
Devan mengunjungi Apartemen Arvin, yang dulu pernah sering ia kunjungi sewaktu dirinya masih lajang dan ketika baru-baru menikah.
Devan datang bersama dengan Robby, sahabatnya yang suka sok dekat dengan Anaya. Mereka berdua datang karena penasaran dengan anak yang baru Arvin bawa ketika teman mereka itu sedang melakukan liburan kemarin.
Mereka yang sudah hafal dengan pin apartemen Arvin langsung saja memasukan nomor pin nya. Ketika pintu sudah di dorong, dan mereka mulai masuk ke dalam apartemen.
Mereka berdua langsung melihat seorang bocah yang sedang duduk di depan tv sambil menonton acara kartun.
Robby membulatkan matanya, lalu mengalihkan pandangannya pada Devan yang berdiri di sebelahnya.
"Ku kira dia hanya bercanda, "gumam Robby.
Ketika Arvin memberitahunya kemarin, Robby pikir Arvin hanya sedang main-main dengan ucapannya, seperti yang biasa teman laknatnya itu lakukan.
Devan yang juga tak bisa berkata-kata melihat pemandangan yang menyambutnya ketika baru masuk ke dalam apartemen. Benar saja, meskipun hanya melihat sebentar anak yang Arvin tabrak kemarin, tetapi Devan masih ingat jelas dengan wajahnya. Dan itu adalah wajah anak yang kemarin Arvin tabrak, pantas saja om Arman menanyakan prihal anak itu kepadanya kemarin.
"Kalian sudah datang! "Arvin baru saja keluar dari kamar mandi, karena tadi ia sedang sakit perut.
"Kau benar-benar membawanya! "Devan menunjuk kearah anak laki-laki yang melihatnya dengan takut.
Robby melirik anak laki-laki itu, kemudian beralih pada Arvin, " gila kau, Vin! "Hanya itu yang bisa Robby katakan.
"Bagaimana dengan orang tuanya? "
Arvin menatap Devan yang menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya, "sebelum membawanya aku sudah menyelidikinya, orang tuanya sudah meninggal. Dan dia hidup luntang-lantung di jalanan, karena kasihan jadi ku bawa pulang. "Jelas Arvin, ia saja begitu kaget ketika mengetahuinya fakta itu. Pantas saja anak itu keluyuran dijalan ketika tengah malam, dan ketika di rumah sakit juga tak ada yang datang mencari atau menjenguknya.
"Lalu, apa kau mau merawatnya?"Robby menatap Arvin dengan tatapan tak percaya.
"Tentu saja, memangnya kenapa? "Bukankah sudah jelas ia membawanya untuk merawatnya.
Robby menghela napas berat, "kenapa kau bilang?! "Seorang Arvin ingin merawat seorang anak, yang benar saja. Bukannya Robby meremehkan niat baik sahabatnya, tapi hidupnya sendiri saja begitu tak terurus, dan sekarang temannya itu malah sok-sok kan ingin mengurus orang lain.
"Dan kalian harus membantuku merawatnya, "Arvin melempar senyum menyebalkan nya pada Robby juga Devan, "tidak mungkin aku bisa merawatnya sendiri ..., "ucapnya lagi, yang sadar akan ketidakmampuannya.
Benarkan, ujung-ujungnya pasti mereka akan ikut terseret juga. Sebelum datang kesini Robby sudah merasakan firasat buruk, "Temanmu itu, bagaimana menurutmu, Dev? "Kesal Robby.
"Entahlah, "Devan juga tidak tau harus bagaimana menanggapinya, mereka sama-sama tidak pernah berurusan dengan yang namanya anak kecil. Coba saja Arvin menabrak seorang gadis atau janda muda, pasti mereka akan sedikit lebih mudah dalam mengurusnya.
Devan melihat anak yang menatapnya dengan waspada, "umur berapa kau?! "Bukanya menjawab, anak itu malah terlihat semakin ketakutan dengan Devan.
"Enam tahun, "sahut Arvin, mewakili.
"Sok tau! "Tukas Devan.
"Kan aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya, "enak saja mengatai dirinya sok tau, padahal ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk mengetahui identitas maupun asal muasal anak itu. Walaupun, sebenarnya uang yang ia gunakan semuanya milik Devan.
Robby mendekati anak yang terlihat ketakutan itu, lalu berjongkok. "tidak papa, aku tidak menyakiti mu. "Tuturnya lembut.
"Apakah kamu menyukainya? "Robby menunjuk kearah Arvin yang berdiri.
