marriage without love

marriage without love
Episode 59


Tanpa mengganti baju kerjanya, Devan langsung ikut bergabung dimeja makan.


Devan mengangkat Arvan yang duduk disebelah Anaya, untuk merampas tempat duduknya. Devan tidak akan membiarkan lelaki manapun duduk disebelah Anaya, termasuk bocah ingusan itu.


"Apa yang kau lakukan, Dev? "Tiba-tiba saja Devan merampas tempat duduk anak itu, lalu duduk di tengah-tengah mereka.


"Kamu juga makanlah, aku akan menyuapi mu. "


"Aku bisa makan sendiri, Dev. Tanganku sudah terasa lebih baik. "Ucap Anaya pada Devan yang ingin menyuapinya makanan.


Bukannya Anaya menolak perhatian dari Devan. Hanya saja, Anaya mau Devan juga ikut makan, tidak hanya menyuapinya.


Devan melirik bocah yang terdengar cengengesan disebelahnya, sepertinya bocah nakal itu sedang menertawainya saat ini.


"Awas kau bocah! "Melihat anak kecil itu membuat Devan semakin kesal, rasanya seperti sedang melihat Arvin dengan versi kecilnya. Awalnya Devan mengira bocah itu anak pendiam dan pemalu karena selalu menundukkan wajahnya.


Tapi lihat saja, sekali anak itu mengangkat wajahnya, ternyata sifatnya persis seperti Arvin.


"Dev, "Anaya menyentuh lengan Devan yang terlihat tak suka dengan Arvan, "dia hanya anak kecil, "ucapnya.


"Dia tertawa karena kau menolak suapan dariku! "Jengkel sekali rasanya hati Devan.


"Jika tanganmu sudah tak sakit, bagaimana jika kau saja yang menyuapiku! Bohong sekali kalau kau bilang tidak bisa, padahal aku melihatmu menyuapinya bocah itu tadi. "Devan menatap sinis anak laki-laki yang duduk disebelahnya.


"Tapi diakan masih kecil, "Arvan kan masih kecil, jadi wajar saja jika masih disuapi. Beda cerita kalau yang memintanya Devan, apalagi Devan juga baik-baik saja.


"Berani membantahku?! "Devan tidak akan terima jika Anaya berani menolaknya.


"Ya, iya ..., "Anaya mengambil alih piring Devan, lalu mulai menyodorkan sendok yang sudah berisi makanan kepada Devan.


.


Ketika baru selesai makan malam, Devan mendapat sebuah panggilan dari Arvin yang memberitahu jika dirinya sedang tidak ada di apartemen. Dan besar kemungkinan dirinya tak akan pulang malam ini, jadi Arvin meminta tolong untuk menjaga Arvan malam ini.


"Sialan! "


"Kenapa, Dev? "Tanya Anaya pada Devan yang tiba-tiba mengumpat.


"Arvin tidak ada di apartemennya! "Devan menatap kesal Arvan yang sudah memakai tas punggung spiderman nya, siap menunggu jemputan sang papi yang nyatanya sedang asik keluyuran.


Devan menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa frustasi. Harus ia kemana kan bocah nakal itu, sekarang.


"Benarkah? Kalau begitu biar Arvan menginap disini saja. "Anaya malah merasa senang jika Arvan bermalam di rumah mereka, jadi rumah terasa lebih ramai.


Jika Anaya terlihat senang, maka beda cerita lagi dengan Devan. Saat ini pria itu terlihat begitu terganggu dengan kehadiran bocah itu. Apalagi sekarang bocah nakal itu sedang menempel pada Anaya sambil memegang daster yang wanita itu kenakan.


"Dev, bolehkah aku pergi keluar sebentar? "Ucap Anaya membuat Devan menatapnya bingung. Memangnya ingin pergi kemana Anaya malam-malam begini, dengan membawa perut besarnya itu.


"Ingin kemana kau? "Tanyanya.


"Aku ingin pergi ke toko pakaian anak, "Anaya berniat membelikan Arvan pakaian, tidak mungkin Anaya membiarkan Arvan memakai baju yang sama dari tadi pagi. Pasti bajunya sudah tak nyaman dipakai karena keringat.


