
Anaya membawa Kayla ke tempat penjual nasi goreng biasa langganannya, karena sudah lama ia tak memakannya. Rasanya terakhir kali ia memakannya sudah hampir dua bulanan ketika sedang bersama Bella.
Meskipun Anaya bisa memasak sendiri, tapi ia merasa nasi goreng buatannya tidak terlalu cocok di lidahnya.
Ketika sudah selesai makan siang dan ingin pergi, tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu lebat. Padahal, tadi masih cerah-cerah saja harinya.
Anaya kembali ketempat duduknya bersama Kayla, Ia memilih untuk menumpang berteduh sementara. Mereka berdua duduk menghadap jalanan yang terlihat begitu basah karena guyuran hujan.
"Kayla, ngantuk sayang? "Anaya bertanya pada anak kecil di pangkuannya yang terlihat agak mengantuk.
" sedikit, "Jawab Kayla dengan gaya bicara anak kecilnya.
Sudah cukup lama mereka ikut berteduh, tapi hujan masih belum reda juga. Kayla yang berada di pangkuan Anaya saja sampai tertidur, tetapi hujan masih terus berlanjut tanpa ada sedikitpun tanda-tanda akan berhenti.
Tiba-tiba di tengah lebatnya hujan, ada sebuah mobil berwarna hitam yang singgah. Anaya tampak mengenal mobil yang berhenti itu, meskipun tak terlalu yakin karena derasnya hujan yang membuat pandangan kabur jika menatap ke kejauhan.
" Nay! "Teriak wanita yang baru keluar dari mobil dengan sebuah payung yang melindungi tubuhnya dari derasnya guyuran hujan.
"Bella ..., "Ternyata mobil yang berhenti itu milik Bella, sahabatnya.
"Kau mau kemana, Bell? "Tanya Anaya.
"Aku habis dari salon, dan mau kembali ke rumah sekarang. Tapi karena melihatmu disini makanya aku berhenti. "Jelasnya.
"Aku sudah lama terjebak disini karena hujan. "Mungkin sudah sekitar satu jam lebih Anaya dan Kayla berada disitu, tubuhnya juga mulai terasa dingin.
"Pantas saja keponakan mu sampai seperti itu. "Bella melirik Kayla yang tidur dipangkuan Anaya.
"Kalau begitu kita pulang bersama saja. "
Mereka sudah ada di dalam mobil Bella.
"Nay, aku punya berita gembira! "Wajah Bella kelihatan berseri-seri ketika mengucapkannya.
"Berita apa itu? " Tanya Anaya yang penasaran.
"Nick ... Dia melamar ku! "Bella kelihatan sangat senang ketika mengatakannya.
Anaya membulatkan matanya, "benarkah ...? "Ucapnya dengan sebelah tangan yang refleks menutup mulut terkejut.
"Benar, Nay!"
"Selamat ya, Bell. "
Anaya ikut senang mendengar kabar gembira dari sahabatnya, akhirnya mereka akan meneruskan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius setelah berpacaran selama tiga tahun.
"Kira-kira kalian akan menikahnya kapan? "Anaya cukup kepo dengan Bella.
"Satu bulan lagi, kami akan mengadakan upacara pernikahan satu bulan lagi. "
"Lumayan cepat juga, ya. "
"Iya, karena nick akan pindah kerja keluar negeri. Jadi ia ingin cepat menikah dan membawaku juga. "Jelas Bella.
Nick tidak mau jika harus terpisah jauh dari Bella dan harus melakukan LDR, begitupun sebaliknya. Makanya setelah memikirkannya matang-matang, keduanya memutuskan untuk segera menikah supaya tak perlu berjauhan.
"Jadi kita akan berpisah, "Anaya merasa agak sedih mengetahui sahabatnya akan tinggal di negara yang berbeda darinya sebentar lagi.
"Iya, benar. Tapi kamu tenang saja! Ketika aku kembali nanti aku akan memberitahu mu. "Janji Bella, padahal pernikahannya akan dilakukan satu bulan kemudian.
Bella menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumah Anaya.
"Pakai ini, "Bella memberikan payungnya pada Anaya, karena harinya yang masih agak gerimis. Apalagi Anaya sedang bersama Kayla, bisa-bisa nanti malah sakit keponakannya kalau dibiarkan kena gerimis.
"Terima kasih, Bell. "Anaya membuka payung yang diberi Bella kepadanya.
"Oke, kalau gitu aku pamit ya. "Ucapnya sebelum menginjak gas mobilnya dengan kecepatan sedang.
