marriage without love

marriage without love
Episode 56


Robby dan Arvin yang dari tadi sudah mengintai pintu kamar Devan, segera mendekat setelah melihat Amanda masuk kedalam kamar.


Mereka berdua terlihat seperti orang aneh karena berkeliaran didepan pintu kamar milik orang lain, "apa kau mendengar sesuatu? "Tanya Robby pada Arvin yang menempelkan telinganya pada pintu kamar Devan.


"Tidak, didalam sangat hening. "Arvin menjauh dari pintu dan membiarkan Robby menempelkan telinga juga. Tetapi, tak lama Robby juga ikut menjauh, karena tak bisa mendengar apapun dari dalam sana.


"Apa rencana mu? "Tanya Arvin.


Sepertinya, jika mereka hanya berdiri dibalik pintu itu tak akan membantu sama sekali. Apalagi mengingat hotel mewah dan berbintang seperti ini, sudah sangat jelas pasti memiliki fasilitas kedap suara.


"Kita tinggal menerobos kedalam saja, "


"Apa kau serius? "Arvin menatap Robby tak percaya, apakah Robby sungguh ingin melakukan rencananya itu.


"Bagaimana jika mereka sedang bercinta? "Ucapnya lagi, bukankah mereka akan terlihat seperti idiot karena masuk kamar orang sembarangan.


"Lalu, apalagi? jika kau tak mau, aku akan melakukannya sendiri saja! "Robby tak masalah jika Arvin tak mau menemaninya, karena ia masih bisa melakukannya sendiri.


"Dasar kerasa kepala, "gumam Arvin melihat Robby yang sudah mengambil ancang-ancang ingin membuka pintu.


Arvin mendekati Robby yang sudah memegang gagang pintu.


*clek


"Tak terkunci, "bisik Robby.


Mereka membuka pintu sedikit lebih lebar, agar bisa mengintip dari celahnya.


"Sepertinya mereka baru mau mulai, "meski tak terlalu jelas, Arvin bisa melihat Devan yang sedang berada diatas tubuh Amanda.


"Apa kau yakin tetap ingin mas_" belum sempat Arvin menyelesaikan kalimat yang ingin ia ucapkan, ia sudah lebih dulu jatuh terjerembab kelantai.


"Sialan kau, Robb! "Umpatnya, pada Robby yang sudah tak ada disebelahnya.


"Dev, apa kau serius melakukan ini! "Ketika melihat Devan yang berada diatas Amanda, Robby langsung membuka pintu lebar, mendorong Arvin yang menghalangi jalannya. Lalu, berlari kearah ranjang dimana Devan dan Amanda sedang bersama.


Robby menarik tubuh Devan, membuatnya menjauh dari Amanda.


"Kau sungguh ingin menyentuhnya?! Kurang ngajar kau!! "Robby terlihat sangat marah.


"Memangnya kenapa? Aku menyentuhnya untuk memberinya pelajaran?! "


"Kau ingin ku hajar? Masa kau memberinya pelajaran dengan cara menidurinya! "Sepertinya, Devan sudah mulai tak waras sekarang.


"Apa maksud mu, Robb. Untuk apa aku menidurinya? "Devan memang menyentuhnya. Tetapi, bukan menyentuh yang seperti Robby pikirkan.


"Kau terlihat seperti istrinya, "Arvin mendekati Robby dengan langkahnya yang sedikit pincang, karena jatuh tadi.


"Dev, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? "Arvin juga masih tak terlalu mengerti dengan situasi yang ada saat ini.


"Aku sedikit menyakitinya, untuk membalasnya. "Devan menunjuk ranjang dimana Amanda sedang meringis, dengan penampilannya yang terlihat kacau.


"Apa yang kau lakukan padanya? "Tadi Robby belum sempat melihat Amanda, karena sudah termakan emosi ketika melihat Devan. Dan setelah dilihat lebih jelas lagi, sepertinya ada yang aneh dengan penampilannya.


"Aku hanya menamparnya sekali, "ucap Devan membuat mereka berdua yang mendengarnya menjadi terkejut.


Robby menggelengkan kepalanya, "kau melayangkan tangan mu pada seorang wanita? Kasar sekali ..., "


"Daripada aku menidurinya, "sinis Devan pada Robby yang sudah menuduhnya sembarangan tadi.


"Kau kan bisa membalas dengan cara lain! "


Meskipun Robby merasa senang karena Devan membalas perbuatan Amanda terhadap Anaya. Tetapi, ia tak terlalu setuju dengan cara yang Devan lakukan. Bukankah masih banyak cara lain, selain dengan kekerasan.