Ck! Devan berdecak kesal, kenapa bocah nakal itu sangat merepotkan, "biar aku saja yang membelinya. "Ucap Devan, yang terdengar sedikit terpaksa.


"Tidak papa, biar aku saja yang membelinya. "Anaya tau Devan pasti lelah sehabis pulang kerja, jadi Anaya merasa tak enak pada Devan kalau harus membiarkannya pergi. Lagipula, letak toko pakaiannya tak terlalu jauh dari rumah mereka. Hanya butuh sepuluh menitan, jadi Anaya merasa baik-baik saja kalau harus pergi sendiri.


"Kau tidak mengganti bajumu dulu? "Tanya Anaya pada Devan yang sudah mengambil kunci mobilnya, "tidak, nanti saja. "Sahutnya, lagian Devan masih belum mandi. Jadi rasanya percuma saja jika mengganti baju.


Selagi menunggu Devan pulang, Anaya menghidupkan televisi untuk menonton acara anak-anak bersama Arvan.


Dan setelah setengah jam lebih Devan sudah tiba lagi di rumah.


Devan melempar pakaian yang dibelinya diatas kasur, lalu melepas pakaian kerja yang masih melekat ditubuhnya.


Devan menatap Anaya yang melepaskan baju bocah nakal itu kenakan dengan begitu telaten, "mau kau apakan dia? "Tanya Devan.


"Arvan masih belum mandi, "Anaya berniat memandikan Arvan, yang kini bajunya sudah Anaya lepaskan.


"Stop, Stop! Stop ...! Berhenti!! "Teriak Devan ketika Anaya mulai melepaskan celana yang Arvan kenakan.


Anaya dan Arvan menoleh secara bersamaan kepada Devan, "ada apa, Dev? "tanyanya, dengan tangan berada di dada lantaran terkejut.


"CD nya tak usah dilepaskan!! "Devan yang hanya mengenakan boxer menarik Arvan dari Anaya.


Devan tidak akan membiarkan Anaya melihat senjata milik pria lain, pokoknya wanita itu hanya boleh melihat miliknya saja. Walaupun bocah nakal itu masih anak-anak, Devan tetap tidak memperbolehkannya.


"Dev, aku harus memandikannya."


"Aku saja yang mengurusnya! "Devan membawa Arvan masuk kedalam kamar mandi. Enak saja, masa bocah itu ingin dimandikan oleh Anaya. Dirinya saja masih belum pernah merasakannya, tapi bocah nakal itu malah ingin mendahuluinya. Mana mungkin Devan akan diam saja melihat itu.


Sampai kamar mandi Devan memandikan bocah itu lebih dulu, ia memandikan asal saja yang penting bau keringatnya hilang.


"Om, perih! "Arvan sedikit berteriak ketika om jahat itu memandikannya secara sembarang, sehingga matanya terasa pedih karena busa sampo yang masuk ke matanya


"Berisik, diam lah! "Sudah untung Devan masih ingin memandikannya, bukannya berterimakasih tapi malah teriak-teriak tak jelas. Dasar bocah nakal, menyebalkan.


Setelah selesai memandikan Arvan, sekarang waktunya Devan untuk membersihkan dirinya sendiri. Devan tak membiarkan Arvan keluar lebih dulu dari kamar mandi, ia menempatkan bocah itu di pojok untuk menunggunya selesai mandi.


"Jangan keluar! "Ucapnya pada Arvan yang sudah ia lilit dengan handuk dengan sedemikian rupanya.


Devan memang sengaja menahan Arvan di kamar mandi, ia tak mau membiarkannya keluar lebih dulu. Mungkin saja nanti bocah itu akan melepas handuknya di depan Anaya, membuat mata Anaya ternoda karena sudah melihat milik bocah nakal itu.


Karena mata Anaya tak diizinkan untuk melihat milik laki-laki lain, mata wanita itu hanya diperbolehkan untuk melihat miliknya saja, Milik Devan seorang.


"Om, "Arvan sedikit merengek karena mulai merasa kedinginan, apalagi ketika cipratan air shower mengenainya.


"Sebentar! "Kesal Devan yang masih membilas shampo di kepalanya.


Devan mempercepat mandinya, karena bocah nakal yang terlihat kedinginan itu terus mendesaknya tanpa henti.


.


.


.


.