marriage without love

marriage without love
Episode 47


Setelah cukup lama berdiam diri, Anaya pergi meninggalkan tempat duduknya untuk mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Anaya menikmati minumannya sambil berdiri, lantaran pinggangnya terasa nyeri karena terlalu lama duduk.


Sebenarnya, Anaya tak terlalu menikmati pestanya. Ia merasa tak nyaman pergi dengan perut yang terlihat sangat menonjol. Dibawa duduk salah, berdiri salah, Anaya merasa serba salah untuk mencari posisi yang bisa membuatnya merasa nyaman. Memang yang paling benar berdiam diri di rumah saja seharusnya.


Tapi mau bagaiman lagi, Devan membawanya untuk pergi bersama. Selain itu, ia juga mendapat undangan langsung dari Dion. Jadi tak enak juga kalau ia tidak hadir, meskipun mereka tak terlalu akrab, tetapi mereka lumayan sering bertegur sapa ketika tidak sengaja bertemu.


Amanda yang baru keluar dari toilet melihat Anaya yang sedang berdiri sendirian, bukannya langsung kembali ke tempat perkumpulan tadi. Ia malah menghampiri Anaya yang sedang berdiri menikmati minumannya dekat pinggir kolam.


Amanda mengambil segelas wine, setelah itu baru ia mulai mendekati Anaya.


"Hai, "sapa Amanda.


"Aku menyapamu, "ucapnya pada Anaya yang terlihat bingung.


"Ah, hai ..., "Anaya membalas sapaan Amanda sedikit canggung. Ia tidak tau jika wanita itu sedang menyapanya, Padahal Anaya sudah menjauhkan diri karena merasa tak nyaman dengan kehadirannya tadi, tetapi wanita itu malah menghampirinya secara langsung.


"Sepertinya ini pertama kalinya kita saling sapa, aku kakak kelas mu dulu ketika masih SMA. "Amanda meneguk sedikit wine yang tadi dibawanya, dengan gaya yang terlihat begitu angkuh.


Pantas saja Anaya merasa tak terlalu asing dengan wanita cantik yang kini sedang berdiri di depannya, ternyata dia adalah Amanda, kakak kelasnya dulu.


Tidak seperti dirinya yang pendiam, Amanda dulu merupakan seorang primadona sekolah karena kepopulerannya di kalangan para murid laki-laki. Jadi, wajar saja sampai membuat Devan merasa tertarik dan menidurinya.


"Santai saja, tidak perlu gugup. "Amanda menggoyangkan gelas wine yang ada di gelasnya, dengan mata yang terus mengawasi gerak-gerik Anaya.


Anaya hanya bisa memasang senyum canggung di bibirnya, sebenarnya Anaya merasa tak nyaman. Meskipun wanita itu berbicara dengan lembut, tetapi sorot matanya menatap dengan begitu tajam. Mana mungkin Anaya merasa nyaman dan tidak gugup jika terus ditatap seperti itu.


"Ku pikir kau akan menikah dengan Ryan, "ucap Amanda tiba-tiba, membuat Anaya bingung karena wanita itu membawa-bawa nama Ryan.


"Sepertinya kau merasa tak puas dengan Ryan, makanya kau menikahi Devan, benarkan? "Ucapnya lagi, membuat Anaya semakin bingung dan tak mengerti dengan arah pembicaraan Amanda.


Ketika ada seseorang yang lewat di dekatnya, Amanda mengangkat gelasnya pura-pura ingin meminum wine yang tadi baru diminumnya sedikit.


Akh! Anaya sedikit berteriak karena wine Amanda menyiram dress nya.


"Astaga! Maafkan aku!! "Amanda menjelaskan jika dirinya tersenggol oleh orang yang barusan melewati mereka, dan tanpa sengaja menumpahkan minumannya. "Aku sungguh minta maaf, "sesalnya, dengan tangan yang dibuat seperti orang yang sedang memohon.


"T-tidak, tidak papa. "Anaya merasa tak enak melihat Amanda yang meminta maaf padanya. Lagipula, Amanda juga tak sengaja menumpahkan minumannya.


Anaya meletakan gelasnya diatas meja, setelah itu pamit untuk membersihkan tumpahan wine yang ada di dress nya.


Ketika sudah sampai di toilet, Anaya mengeluarkan saputangan dari dalam tasnya. Ia mengelap noda merah yang ada di dress nya menggunakan saputangan yang sudah ia basahi dengan air bersih.


Walaupun tidak dapat menghilangkan semua nodanya, tapi sekarang warna merah wine itu sudah tak terlalu tampak lagi.


