
Anaya yang baru pulang diantar oleh Bella melihat kearah garasi.
'Apa Devan sudah pulang, 'gumamnya yang mendapati mobil mewah pria itu sudah terparkir disitu.
Anaya masuk kedalam rumah, menyimpan tasnya sebentar di dalam kamar. Lalu keluar lagi mencari keberadaan Devan, mungkin saja Devan pulang karena ada sesuatu yang penting tertinggal, pikirnya.
Setelah tidak menemukan Devan dimana pun, Anaya naik ke kamar Devan yang ada di lantai atas.
"Dev ..., "Anaya membuka pelan pintu kamar, ternyata memang benar Devan ada disitu.
"Apa kamu pulang cepat hari ini? "Anaya mendekati Devan yang terlihat seperti sedang tidur dengan masih menggunakan pakaian kantornya, tumben sekali Devan ingin tidur di kamarnya.
Devan melirik Anaya tak suka, "diam lah! Kepalaku pusing sekali! "Kepalanya terasa seakan berputar.
Pagi tadi Devan yang baru mulai bekerja di kantor, tiba-tiba merasa kurang enak badan dan kepalanya juga terasa pusing, sepertinya Devan demam. Daripada kerja tak karuan, Devan lebih memilih pulang ke rumah untuk beristirahat.
Ketika Anaya mendekati Devan dan jarak keduanya sudah begitu dekat, Anaya bisa melihat wajah Devan yang terlihat sangat merah, sepertinya pria itu sedang demam tinggi sekarang.
Anaya memeriksa suhu tubuh Devan, "Apa yang kau lakukan?! "Ketika tangan lembut Anaya menempel di dahinya, Devan dengan cepat menepis tangan wanita itu.
"Dev, suhu tubuhmu panas sekali! "Anaya merasa tangannya seperti terbakar ketika menyentuh dahi Devan.
"Aku akan memanggil dokter! "Anaya terlihat mencari kontak seseorang di ponselnya.
"Tidak, biarkan saja. Nanti juga sembuh sendiri, "Devan menghentikan Anaya yang ingin menelpon dokter.
Jika sakit Devan memiliki kebiasaan membiarkannya begitu saja, lama-lama sakitnya juga akan berkurang dengan sendirinya.
Hal seperti ini sudah biasa Devan alami, apalagi ketika dirinya masih remaja. Ayahnya yang terlampau sibuk tak mungkin punya waktu untuk bisa merawatnya, jadi Devan lebih memilih untuk diam saja dan mengurung dirinya dikamar sampai demamnya agak berkurang.
"Keluarlah, aku ingin istirahat! "Devan mengusir Anaya yang dirasanya mengganggu waktu istirahatnya.
Anaya memang keluar, tetapi bukan karena Devan yang mengusirnya. Anaya hanya keluar sebentar lalu kembali lagi dengan sebuah baskom yang berisi air dingin dan satu buah handuk kecil di tangganya.
Anaya memasukan handuk kecil itu ke dalam baskom yang sudah diisi air, lalu membilasnya sebentar sebelum meletakkannya di dahi Devan yang terasa sangat panas.
Devan membuka matanya ketika merasakan ada sesuatu yang basah menempel di dahinya, "sudah ku bilang keluar. "
"Iya, nanti aku keluar. "Ucap Anaya lembut.
Ketika Devan ingin membuang handuk yang ada di dahinya, Anaya menahan tangan Devan.
"Dev, ku mohon. "Pintanya.
Oke, baiklah. Devan akan mengalah kali ini. Dirinya juga tak punya cukup tenaga untuk memberikan sebuah ancaman atau sekedar memarahi Anaya yang terlihat begitu kekeh dengan sesuatu yang dilakukannya.
Setelah beberapa kali membasahi handuk kecil yang Anaya gunakan sebagai kompres untuk Devan, pria itu tampak terlelap karena napasnya yang terlihat begitu teratur.
Anaya meniggalkan Devan yang tidur, ia pergi ke dapur untuk membuat bubur yang akan diberikan kepada Devan ketika lelaki itu bangun nantinya.
Ketika Anaya kembali ke kamar, dirinya mendapati Devan yang baru keluar dari kamar mandi. Sepertinya, Devan baru buang air kecil.
Anaya meletakan nampan berisi mangkok bubur dan satu gelas air putih yang ia bawa diatas nakas. Kemudian, menghampiri Devan membantunya kembali ke tempat tidur.
Anaya menyusun bantal agar terasa nyaman ketika Devan bersandar disitu.
