
"Hei, bangunlah!! "Devan yang baru keluar dari kamar mandi menepuk wajah Anaya yang masih tidur begitu pulas.
Anaya menggeliat dan mulai membuka matanya yang terpejam, ketika merasakan telapak tangan dingin Devan yang menyentuh pipinya.
"Bangunlah! "Ucapnya lagi pada Anaya yang baru saja selesai mengumpulkan nyawanya.
Hari ini Anaya bangun sedikit kesiangan, tapi semua ini juga gara-gara Devan. Karena pria itu menggempurnya habis-habisan, tadi malam.
"Tunggu sebentar, Dev. "
Anaya mengikat rambut panjangnya yang terlihat begitu acak-acakan dengan sembarang. Setelah itu baru mulai mengambil pakaian kerja untuk Devan kenakan.
Anaya menghampiri Devan yang duduk di atas tempat tidur yang terlihat begitu berantakan, bahkan sampai ada beberapa bantal yang tergeletak di lantai, karena jatuh dari atas kasur.
Ketika Anaya sudah membawakan pakaiannya, Devan melepaskan handuk yang melingkar di pinggangnya, menyisakan sebuah boxer yang sudah ia kenakan sebelumnya.
"Aku akan sarapan di rumah, "mendengar ucapan Devan, Anaya menjadi semakin terburu-buru. Ia membantu Devan berpakaian secepat mungkin, Anaya bahkan belum memasak apapun untuk pria itu, karena bangun kesiangan.
"Dev, bisakah kau merapikan rambutmu sendiri? "Bukannya Anaya tak mau membantu Devan, tapi ia ingin segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan sekarang.
Devan menatap Anaya dengan sebelah alis terangkat, "apa? Tidak bisa! "Tolaknya, enak saja Devan harus merapikan rambutnya sendiri. Padahal hari ini, hari terakhir wanita itu membantunya bersiap-siap, karena besok ia sudah tak disini lagi.
Anaya menghela napas mendengar jawaban Devan, semoga saja Devan nanti tidak terlambat, dan membuat orang-orang menunggunya.
Selesai membantu Devan berpakaian, Anaya langsung mulai merapikan rambut Devan yang terlihat masih sedikit basah dengan begitu telaten, meskipun ia sedang terburu-buru.
"Aku membuat sarapan dulu, "Anaya meninggalkan Devan yang berdiri di depan cermin, sembari memakai jam tangannya.
Ketika sudah memakai jam tangannya, Devan pun mengikuti Anaya ke dapur. Ia menatap Anaya yang terlihat sedang menggoreng telur, sungguh seksi sekali. Bayangkan saja, wanita itu hanya memakai tengtop yang ia kenakan ketika tidur tadi malam.
"Dev, "Anaya berusaha melepaskan tangan Devan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, "aku sedang memasak, Dev. "Ucapnya lagi, pada Devan yang tak kunjung melepas pelukannya.
"Kau sengaja menggodaku kan, bahkan kau tidak memakai baju mu"bisik Devan.
"Tidak, " Sanggahnya, Anaya sama sekali tak berniat menggoda Devan. Dirinya memang tidak memakai pakaiannya karena ia ingin cepat-cepat membuatkan sarapan, bahkan ia sampai tak sempat membenahi penampilannya sendiri karena sibuk mengurus Devan, pria yang sedang mengganggunya saat ini.
Devan diam saja, ia tak mengatakan sesuatu ataupun melepaskan pelukannya. Devan sama sekali tidak peduli dengan Anaya yang merasa terganggu, karena dirinya yang menempel di belakangnya. Kapan lagi Devan bisa memeluk wanita itu seperti ini, anggap saja pelukan ini sebagai pembekalannya untuk berangkat nanti.
"Dev, bisa kah kau melepaskannya. "Anaya yang sudah selesai memasak tak bisa kemanapun, karena Devan menahan tubuhnya.
"Kau harus segera sarapan, Dev. "Ucapnya lagi.
Seperti yang wanita berisik itu minta, Devan segera melepas pelukannya, "ck! Sepertinya kau sangat tidak sabar untuk melihat ku pergi! "Kesalnya yang kini sudah duduk di meja makan, dengan tangan yang bersedekap.
"Tidak, bukannya begitu ... Aku hanya tidak mau kamu terlambat. "Tutur Anaya pada Devan yang selalu berburuk sangka padanya.
"Alasan! "Tukasnya, sebelum memakan sarapan sederhana yang sudah disiapkan oleh Anaya.
