marriage without love

marriage without love
Episode 26


Akhirnya hari dimana pernikahan Bella dan Nick diselenggarakan tiba juga.


Anaya sudah berdandan dari pagi, ia ingin hadir dengan penampilan terbaik di hari bahagia sahabatnya.


Devan sudah lama menunggu Anaya, saking lamanya Devan sudah berniat meninggalkan wanita itu. Tetapi, untung saja Anaya segera turun kebawah. Jika tidak Devan akan benar-benar meninggalkannya.


Devan diam tak bisa bergerak ketika matanya menangkap sosok Anaya yang terlihat sangat berbeda. Hari ini wanita itu terlihat sangat cantik, Devan saja sampai merasa terpesona karena kecantikannya.


"Siapa yang ingin kau rayu di sana?! "Sinis Devan pada Anaya yang baru tiba.


Anaya menggelengkan kepalanya, ia bingung dengan Devan yang melihatnya seperti tak suka.


"Kau memakai baju seperti itu, apa kau tidak sadar jika perutmu terlihat besar mengenakannya! "Sarkas Devan.


Anaya merasa sakit hati ketika Devan menghina nya. Apakah dirinya terlihat sangat jelek mengenakan Dress berwarna putih yang sudah ia siapkan dari beberapa hari lalu.


Seperti kata Devan, perutnya memang sudah terlihat membesar. Seketika Anaya langsung merasa tidak percaya diri dengan penampilannya.


"Siapa suruh tak sadar diri dengan bentuk tubuhmu sendiri! " ucap Devan yang terdengar sangat keterlaluan.


"Apakah memang sejelek itu? "Anaya tertunduk lemas dengan tangan yang memegang perutnya, padahal ia sudah memilih pakaian yang paling cocok dengan bentuk tubuhnya. Tapi ternyata malah terlihat jelek ketika dipakai olehnya.


"Cepatlah! "Dengan perasaan risau akan penampilannya, Anaya mengikuti Devan yang sudah berjalan meninggalkannya lebih dulu.


.


Anaya dan Devan baru saja tiba di gedung tempat acara pernikahan diadakan, dari luar saja sudah kelihatan betapa mewah dan meriahnya acara pernikahan sahabatnya itu.


Anaya dan Devan yang baru memasuki gedung langsung disapa oleh Robby dan Arvin yang sudah tiba lebih dulu.


"Kau cantik sekali! "Siapa lagi yang mengatakannya kalau bukan Arvin.


Anaya yang tertunduk karena tak terlalu percaya diri memberikan senyumannya pada Arvin yang telah memberikannya sebuah pujian, "Terima kasih. "Ucapnya.


"Ugh, cantik sekali! "Lebay Arvin dengan kedua tangan yang menyentuh dadanya seolah merasa kesakitan.


"Mana pasangan kalian? "Tanya Devan yang tak melihat partner kedua sahabatnya.


"Kami tak membawa pasangan, "jelas Robby.


"Kenapa? "Tanya Devan lagi.


"Ayolah, Dev. Kau taukan kami tak memiliki kekasih! "Seru Arvin kesal. Ia dan Robby memang masih jomblo, dan Arvin malas mencari perempuan sebagai partner untuk datang ke pesta pernikahan.


Devan mengangkat sudut bibirnya, "bawa saja wanita yang biasa kau tiduri. "Ejek Devan.


Rasanya Arvin ingin menendang Devan sampai keluar dari gedung, mana mungkin ia membawa wanita yang biasa ia tiduri untuk datang ke acara seperti ini.


Arvin juga tak terlalu pandai dalam merangkai kata untuk membawa seorang wanita kesebuah pesta, ia hanya pandai mengajak wanita untuk pergi one night stand saja.


"Kenapa kau selalu menunduk? "Robby bertanya pada Anaya yang selalu menatap kebawah.


"T-tidak apa-apa, "Sahutnya, padahal Anaya masih merasa tak percaya diri gara-gara ucapan Devan yang mengatainya ketika masih di rumah tadi.


"Kau terlihat cantik, "puji Robby.


Anaya tidak tahu apakah kedua sahabat Devan itu serius mengatakannya, atau hanya sekedar basa basi saja. Tetapi, Anaya merasa sedikit lebih baik setelah mendengarnya.


"Terima kasih, kau juga terlihat sangat bagus hari ini. "Anaya membalas pujian yang Robby berikan, lalu melihat pada Devan yang menatapnya tak suka sedari rumah tadi. Entah apa yang salah dengannya, Anaya tidak tau.


