
Devan melepaskan kemejanya, lalu berbaring disebelah Anaya yang tidur membelakanginya.
Devan menghela napas lelah. Hari ini benar-benar menyebalkan, bagaimana bisa dirinya disalah pahami sampai dua kali dalam sehari.
Yang pertama Robby dan sekarang malah Anaya, ditambah lagi Devan tak mengerti bagaimana cara menjelaskannya kepada Anaya, yang saat ini sedang marah dan mengabaikannya.
"Hei, "Devan menyentuh Anaya yang membelakanginya, ia tau wanita itu masih belum tidur.
Devan merapatkan tubuhnya pada Anaya, lalu memeluknya dari belakang, "kau marah padaku? "Tanyanya, pada Anaya yang masih tak memberikannya respon apapun.
"Aku memang habis bertemu wanita, aku bertemu dengan Amanda tadi, "setelah mengatakannya Devan bisa merasakan tubuh Anaya yang berada dalam pelukannya menjadi kaku, sepertinya wanita itu terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan.
Hiks ... hiks ... hiks ...,
"Hei, ayolah ..., "Devan membalik tubuh bergetar Anaya yang membelakanginya. Ia masih belum selesai bicara, tapi wanita itu malah menangis sekarang.
Anaya tak bisa mengatakan apa-apa, yang bisa ia lakukan hanya menangis. Ia bahkan tak berani bertanya kepada Devan kenapa mereka bertemu, karena jawabannya sudah jelas seperti apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Laki-laki mana yang tak tertarik dengan wanita secantik dan seksi seperti Amanda. Jika menjadi Devan, dirinya juga lebih memilih pergi bertemu dengan Amanda.
Daripada, berada di rumah bersama dengan wanita yang tak menarik dan membosankan seperti dirinya. Apalagi sekarang dirinya hanya bisa membuat repot dan menjadi beban untuk Devan.
"Aku tak melakukan apapun, sungguh. "
Devan berusaha sesabar mungkin mencoba menjelaskannya kepada Anaya. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan sekarang, sampai membuatnya terus menangis.
Devan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia harus bisa menjadi orang sabar dan tak boleh terbawa emosi kali ini.
Anaya menatap Devan tak percaya, "B-bohong, "lirihnya, di sela isak tangisnya.
Jika Devan benar-benar tak melakukan apapun, kenapa bau parfum wanita itu sampai ada padanya. Tidak mungkin jika baunya datang dan menempel dengan sendirinya, pasti mereka sudah melakukan sesuatu.
Awalnya Anaya mendekatkan wajahnya pada tubuh Devan karena mengiranya habis pulang dari mabuk-mabukan bersama kedua temannya, tetapi ia malah menemukan aroma yang lain pada tubuh Devan yang membuatnya merasa sakit hati.
"Kau memeluknya, makanya baunya ada padamu! "Jika biasanya Devan yang menuduh, maka kali ini giliran menjadi Anaya.
"****! Saking kesalnya, Devan sampai tak tahan untuk mengeluarkan kata umpatan, yang sudah ia coba tahan sejak tadi.
"Aku tidak memeluk siapapun, baunya ada padaku karena aku sedikit memukulnya untuk memberinya pelajaran! Tanya Robby dan Arvin kalau masih tak percaya!! "
Devan meninggikan suaranya karena sudah merasa sangat kesal, enak saja menuduhnya memeluk wanita macam Amanda. Bahkan dirinya tak sedikitpun merasa tertarik dengan wanita itu.
Devan hanya tertarik dengan Anaya, hanya Anaya yang selalu ada dalam pelukannya. Tetapi wanita itu malah menuduhnya memeluk wanita lain, keterlaluan sekali. Devan sungguh tak bisa menerimanya tuduhan seperti itu.
"Berhentilah menangis! Kau membuatku pusing melihatnya! "Devan menghapus air mata Anaya, "apa aku perlu menelpon Arvin, Kau bisa menanyakan apapun padanya, karena Arvin bersamaku dari tadi! "Ucapnya pada Anaya yang masih sesenggukan.