.
Devan sudah selesai bersiap-siap, dan sekarang waktunya untuk pergi. Devan menggeret sebuah koper yang berisi pakaiannya, dengan Anaya yang mengikutinya dari belakang.
Ketika mereka keluar, terlihat sosok Bram yang sudah menunggu tuannya sedari tadi. Devan memberikan kopernya pada Bram, untuk memasukannya dalam mobil, karena ia masih ingin memberikan beberapa pesan pada Anaya, yang akan lepas dari pandangannya untuk beberapa hari.
"Kau masih ingatkan apa yang kukatakan tadi malam! "Tanyanya, yang mendapat jawaban anggukan kepala dari Anaya.
"Jangan macam-macam. "Jawabnya.
Devan sama sekali tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Anaya meskipun itu benar, "macam-macam seperti apa?! "Tanyanya lagi.
"Jangan bertemu dengan Ryan dan Robby. "Tidak mungkin Anaya melupakan ucapan Devan tadi malam, karena pria itu sudah beberapa kali mengatakannya.
"Baguslah kalau kau ingat, sekarang cium aku!! "Titahnya, membuat Anaya langsung melihat kepada Bram yang pura-pura tak mendengarkan pembicaraan mereka.
"Cepatlah! Nanti terlambat!! "Desaknya yang sudah tak sabaran.
Anaya mulai mendekatkan wajah mereka dengan kaki yang berjinjit, padahal Devan sudah membungkukkan tubuhnya. Tapi tetap saja masih terasa begitu tinggi bagi Anaya.
Anaya menempelkan bibirnya pada pipi Kiri dan kanan Devan secara bergantian, membuat Devan mengeluarkan senyumannya. Lucu sekali melihat wanita pendek itu menciumnya, dengan wajah yang memerah karena malu.
Devan mengelus pucuk kepala wanita itu sebelum kemudian mencium keningnya, "aku berangkat, "pamitnya.
"Jangan lupa dengan apa yang kukatakan! "Ucapnya lagi sebelum masuk kedalam mobil.
Bram yang sudah masuk kedalam mobil lebih dulu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia baru tahu, jika tuannya bisa berprilaku seperti itu pada sorang wanita. Sepertinya tuan Devan sudah terpikat dengan pesona istrinya, yang memang begitu cantik.
Ketika mobil mulai dijalankan, Anaya melambaikan tangannya. Devan yang melihat itu hanya bisa terkekeh, melihat Anaya yang terlihat seperti sorang anak kecil dengan perut besarnya. Manis sekali, baru kali ini ia mendapat lambaian tangan yang terlihat begitu menggemaskan seperti itu.
Saat mobil yang membawa Devan sudah tak terlihat, Anaya kembali masuk kedalam rumah. Dirinya masih memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Apalagi jika mengingat begitu berantakannya kamar mereka.
.
Anaya yang baru selesai dengan pekerjaan rumahnya, duduk di sofa di dalam kamar sebentar. Ia ingin mengurangi rasa panas ditubuhnya dulu sebelum masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang begitu berkeringat.
Drttt ...
Drttt ...
Anaya bangkit mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, samping tempat tidur. Ketika sudah membaca nama orang yang menelponnya, Anaya dengan cepat menyentuh tanda hijau yang tertera disitu.
"Apa sekarang kau diluar! Kenapa pesan ku tak dibalas!! "Bahkan Anaya belum sempat mengatakan halo, tetapi Devan sudah lebih dulu menghujani dengan kata-katanya yang terdengar begitu keras dari seberang sana.
"Tidak, Dev. Aku tadi sedang bersih-bersih. "Anaya sama sekali tidak tahu, jika Devan ada mengirim pesan padanya, karena ia memang sangat sibuk membereskan rumah.
Devan yang merasa tak percaya langsung mengubah panggilan biasanya, menjadi vidio call. Ia tak akan puas sebelum melihat dimana keberadaan wanita itu sekarang.
"Dimana kau?! "Kini mereka sudah beralih menjadi vidio call.
"Di rumah, "
Devan yang masih belum juga puas, menyuruh Anaya untuk mengalihkan kameranya, menjadi kamera belakang. Memperlihatkan sebuah tempat tidur yang biasa, mereka pakai tidur berdua.
"Jika aku menelpon atau mengirim pesan, langsung angkat dan balas! "Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban dari Anaya. Devan langsung mengakhiri panggilannya.
.
.
.