Anaya membuka kran air untuk membasuh tangannya, sembari menunggu gaunnya menjadi lebih kering.


Anaya yang baru selesai mencuci tangan dibuat terkejut, ketika melihat ada seseorang dibelakangnya melalui cermin besar yang ada didepannya.


"Amanda, "Anaya memegang dadanya, ia tidak tau kapan wanita itu masuk dan mengikutinya.


"Murahan! "Teriaknya di depan wajah Anaya, membuat Anaya menjadi ketakutan dibuatnya.


Amanda menatap perut Anaya dengan tatapan yang begitu merendahkan. "Apakah itu anak Devan? "


"I-iya, "sahut Anaya, sebelum tubuhnya jatuh terhempas kelantai karena di dorong oleh Amanda.


Akh! Anaya menyentuh bagian belakang kepalannya yang terbentur, dengan sebelah tangan yang memegang perutnya.


Plak! Belum hilang rasa sakit di kepalanya akibat benturan tadi, Anaya kembali merasakan perih diwajahnya.


Amanda menampar Anaya yang duduk tak berdaya dilantai yang cukup basah. Ia merasa tak puas jika hanya mendorong wanita itu, jadi Amanda menampar wajahnya berulang kali, untuk melampiaskan rasa marah dan cemburu yang ia rasakan.


"A-apa yang kau lakukan? B-berhenti, ku mohon ...! "Pintanya dengan penampilannya yang sudah terlihat begitu berantakan.


Amanda menyentuh wajah Anaya, mencengkram nya dengan begitu kuat.


"Kau tidak pantas bersama Devan!! "Setelah melepaskan cengkraman nya, ia kembali melayangkan sebuah tamparan yang lebih keras dari sebelumnya, sampai meninggalkan jejak telapak tangannya pada pipi putih Anaya.


"B-berhenti ..., "Anaya memohon, ia berusaha meraih kaki Amanda yang ada di dekatnya.Tetapi, Amanda dengan begitu kasar menendang dan menginjak tangannya, dengan heels yang dipakai oleh kaki indahnya.


Rasanya sakit sekali, Anaya sampai tak bisa menggerakkan tangannya untuk sementara setelah Amanda menjauhkan kakinya.


"Pasti kau yang menggodanya, kan! "Amanda menarik rambut Anaya membuat wajahnya menjadi mendongak, sehingga ia bisa menatap wajah menyedihkan Anaya yang terlihat tidak berdaya.


"Ku mohon, lepaskan, "Anaya berusaha melepaskan tangan Amanda yang menarik rambutnya begitu kencang.


"Baiklah! "Amanda menuruti permintaan menyedihkan dari Anaya yang penampilannya sudah terlihat begitu mengenaskan. Tetapi, ia melepaskannya dengan cara menarik rambut Anaya lebih keras, lalu mendorong kepalanya sehingga terbentur kembali dengan dinding yang ada dibelakangnya.


Anaya tidak bisa berbuat apa-apa menerima setiap perbuatan kejam yang dilakukan oleh Amanda. Jangankan melawan, untuk bicara saja ia sudah tak punya cukup tenaga.


Anaya memang sangat lemah, meskipun sama-sama wanita. Tetapi tenaganya tak sebanding dengan Amanda, ia benar-benar kalah jauh. Ditambah, dengan rasa sakit dan perih di sekujur tubuhnya.


"Tak ku sangka Devan begitu bodoh, menikahi wanita jelek sepertimu!! "Hinanya dengan tangan yang bersedekap dada.


Amanda tak takut mengatakannya dengan suara yang keras, karena letak toilet yang begitu jauh dari tempat pesta. Orang-orang juga hampir tak ada yang datang kesitu, jadi ia bisa tenang saja.


"Bagaimana caramu menggoda Devan, sampai membuatnya mau menikah dengan wanita tak menarik seperti mu?! "


"Cepat katakan!! "Amanda menendang kaki Anaya, membuatnya kembali merintih kesakitan.


"Heh, aku sedang bicara dengan mu! "Teriaknya, karena tak mendapatkan jawaban apapun dari wanita yang tertunduk lemas dengan penampilan yang benar-benar terlihat kacau.


Anaya terisak karena rasa sakit yang dirasakannya, ia memeluk perutnya untuk melindungi bayinya. Anaya takut bayi dalan kandungannya kenapa-napa, ia berharap semoga saja ada orang yang akan segera menemukan dan menolongnya, yang sudah sangat tak berdaya.


.


.


.