"Biar dia juga merasa kesakitan, bahkan lukanya tak separah milik Anaya! "Devan menatap tajam Amanda yang sedang meringis diatas kasur.


..


"Dev, "


Devan melirik Anaya, ia kira wanita itu sudah tidur. "Kenapa belum tidur? "Tanyanya, pada Anaya yang malah bangun dan bersandar di kepala ranjang.


Anaya menghela napas, "aku tidak bisa tidur, "seperi biasa, jika dimalam hari ia pasti akan mengalami insomnia.


"Kau darimana, Dev? "Tanyanya pada Devan yang baru pulang, padahal sudah lewat larut malam.


Devan mendekati Anaya yang berada diatas ranjang, "habis jalan sama Arvin dan Robby, "jelasnya.


Anaya mendekatkan wajahnya pada Devan, "Dev ... Kau tidak bohong kan? "Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak, "sahut Devan yang terlihat heran.


"Hei, ada apa?! "Devan menyentuh pundak Anaya yang bergetar karena tiba-tiba menangis.


Anaya menyingkirkan tangan Devan yang menyentuh pundaknya, dengan sebelah tangannya. Membuat Devan semakin bingung dibuatnya.


Anaya memundurkan tubuhnya dari Devan. Tetapi, pria itu segera menahan pergelangan tangannya.


"Ada apa?! "Devan tidak mengerti, memang kesalahan apa yang sudah ia perbuat sampai membuat wanita itu secara tiba-tiba menghindarinya.


"L-lepas ...,"dengan matanya yang sudah begitu basah, Anaya berusaha melepaskan tangan Devan yang mencekal pergelangan tangannya.


"Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba menghindari ku?! "Devan sungguh tidak tau apa kesalahannya.


"Dev, lepas! K-kau, ada aroma wanita di bajumu! "Air matanya semakin deras, Anaya bisa mencium dengan sangat jelas adanya aroma seorang wanita pada Devan ketika mereka berdekatan.


"P-pembohong ..., "lirihnya di sela tangisnya.


"Kau baru saja tidur dengan wanita lain, kan? "Anaya menatap mata Devan dengan matanya yang sudah berlinang air mata.


Pasti karena dirinya tak melayani Devan dengan benar akhir-akhir ini, membuat Devan memilih untuk mencari wanita lain di luaran sana.


Anaya meremas dadanya yang terasa sangat sesak, membayangkan Devan berhubungan dengan wanita lain membuat hatinya menjadi terasa sangat sakit. Bahkan air matanya sudah tak dapat terkontrol lagi.


Padahal Devan dulu sudah berjanji kepadanya, apa selama ini Devan berbohong dan hanya berpura-pura saja. Memikirkan itu membuat dadanya semakin terasa sesak, bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat sulit.


"Apa yang kau katakan, aku tidak berhubungan dengan siapapun? "Devan menahan wajah Anaya agar mau menatapnya, tapi wanita itu malah membuang pandangannya.


"Kau pembohong! "Lirih sambil terisak.


Anaya meremas tangannya yang terluka, tapi yang terasa sakit malah hatinya, Anaya melihat pantulan tubuhnya dari cermin meja rias, ia tersenyum miris. Wajar saja jika Devan mencari wanita lain karena ia sudah terlihat tak menarik lagi.


Perut yang sangat menonjol, lingkaran hitam dibawah mata, serta wajahnya yang selalu terlihat pucat. Jauh sekali dari kata cantik, mana mungkin seorang Devan betah dengan wanita sepertinya.


"Hei, aku tak berbohong. "Devan mengusap air mata yang membasahi wajah Anaya, dengan ibu jarinya.


"Aku tidak berhubungan dengan siapapun, "Devan berusaha mengatakannya dengan selembut mungkin. Walaupun, ia merasa sedikit kesusahan karena tak terbiasa melakukannya.


Devan mengecup singkat wajah Anaya yang basah karena air matanya, "aku tidak bohong. "Ucapnya.


"A-ada bau wanita padamu! "Anaya tidak dapat percaya begitu saja dengan apa yang Devan ucapkan, bisa saja Devan sedang berbohong saat ini.


Anaya kembali meremas tangannya yang masih terluka, jika Devan memang mengingkari janjinya. Maka kali ini Anaya akan bener-benar akan meninggalkan Devan, setelah bayinya lahir.


.


.


.


.