"Aku memberinya pelajaran karena sudah menyakitimu, harusnya kau berterima kasih padaku. Bukannya, malah menuduhku! "Kesal Devan yang terdengar begitu frustasi, dengan wanita yang kini masih saja terus menangis tak henti.
Sebenarnya Devan sangat malas memberitahunya, tapi ia juga tidak tau kenapa dirinya sampai mau bersusah payah untuk menjelaskannya.
Devan menceritakan semuanya kepada Anaya, agar wanita itu tidak menuduhnya melakukan hal macam-macam lagi di luaran sana. Padahal setelah berjanji dulu, Devan sudah tak pernah lagi bermain dengan wanita lain. Dan tidak hanya itu, sekarang Devan juga sudah jarang pergi minum-minun.
"Sekarang kau percayakan? "Tanyanya pada Anaya yang sudah terlihat lebih tenang, dari sebelumnya.
Anaya menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Devan. Sepertinya, Devan tidak berbohong.
"Tidurlah sekarang, "ucap Devan setelah melihat jam yang tertera dilayar ponselnya, hampir menunjukan pukul empat subuh.
"Dev, di matamu pasti aku terlihat sangat jelek kan? "Devan yang tadi sudah siap tidur, kembali membuka matanya dengan alisnya yang berkerut, "omong kosong apalagi yang kau bicarakan? "Ucapnya.
"Pasti aku tak menarik di matamu, "saat ini Anaya merasa tidak percaya diri lagi dengan penampilannya.
Apalagi setelah diingat kembali, Devan lebih sering menghinanya daripada memujinya. Yang Anaya ingat, Devan hanya pernah sekali mengatakan jika dirinya cantik. Sisanya hanya hinaan saja.
"Entahlah, aku ngantuk. "Devan malas meladeni Anaya, matanya sudah terasa sangat berat.
Devan tidak tahu mengapa wanita itu tiba-tiba bertanya seperti itu, tetapi dimata Devan seorang Anaya selalu terlihat sangat cantik. Hanya wanita itu yang mampu membuatnya merasa begitu tertarik dan terus-menerus menginginkannya, mana mungkin wanita yang seperti itu terlihat jelek dimatanya.
Sebelum kembali memejamkan matanya, Devan memberikan kecupan singkat pada wajah Anaya, yang juga mendapat ciuman balasan dari wanita itu.
"Menggoda ku, hmm ..., "bisik Devan membuat Anaya merasakan geli di telinganya.
Bukannya menjawab, Anaya malah menempelkan bibirnya pada bibir tebal milik Devan.
"Kau mau aku berada di dalammu? "Tanya Devan pada Anaya yang terus menggodanya, dengan gerakannya yang masih terasa canggung.
Dengan wajah yang sudah merah merona Anaya menganggukkan kepalanya, saat ini dirinya menginginkan Devan.
"Kau mulai nakal sekarang, "Devan merasa lucu dengan Anaya yang memiliki mood cepat berubah-ubah.
Tadi saja wanita itu menolak dan menghindarinya, tapi sekarang wanita itu malah mendekat dan menggodanya. Dan seperti yang wanita itu inginkan, Devan mulai memberikannya sentuhan-sentuhan yang mampu memberikannya sebuah kepuasan, apalagi miliknya juga sudah tak terasa tenang dibawah sana.
Devan melakukannya dengan sangat lembut, membuat wanita yang kini sedang berada dibawahnya terus mengeluarkan suara erangannya.
Stt ... Setelah mencapai puncaknya Devan segera berhenti, ia hanya melakukannya sekali saja karena Anaya sudah terlihat sangat lemas dibawahnya. Dan setelah melakukan itu, barulah mereka tidur.
.
Hampir jam sebelas siang Anaya baru bangun, itupun karena Devan yang membangunkannya.
"Kau tak ke kantor lagi, "tanya Anaya pada Devan yang sudah beberapa hari ini tidak berangkat kerja.
"Besok, "singkatnya.
Mana mungkin Devan berangkat kerja dan meninggalkan Anaya yang masih terlihat kesulitan di rumah sendirian.
Seperti hari-hari lalu, hari ini Devan membantu Anaya mandi dan akan membantunya makan juga. Keduanya sudah sama-sama mulai terbiasa dengan satu sama lain.
.
.
.
.
.
.
.