"Aku tidak lapar, "tolaknya, ketika Anaya menyodorkan satu sendok berisi bubur ke mulutnya.
"Sedikit saja ..., "Anaya tidak menyerah, ia tetap memaksa sampai pria itu memakan buburnya.
"Dev, "Anaya kembali menyodorkan sebutir obat demam yang ia bawa dari kamarnya.
Devan menatap Anaya jengah dengan matanya yang terlihat sedikit sayu, "Keluarlah! "Boro-boro menerima obat yang Anaya berikan, Devan malah kembali mengusirnya untuk keluar.
Andai bukan Anaya yang merawat Devan pasti orang itu sudah menyerah dari tadi karena sikap keras kepalanya.
"Aku berjanji akan keluar setelah kamu meminum obatnya, "Anya tidak akan menyerah, ia akan tetap memaksa Devan sampai pria itu mau meminumnya. Lagipula, itu juga agar dirinya cepat sembuh.
Ck! Devan mengambil sebutir obat itu dengan kasar, lalu meminumnya. Meskipun sedang sakit tetap saja Devan bersikap begitu angkuh.
Ketika sudah memastikan Devan meminum obat yang diberikannya, Anaya menepati janji untuk segera keluar dari kamar Devan dan kembali ke kamarnya yang berada di lantai bawah.
.
Malam sudah tiba, Anaya yang merasa khawatir kembali menjenguk Devan di kamarnya. Anaya membuka pintu dengan sangat pelan dan hati-hati agar tak menimbulkan suara sedikitpun.
Anaya mendekati Devan yang masih tak menyadari kedatangannya, ia kembali meletakkan tangannya di dahi Devan, memeriksa apakah demamnya sudah turun atau belum.
"Syukurlah ..., "sepertinya obat yang ia berikan sebelumnya bekerja karena demamnya sudah agak berkurang.
Anaya sedikit memundurkan langkahnya ketika Devan mulai mengejapkan matanya.
"Apakah sudah merasa lebih baik, "tanyanya lembut.
Devan diam saja tak menjawab Anaya dengan tangannya yang sibuk mengurut kepalanya yang masih terasa sakit, meski demamnya sudah jauh berkurang dari sebelumnya.
"Dev, apa kamu tidak ingin mengganti pakaian mu? "Anaya merasa risih melihat Devan yang belum juga mengganti pakaiannya dari pagi tadi, Devan masih memakai pakaian kerjanya yang sudah terlihat berantakan.
Devan melihat pakaiannya sebentar, ternyata dirinya masih memakai baju kerja yang sama seperti pagi tadi. Devan bahkan sudah tidak ingat lagi dengan pakaiannya.
Anaya mengeluarkan sepasang baju dan celana panjang dari dalam lemari, lalu membantu melepaskan kemeja yang Devan kenakan.
"Tidak, aku tidak ingin mengenakannya. "Devan menolak baju lengan panjang yang Anaya berikan. Walaupun, sedang sakit Devan tetap tidak mau mengenakan baju ketika tidur di malam hari. Tidak ada alasan khusus, hanya saja Devan tak terbiasa hingga membuatnya merasa tak nyaman.
Anaya tak memaksakan ketika Devan menolak mengenakannya, bisa-bisa ia malah kembali diusir kalau terus memaksa kehendaknya pada pria itu.
"Bolehkan aku membantumu? "Tanya Anaya pada Devan yang kembali memijit kepalanya.
"Hmm, "singkatnya, yang sudah tak ingin menolak Anaya.
Karena Devan sudah memberinya ijin, Anaya memposisikan kepala Devan untuk berbantalkan pahanya, lalu mulai menyentuh lembut kepala Devan.
Devan memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Anaya yang memberikannya rasa nyaman di kepalanya.
Apakah seperti ini rasanya ketika ada seseorang yang peduli disaat kita sedang sakit? baru kali ini Devan merasakannya, dan ternyata rasanya tidak buruk juga.
Menerima belaian dari tangan lembut Anaya membuat Devan merasa mengantuk dan kembali terlelap.
Anaya menarik kakinya yang ada dibawah kepala Devan, lalu menaruh bantal sebagai gantinya karena kakinya sudah mulai terasa kebas.
Anaya menyelimuti Devan dengan selimut tebal, lalu mengambil posisi di sebelahnya. Anaya akan tidur di kamar itu juga malam ini, mungkin saja Devan akan memerlukan bantuannya malam ini.
.
.
*J**angan lupa tinggalkan jejak kalian ya, biar nambah semangat bikin ceritanya*....