marriage without love

marriage without love
Episode 50


Muak sekali rasanya Devan melihat Ryan yang masih berduaan dengan Anaya, apalagi ketika ia melihat si sialan Ryan itu mulai menyentuh tangan Anaya. Ia merasa darahnya seakan menjadi mendidih dibuatnya.


"Aku pusing melihatmu, "ucap Arvin melihat Devan yang terlihat begitu gusar menunggu Ryan keluar, bahkan temannya itu sudah beberapa kali berjalan mondar-mandir tak karuan.


"Lebih baik kau duduk diam, nanti Ryan juga akan keluar. "Ucap Robby yang juga merasa pusing melihat tingkah Devan.


"Berisik! " Daripada duduk, Devan lebih memilih untuk berdiri bersandar di tembok dekat pintu, yang sudah terlihat seperti seorang penjaga disitu.


*Clek


Mendengar suara pintu yang terbuka, Devan dengan sigap langsung menghampiri Ryan yang baru keluar dari ruangan itu.


"Kau sengaja kan berlama-lama didalam sana! "Devan menarik kerah kemeja Ryan yang baru keluar dari ruang tempat Anaya di rawat.


"Berani sekali kau menyentuhnya! "Devan sangat geram mengingat Ryan yang berani menyentuh tangan Anaya disaat dirinya diberikan kesempatan berdua saja didalam sana.


Ryan tersenyum kecut mendengar omong kosong seorang bajingan seperti Devan, "pada awalnya wanita itu memang milikku, tapi kau menyentuhnya, bahkan sampai merebutnya. "Ucap Ryan, perasaan yang Devan rasakan sekarang, bahkan tak setara dengan apa yang ia rasakan ketika pria itu mengambil Anaya darinya.


Bahkan sampai sekarang rasa sakit yang ia rasakan setelah kehilangan wanitanya tak kunjung sembuh, Meskipun ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutup lukanya. Tapi tetap saja luka dihatinya terus menganga, apalagi setelah melihat kejadian hari ini, lukanya yang belum sembuh malah bertambah menjadi kian membesar.


"Omong kosong!! "Ucap Devan yang merasa semakin geram dengan Ryan.


Robby dan Arvin menarik Devan agar menjauh sedikit dari Ryan, jika dibiarkan bisa-bisa malah akan menimbulkan sebuah perkelahian nantinya.


"Apa yang terjadi dengan Anaya, ketika di tempat pesta? "Devan yang sudah sedikit lebih tenang kembali menuntut penjelasan kepada Ryan mengenai yang terjadi dengan wanita itu, karena hanya si sialan itu yang tau penyebabnya.


"Kenapa bertanya padaku, seharusnya kau yang suaminya lebih tau mengenai masalah yang menyangkut istrimu! "Ucap Ryan yang merasa enggan untuk memberitahu Devan.


"Heh! Aku sedang bicara serius sekarang!! "


"Aku juga serius, kau pikir aku sedang main-main. "


"Sebenarnya apa mau mu?! Kau bahkan tidak mau memberitahukan apa yang terjadi dengan Anaya! "Devan kembali meletakkan tangannya di kerah Ryan, yang seperti ingin pergi tanpa memberitahu apapun kepadanya.


Ryan melepas tangan Devan yang ada di leher bajunya dengan sangat kasar, "kau ingin tau apa yang ku mau? Yang ku mau kau pergi jauh-jauh dari Anna! Harusnya kau sadar diri, bajingan sepertimu tak pantas bersamanya! "Ucap Ryan dengan menekan setiap kata-katanya.


"Kurang ngajar!! "Devan sama sekali tak terima dengan apa yang baru saja si sialan Ryan itu katakan kepadanya, haruskah kah ia memberinya sebuah pelajaran sekarang.


Ketika Devan bersiap melayangkan tangannya untuk memberikan pukulan pada Ryan, kedua temannya sudah lebih dulu menahan tubuhnya.


"Ini rumah sakit, yang benar saja kau ingin membuat keributan disini! "Kesal Robby.


"Si bodoh ini, jangan kau lepaskan. "Pesan Robby pada Arvin yang masih menahan tubuh Devan.


Robby mendekati Ryan yang duduk di bangku depan ruangan itu, "maafkan teman ku, "ucap Robby yang ikut duduk di bangku kosong sebelah Ryan.


Ryan melirik malas Robby yang ada disebelahnya, "huh ..., "Ryan hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan yang keluar dari mulut sahabat Devan itu.


