai makan melirik piring Anaya yang masih terlihat sangat bersih.
"Tidak, aku tidak lapar. "Anaya hanya meminum segelas susu bumil nya.
"Kau kira susu itu cukup untuk melayaniku? "Seru Devan, membuat Anaya hampir tersedak mendengarnya.
Dengan terpaksa Anaya mulai mengisi piring kosong yang ada di depannya dan mulai menelan makanannya sedikit demi sedikit, agar bisa melayani suaminya.
Setelah membereskan meja makan, Anaya segera pergi ke kamar. Matanya sudah terasa sangat ngantuk.
Ketika sampai kamar Anaya langsung mengambil posisi di samping Devan yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Ada apa dengan mu?! "Seru Devan pada Anaya yang terus bergerak tak bisa diam disebelahnya, mengganggu saja.
Anaya juga tidak tahu mengapa ia tak bisa tidur, padahal matanya mengantuk. Apalagi, sekarang jika malam dirinya selalu merasa kepanasan meskipun AC sudah dinyalakan.
Anaya yang sudah rebahan begitu lama memutuskan untuk bangun sebentar, Anaya yang sudah tak tahan karena merasa gerah memilih untuk mengganti piyamanya dengan sebuah tanktop.
"Sial! Apa kau mencoba menggodaku lagi?! "Untuk apa wanita itu tiba-tiba mengganti piyamanya.
Anaya menggelengkan kepalanya cepat, "aku tidak bisa tidur karena merasa gerah. "Anaya sama sekali tak berniat menggoda Devan.
"Benarkah? Jujur saja jika kau ingin aku memasuki milikmu. "Ucap Devan vulgar.
Aneh sekali, padahal Devan tak merasa kepanasan, malah ia merasa suhu kamar agak dingin karena AC yang tak dimatikan.
"Aku sungguh tidak berniat menggoda mu. "Anaya membantah tuduhan yang Devan ucapkan.
Anaya kembali berbaring di tempat tidur, sekarang terasa lebih nyaman dibandingkan ketika ia memakai piyama tidurnya.
Disaat Anaya sudah merasa akan terlelap, tiba-tiba saja Devan mulai membelai punggungnya.
"Kau harus tanggung jawab! "Devan mengecup bahu putih Anaya yang terekspos.
Anaya ingin sekali menolak Devan karena matanya sudah terasa sangat berat, "aku sangat mengantuk, "Anaya bahkan merasa kesulitan membuka matanya.
"Hei, Ayolah ...! "Devan mengguncang tubuh Anaya, agar wanita itu segera bangun.
"Tapi, bisakah kau melakukannya dengan lebih lembut? "Anaya merasa malu ketika mengatakannya pada Devan.
"Kita terlalu sering melakukannya, aku khawatir. "Lanjutnya dengan tangan yang berada diperut.
Devan memang selalu meminta Anaya melayaninya, bahkan Devan selalu melakukannya dengan begitu kasar dan dengan durasi yang tak sebentar. Hal itulah yang membuat Anaya khawatir, ia takut bayinya akan kenapa-napa.
"Baiklah, aku mengerti! "Belum lahir saja bayinya sudah membuat Devan tak suka, apalagi ketika sudah lahir nantinya.
Devan mulai menyentuh Anaya, ia menepati janjinya untuk tidak melakukannya dengan kasar. Devan juga tak merubah-rubah posisi mereka ketika melakukannya, malam ini cukup dengan satu posisi Anaya yang berada di bawahnya.
"Dev, cukup ku mohon! "Pinta Anaya disela rintihannya.
Anaya sudah tak tahan, kakinya saja sudah bergetar karena terlalu lama melakukannya.
****...! Akhirnya Devan berhenti dan segera menjauh dari atas tubuh Anaya yang terlihat sangat berantakan.
Devan menarik tubuh Anaya kedalam pelukannya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Dev, Aku merasa gerah. "Anaya sampai merasa sulit untuk bernapas karena Devan yang memeluknya, ditambah sebuah selimut tebal yang menutupinya.
Ketika Devan melepas pelukannya, Anaya memakai kembali tank topnya dan memilih menjauh sedikit dari Devan yang sudah tidur lebih dulu.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya .... 😊