Anaya menggendong Kayla yang masih tidur nyenyak masuk kedalam rumah, anak kecil itu sama sekali tak terlihat terganggu dengan pergerakan yang dibuat oleh Anaya.
Anaya yang baru memasuki kamarnya dibuat terkejut.
"Devan, " gumamnya, bagaimana bisa pria itu ada disini.
Anaya meletakkan Kayla begitu pelan, takut membuatnya ataupun Devan terbangun. Setelah itu menemui Norma yang ada di dapur.
"Mah, apakah Devan sudah lama disini? "Tanya Anaya penasaran.
"Setelah kamu pergi, tidak lama suamimu datang. "Beritahu Norma, yang berarti sudah cukup lama Devan disini.
"Apa Devan mengatakan sesuatu? "Tanya nya lagi.
"Mamah enggak tau, tadi Devan ngobrol sama papah mu. "
"Apa yang mereka bicarakan?? " tanyanya lagi, membuat Norma merasa jengkel dengan pertanyaan beruntun dari Anaya yang tak ada habisnya.
"Mamah tidak tau, Nay ... Mending kamu tanya suami mu saja! "Jengah nya.
"Iya, iya. Nanti Naya tanya sama Devan. "Tentu saja itu hanya sebuah omong kosong Anaya saja, mana mungkin ia akan bertanya kepada Devan, karena sudah jelas sekali jika pria itu tak akan memberitahunya.
.
Devan yang tidur di kamar Anaya menjadi terbangun mendengar suara anak kecil yang menangis begitu berisik di sebelahnya. Sudah cukup lama anak itu menangis, tapi sengaja diabaikannya olehnya. Mungkin saja anak itu akan berhenti sendiri kiranya. Tetapi sayang sekali, semakin dibiarkan tangisannya malah semakin kencang.
"Kau keponakan wanita itukan? Kenapa berisik sekali?? "Kesalnya dengan wajah yang terlihat masih sangat mengantuk.
Huwaa ...!
Devan menutup kedua telinganya ketika anak itu semakin mengencangkan suara tangisannya.
"Kau! Dasar tak bisa diam!! " Devan terpaksa mengangkat anak yang menangis tak henti itu, lalu membawanya keluar. Kalau terus dibiarkan bisa-bisa gendang telinganya pecah, karena mendengar tangisan anak itu.
Ditengah-tengah pembicaraan Anaya dan Norma terdengar suara tangis anak kecil, yang sudah pasti itu suara Kayla.
"Tante ...! "Teriak gadis kecil itu disela tangisnya.
Anaya melihat kearah Kayla yang baru tiba di dapur bersama Devan yang menggendongnya. Ketika matanya dan Devan saling bertemu, Anaya dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Kayla.
"Kok sudah bangun sih, " Anaya mengusap wajah Kayla yang basah karena air matanya.
"Biar Kayla sama mamah. "Ucap Norma ketika Anaya ingin mengambilnya dari Devan.
"Kamu urus suamimu saja. "Sambungnya.
Norma mengambil alih Kayla, "Dev, kalau lapar minta sama Naya, ya. "Ucapnya.
"Ya, M-mah. "Devan sedikit merasa aneh ketika menyebut kata mamah, karena seumur hidupnya ia tak pernah memanggil seseorang dengan sebutan itu.
Norma membawa cucunya ke depan, dan sekarang hanya sisa mereka berdua di dapur. Anaya yang memang menghindari Devan juga akan segera pergi, ia tak ingin berlama-lama bersama dengan Devan.
"Lapar, "satu kata dari Devan yang membuat Anaya tak jadi melangkahkan kakinya yang ingin segera meninggalkan tempat itu.
"Buatkan aku makanan! "Perintahnya.
Anaya menghela nafas sebentar, mau tak mau ia harus memasak untuk Devan.
Anaya memasak sesuatu yang mudah dan cepat saja, ia memutuskan untuk memasak telur mata sapi. Ketika selesai Anaya membawa telur mata sapi buatannya pada Devan yang sudah menunggu di meja makan, lalu mengambil sepiring nasi dan segelas air juga.
Selama Devan makan Anaya hanya duduk diam menunggu disitu, untuk membersihkannya.
Tak ada yang bicara diantara mereka berdua, hanya terdengar suara gesekan piring dan sendok saja yang menemani mereka.
Sebenarnya Anaya sangat penasaran kenapa Devan datang ke rumah orang tuanya, tapi Anaya menahan diri untuk tidak bertanya. Karena sudah jelas dirinya tak akan mendapat sebuah jawaban dari pertanyaannya.
.
.
.
.
😉😉😉