"Meskipun dia bodoh, bukankah dia juga pantas untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, "Dia yang dimaksud Robby adalah Devan, yang saat ini sedang menatap tajam kearah mereka.


Ryan menghela napas berat, yang dikatakan Robby memang benar. Bajingan itu memang pantas untuk mengetahui kejadiannya, karena bagaimanpun ia tetap suami dari Anaya.


"Amanda ..., wanita itu yang telah menyerang Anna. "Ucap Ryan pada akhirnya.


Napas Devan kembali memburu, setelah diingat-ingat kembali Amanda memang tidak kembali lagi setelah pamit pergi ke toilet ketika di tempat pesta tadi.


Pantas saja wanita itu tak kembali, ternyata dirinya sedang sibuk menyiksa Anaya.


"Seharusnya dia menyerang mu, bukannya Anna. "Ucap Ryan. Padahal bajingan itu yang sudah melakukan sesuatu yang buruk, tetapi malah Anaya yang menerima karmanya. Bukankah itu tak adil.


Arvin dan Robby juga sangat terkejut mendengarnya, mereka tak menyangka Amanda akan melakukan sesuatu yang gila seperti ini, hanya gara-gara pria brengsek macam Devan.


"Awas saja kau Amanda, "geram Devan.


.


Devan duduk di kursi yang berada di samping ranjang Anaya, matanya menelusuri wajah cantik Anaya yang dipenuhi oleh luka memar.


Devan menundukkan kepalanya, lalu menahannya dengan tangan yang bertumpu pada kakinya. Perasaanya sangat kacau melihat kondisi Anaya yang sedang terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit, berani sekali wanita murahan itu melakukan sesuatu yang sangat buruk kepada Anaya.


Devan menyentuh jemari Anaya yang juga terlihat merah dan membiru, entah apa yang sudah Amanda perbuat pada tangan halus Anaya sampai membuatnya menjadi seperti ini.


"R ... Yan, "lirih Anaya yang mulai membuka matanya.


Devan mendengus tak suka, padahal jelas-jelas dirinya yang sedang berada disitu. Tetapi, malah nama si sialan itu yang pertama kali muncul di mulut wanita itu.


"Dev ..., "ucapnya lagi ketika matanya sudah mulai melihat dengan lebih jelas. Awalnya ia kira orang yang duduk disampingnya adalah Ryan, karena Anaya sangat ingat sebelum ia pingsan Ryan lah yang sudah datang menolongnya.


"Sepertinya kau sangat berharap jika pria sialan itu yang ada disini, "sindir Devan.


Ugh, Anaya meringis merasakan sakit di kepalanya ketika mencoba untuk bangun. Bagian belakang kepalanya terasa benjol karena Amanda yang menarik dan membenturkan kepalanya kepada dinding toilet. Tapi sukurnya benturan itu tak meninggalkan cidera yang serius di kepalanya.


Cih, Devan yang melihat Anaya kesusahan, membantu wanita itu untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang pasien.


Tiba-tiba saja air mata Anaya mengalir ketika memperhatikan tangannya yang memiliki banyak luka lebam, "bayiku tidak papakan? "Tanyanya pada Devan dengan mata berlinang air mata.


"Bayinya baik-baik saja, "


Anaya menyentuh perutnya, Anaya sangat bersyukur bayinya tidak kenapa-napa. Tidak sia-sia Anaya mengorbankan tangannya demi melindungi perutnya.


"Lebih baik kau berhenti menangis dan tidurlah lagi, "Devan mengusap air mata wanita itu dengan ibu jarinya. Lalu kembali membantu wanita itu untuk berbaring.


"Dev, apa mamah dan papah sudah tau? "Anaya bertanya dengan wajahnya yang terlihat sangat cemas.


"Tidak, aku belum memberitahu mereka. "Sahut Devan membuat wanita itu terlihat lega.


"Jangan beritahu mereka, ku mohon. "Pintanya dengan wajah yang terlihat begitu memelas.


Anaya tidak mau orang tuanya sampai tau atas kejadian yang menimpanya, ia tak mau membuat mereka merasa cemas.


"Dev, "panggilnya sedikit merengek.


"Baiklah, "ucap Devan.


Setelah dipikirkan ada baiknya juga Devan tak memberitahu orang tua mereka, karena jika diberitahu sudah pasti dirinya akan mendapatkan sebuah hukuman dari ayahnya, Arion. Orang tua satu itu pasti tak akan melepaskannya begitu saja, jika mendengar sesuatu yang buruk telah menimpa menantunya.