"S-suka, "Anak itu mengangguk pelan, ia menyukai Arvin karena telah merawat dan juga memberikannya makanan.
"Kalau dia, bagaimana ...? "Robby merubah arah jari telunjuknya pada Devan.
Bocah laki-laki itu melirik Devan, setelah itu langsung menggelengkan kepalanya pelan. Dimatanya Devan terlihat sangat menyeramkan.
Puft ...!
Bwuwaha ... Ha ... Ha ...,
Mereka berdua sedang menertawai Devan sekarang, "gila kau, Robb!! "Arvin tertawa begitu kencang.
"Jika aku anak kecil, aku juga akan takut dengannya! "Robby berusaha menahan tawanya, mana mungkin ada anak-anak yang suka dengan wajahnya yang terlihat pemarah dan suka menatap tajam itu, belum lagi suaranya nya begitu keras. Anak-anak yang mendengarnya sudah pasti akan ketakutan.
"Cih! Diam lah!! "Devan kesal melihat mereka yang menertawainya.
"Dek, namanya siapa? "Robby kembali bertanya pada anak yang terlihat takut itu.
Sontak Robby dan Devan langsung menatap orang yang memiliki nama mirip dengan anak ini, "mengaku saja, ini anakmu yang kau sembunyikan, kan?! "Kenapa pas sekali nama mereka begitu mirip, hanya huruf A dan I saja yang membedakan nama mereka.
"Dasar gila! " Keterlaluan sekali, kemarin ayahnya, sekarang temannya juga ikut mencurigainya.
Setelah perkenalan singkat dengan anak itu, mereka meninggalkannya ke tempat duduk yang biasa mereka tempati ketika sedang berkumpul disitu.
"Apa kalian mendapatkannya? "Tanya Devan.
"Dapat apa? "Tanya Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang ada di tangannya.
"Undangan anniversary Dion dan istrinya. "
"Tentu saja, mana mungkin aku tidak mendapatkannya, "kalau soal pesta Arvin pasti begitu semangat dan tak pernah ketinggalan.
"Pesta, wanita dan minuman. Tidak ada yang lebih baik dari itu!! "Membayangkannya saja sudah membuat api di dalam tubuhnya berkoar, karena saking semangatnya.
"Kemana kau, Dev?! " Tanya Arvin pada Devan yang terlihat terburu-buru.
"Aku mau pulang, "
"Cepat sekali, "bukankah mereka baru saja duduk dan bercerita, tapi Devan sudah mau pulang saja.
Devan memperlihatkan jam yang tertera di layar ponselnya, "kau lihat kan? Bukankah kau harus menidurkan anak mu. "Ejek Devan, padahal jam baru menunjukan pukul delapan malam.
"Benar juga, kalau begitu aku juga pulang. "Robby mengikuti Devan, "jangan lupa, beri makanan pada anak itu. "Pesannya, melihat betapa kurusnya tubuh Arvan.
.
Devan yang baru tiba di rumah menemui Anaya yang terlihat sibuk menggantung beberapa kemejanya.
"Ada apa, Dev ...? "Tanya Anaya pada Devan yang terus melihatnya.
"Aku ingin mandi, ambilkan handukku. "Titahnya.
Ketika Anaya ingin membawakannya pada Devan, tiba tiba saja handuk itu jatuh kelantai.
Puft!
Hampir saja Devan menertawai Anaya yang terlihat lucu ketika dia sedang membungkuk karena perut besarnya yang terlihat mengganggu.
Ugh ... Bahkan wanita itu sampai mengeluarkan sedikit suara lenguhan, sebelum ia berhasil mengambilnya.
"Lambat, "ucap Devan yang hanya duduk diam menunggu Anaya, tanpa niat membantunya.
"Maaf, "padahal Devan juga melihat kalau dirinya sedang kesusahan.
Anaya duduk di atas tempat tidur di sebelah Devan, yang belum juga beranjak dari kamar mandi.
"Bukankah perutku terlalu besar? "Seingat Anaya, ketika kakaknya sedang hamil Kayla dulu, perutnya kakaknya tak sebesar miliknya.
"Hmm, "Devan menyeringai, "bukan hanya perut mu, tapi yang itu juga besar. "Ucapnya dengan tangan yang menunjuk dada wanita itu.
"Dev! "Anaya merasa malu, bisa-bisanya Devan menggodanya seperti itu. Walaupun, yang dikatakan Devan memang benar.
"Apa aku salah, hmm ...? "Bisiknya, sebelum pergi ke kamar mandi meninggalkan Anaya yang wajahnya sudah menjadi merah merona.
.
.
.
.