"Dev, apakah aku boleh menemui Bella? "Anaya ingin menemui Bella yang berada diruang rias.


"Terserah saja, "acuhnya.


Setelah Anaya menjauh, Devan dan kedua temannya mencari tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol sambil melirik wanita cantik yang ada disitu. Anggap saja mereka sedang cuci mata.


.


"Aku kan memang cantik, "sahut Bella dengan senyum jaim di wajahnya.


"Kau juga sangat cantik hari ini, "ucap Bella pada sahabatnya.


"Benarkah ...? "Anaya tak terlalu yakin dengan pujian yang Bella berikan.


"Serius, Nay. Kau juga sangat cantik! Gaun mu juga terlihat sangat pas,sangat cocok denganmu. "Jelas Bella pada sahabatnya yang terlihat kurang percaya diri, seperti bukan Anaya saja.


"Tapi kata Devan aku tak cocok berpenampilan seperti ini, karena perutku yang sudah mulai besar. "Anaya terlihat sedih mengingat perkataan Devan yang menghinanya.


"Sialan Devan! " Maki Bella yang tak terima sahabatnya di hina begitu.


"Kau terlihat sangat bagus, Nay. Devan berbohong kepadamu. Lagian, wajar kok. Kamu kan sedang hamil. "Brengsek sekali memang Devan, bisa-bisanya mengatai Anaya begitu. Padahal, dia sendiri pelaku yang membuat perut Anaya sampai bisa membesar seperti itu.


Setelah beberapa kali mengambil foto dengan Bella, Anaya meninggalkan ruang rias dan kembali untuk mencari keberadaan Devan, karena sebentar lagi Bella akan segera keluar untuk memulai acara pernikahannya.


Gedung yang sangat besar dan ratusan tamu undangan yang hadir membuat Anaya tak bisa menemukan keberadaan Devan. Anaya yang sudah kelelahan mencari Devan memilih untuk mencari tempat duduk.


Suara tepuk tangan dan sorakan dari para tamu begitu pecah ketika Nick dan Bella mulai bertukar cincin, Anaya juga turut ikut senang melihatnya.


"Ann! "Ditengah ramainya sorakan orang-orang, Anaya menangkap suara yang tak asing di telinganya.


Anaya menatap sekelilingnya mencari darimana asal suara, tapi ia tak dapat menemukannya. Mungkin saja ia salah dengar.


Ketika Anaya kembali memfokuskan pandangannya ke depan, suara itu muncul lagi, dan suaranya terdengar lebih dekat dan lebih jelas daripada yang sebelumnya.


Anaya kembali menatap sekelilingnya, Anaya terdiam seolah-olah tubuhnya menjadi mati rasa. Pandangannya menatap lurus orang yang memanggilnya.


Matanya terasa basah, ternyata ia tak salah dengar. Ternyata memang ada yang memanggilnya. 'Anna' nama yang diambil dari nama depannya, Anaya.


Nama kesayangan yang diberikan oleh Ryan, pria yang sudah mengisi seluruh relung hatinya sejak beberapa tahun lalu hingga saat ini.


"Ryan ..., "lirihnya.


Melihat Ryan yang mulai mendekatinya, Anaya tak mampu membendung air matanya. Anaya merasa bahagia melihat sosok Ryan yang sudah lama ia rindukan, tapi disaat bersamaan Anaya juga merasa bersalah.


"Anna, "Ryan memeluk Anaya ditengah keramaian, ia sangat merindukannya.


Sudah beberapa bulan mereka tak bertukar kabar, setelah Anaya tiba-tiba memutuskan hubungan mereka tanpa sebab. Tapi Ryan tak menyerah, ia tak menerima keputusan sepihak yang dibuat oleh Anaya.


Dan ketika Ryan ingin menanyakan apa alasannya, Anaya sudah lebih dulu memblokir nomornya, maupun akun media yang lain. Jadi, sampai sekarang Ryan sama sekali tidak tahu apa alasan yang membuat Anaya tiba-tiba meminta pisah darinya.


Ketika Ryan menanyai orang terdekatnya, mereka juga tak memberitahu apapun, seakan mereka sudah diminta untuk tutup mulut.


"Apa aku ada membuat salah? "Di sela-sela pelukannya Ryan bertanya dengan suara yang terdengar begitu lirih.


"Aku sangat merindukan mu, "Ryan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Anaya.


Anaya tak memberi jawaban apapun, tapi ia membalas pelukan Ryan karena rasa rindunya tak kalah besar dengan pria itu.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak