
Sama seperti rencana awal, Anaya akan menginap di rumah orang tuanya. Tapi bedanya Devan juga ikut menginap disitu.
Anaya duduk gelisah di atas ranjang, ia tak mau tidur sekamar dengan Devan. Mereka sudah tidur terpisah selama satu minggu dan Anaya berharap bisa seterusnya seperti itu.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk di pinggangnya.
Kedatangan Devan semakin membuat Anaya ingin melarikan diri, ruangan yang biasanya terasa nyaman berubah menjadi terasa begitu sesak.
Anaya yang terus menunduk menatap lantai dapat melihat sepasang kaki kokoh Devan yang berhenti tepat di depannya.
" ... Dev, " cicit Anaya ketika pria itu mengangkat wajahnya, membuat mata mereka saling tatap.
Bibir Devan membuat sebuah seringai yang tak terlalu tampak, membuat Anaya yang menyadarinya menjadi takut.
Devan melihat Anaya dengan tatapan matanya yang tajam, tubuh wanita yang sedang duduk ketakutan di depannya terlihat semakin seksi hari demi hari. Ditambah dengan perutnya yang sudah terlihat agak menonjol.
Devan pernah mendengar ada orang yang mengatakan kalau wanita hamil akan terlihat semakin menarik, sepertinya perkataan itu memang benar.
"Coba kau lihat milikku! "Ketika Devan mengatakannya, mata Anaya secara otomatis melihat ada sesuatu yang menonjol dibalik handuk yang ia kenakan. Ketika Anaya mulai sadar, dengan secepat kilat dirinya langsung mengalihkan pandangannya ke lain tempat dengan wajahnya yang sudah sangat memerah.
Devan mengangkat tangan Anaya, membawa tangan perempuan itu ke miliknya.
"Dev!! "Anaya yang terkejut langsung menarik tangannya ketika merasa ada menyentuh sesuatu yang keras.
Devan yang sudah tak tahan mendorong tubuh Anaya, membuat tubuhnya jatuh terlentang diatas ranjang.
"Aku tidak mau melakukannya! "Anaya mulai melakukan penolakan ketika Devan menaiki tubuhnya.
Devan mencium kasar Anaya, membuatnya merasa mual ketika mengingat Devan yang masih melakukan hubungan intim dengan wanita lain. Walaupun, dirinya sudah menikah.
"Dev!! "Anaya menggelengkan kepalanya, menolak setiap ciuman yang diberikan Devan.
"Aku, aku merasa jijik! "Ucapnya pada akhirnya yang sudah merasa tak tahan lagi.
Devan menghentikannya ciumannya, "memangnya tubuh mu sesuci apa?! "
Anaya tak menjawab apapun, hanya air matanya saja yang mulai keluar. Anaya tak pernah merasa tubuhnya suci, tapi setidaknya ia tidak pernah memberikan tubuhnya kepada pria lain, selain suaminya.
Devan kembali menyerang leher Anaya, membuat sebuah tanda disitu.
Anaya berusaha sekuat tenaga mendorong kepala Devan agar menjauh dari lehernya, tapi kekuatannya tak berefek sama sekali pada Devan yang menyerangnya begitu bringas.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau!! "Mohonnya percuma.
Devan mulai memasukkan tangannya dalam pakaian yang Anaya kenakan, "bukankah aku sudah berbaik hati memberikan waktu satu minggu padamu."
"Dev! Ku mohon!! "Anaya berteriak ketika merasa tangan Devan berada di dadanya.
"Apa kau mau membuat seluruh orang rumah mengetahui apa yang kita lakukan, "Bisik Devan.
Anaya menutup mulutnya, ia tak mau ketahuan orang rumah itu hal yang sangat memalukan baginya. Tapi meskipun begitu Anaya tetap melanjutkan penolakannya ketika Devan kembali menyentuhnya.
"Lepas, Dev!! Kubilang aku tidak mau! " Devan menahan kedua tangan wanita itu diatas kepalanya mengunakan satu tangan, agar membuatnya berhenti memberontak.
Devan berhenti sejenak, "baiklah aku tak akan melakukannya lagi! "Janjinya, entah serius atau tidaknya hanya Devan lah yang tahu.
Anaya menatap Devan tak percaya, mungkin saja telinganya salah dengar.
"Sungguh, kemarin yang terakhir. "Ucapnya lagi.
Devan berjanji bukan karena ia menyukai ataupun mencintai Anaya, Devan hanya merasa kurang puas ketika melakukannya dengan wanita lain. Entah mengapa ia merasa tubuh Anaya lebih nikmat daripada wanita-wanita yang ia tiduri di luaran.
"Tapi, jika kau terus melakukan penolakan seperti ini. Maka aku akan melakukanya lagi dengan wanita lain. "Jelasnya, dan tentu saja itu bukan hanya sebuah omong kosong belaka. Lebih baik ia mencari wanita yang lain saja daripada tidak mendapatkannya sama sekali.
Mendengar apa yang diucapkan Devan, Anaya menjadi sedikit lebih tenang. Wanita itu juga berhenti melawan. Jika ada yang mengatakan dirinya bodoh tidak papa, ia tak masalah, karena itu memang benar dan ia juga menyadarinya.
Dirinya hanya ingin mencoba percaya dengan kata-kata yang pria itu janjikan, mungkin saja nanti hubungan mereka bisa menjadi sedikit lebih baik, meskipun tak terlalu memungkinkan. Tetapi, ia akan tetap mencobanya.
Ketika wanita yang berada di bawahnya sudah tak melawan dan menjadi lebih tenang, Devan kembali melakukan tugasnya yang tadi sempat terhenti sejenak.
Devan membuka seluruh pakaian yang Anaya kenakan, lalu melepas handuk yang melilit di pinggangnya. Dan dengan tak sabaran Devan mulai menyatukan tubuhnya dengan Anaya.
Stt ...
Terasa lebih nikmat dan menyenangkan, apalagi wanita yang ada di bawahnya terlihat menerima semua yang ia lakukan. Rasanya sangat berbeda dengan wanita yang biasa ia bawa ke hotel. Ketika sudah satu minggu tak menyentuh Anaya, Devan memang sudah tak pernah melakukan dengan wanita lain, ia merasa tak terlalu berminat.
Anaya mencengkram erat lengan Devan yang ada di kiri kananya sebagai tempat pelampiasan, ketika pria itu menghujam nya lagi dan lagi.
Peluh membanjiri tubuh Devan yang begitu aktif menggerakkan tubuhnya. Akhirnya ia bisa melepaskan hasrat yang sudah ia tahan selama satu minggu.
Devan menghempaskan tubuhnya disebelah Anaya sebentar yang dadanya terlihat naik turun tak beraturan, sebelum melilitkan kembali handuk yang ia lepaskan tadi.
Devan mengambil sebatang rokok dan pematik miliknya, lalu pergi menuju balkon. Ia akan menikmati rokoknya sambil merasakan hembusan angin malam yang membuat tubuhnya terasa sejuk.
.
Awalnya Anaya menguncir rambutnya, tapi karena ada banyak bekas Devan yang tertinggal, Anaya menggerai kembali rambut panjang nya. Ia berusaha tuk menyembunyikannya, Anaya tak mau sampai ada yang melihat bekas perbuatan Devan di leher jenjangnya.
Anaya turun sendirian karena ketika bangun Devan sudah tidak ada di situ.
Ketika sudah selesai sarapan Anaya dan Devan pamit pulang, sebetulnya Anaya masih ingin tinggal di rumah orang tua nya, Anaya ingin pulang nanti sore saja. Tetapi, karena Devan pulang lebih awal, Anaya jadi harus ikut pulang juga.
Mereka pulang dengan memakai satu mobil, mobil Anaya di tinggal di rumah orang tuanya.
Di dalam mobil suasananya begitu sunyi, mereka berdua hanya diam membisu. Devan terlihat fokus menyetir dengan lumayan cepat, sedangkan Anaya hanya menatap setiap bangunan yang mereka lewati yang membuat matanya terasa ngantuk.
Anaya yang bosan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, Anaya ingin memutar sebuah lagu, tapi ia urungkan karena takut Devan merasa terganggu dan ujung-ujungnya akan memarahinya.
.
.
.
.